Wednesday, November 11, 2009

Pasar Burung Malang

Satu lagi pasar yang disebut-sebut sebagai daerah tujuan wisata di dalam buku petunjuk wisata Malang. Pasar Burung namanya. Pasar ini terletak di perjalanan kaki antara Balai Kota dengan Gereja Katedral, tepat di sebelah kanan jalan. Papan plang besar yang bertuliskan “Selamat Datang di Pasar Burung II Kodya Dati II Malang” tampak di sisi kanan jalan. Kalau ada Pasar Burung II, artinya ada Pasar Burung I donk? Konon, Pasar Burung I ada di sisi seberang dalam sana, tapi saya nggak sampai memeriksanya juga sich.
Pasar burung ini adalah sejenis bangunan yang menyemut sporadis dari sisi jalan ke arah kali ke bawah sana. Jadi, sambil melintasi pasar ini, anda akan melihat ada banyak sekali bangunan bata bersusun berdiri di sisi kanan dan kiri jalan yang menuju ke kali di bawah sana. Berhubung saya melintasi pasar burung ini pada saat hari hampir menjelang petang, maka saya tidak banyak mendapatkan informasi kegiatan apapun yang berkaitan dengan per-burung-an. Walau demikian, saya mendapati sejumlah bapak-bapak yang mengangkut kandang burungnya baik untuk merapikan atau baru saja membeli. Ada sejumlah motor yang mengangkut beberapa buah kandang burung. Keramaian masih terjadi di sekitar jembatan yang membelah Kali Brantas. Beberapa pemilik masih mengurusi burungnya di seputaran jembatan tersebut. Di sore hari ini saja masih terdengar kicauan burung-burung yang berada di pasar ini. Kalau pagi hari mungkin ceritanya akan lebih seru lagi kali yach? Pastinya suara kicauan akan bersahut-sahutan menyambut saya yang berjalan melintas pagi. Hehe…

Tuesday, November 10, 2009

Monumen Tugu Di Jantung Kota Malang

Ini bundaran paling terkenal se-Kota Malang. Bundaran ini terletak tepat di tengah-tengah kota, dekat dengan stasiun dan dikelilingi taman serta gedung-gedung era kolonialisme yang difungsikan menjadi bangunan militer dan pusat pemerintahan serta sekolah. Bundaran ini adalah suatu taman terbuka yang bisa dikunjungi siapa saja, gratis. Pintu masuknya ada di beberapa sudut. Bundaran ini dipenuhi oleh bebungaan berwarna-warni dan koleksi tanaman hias taman yang menarik. Atraksi utamanya tentu saja bukan bebungaan atau tanaman hias tersebut. Di tengah-tengah bundaran ini ada sebuah kolam teratai besar (sempatkan waktu untuk mengunjungi taman ini di pagi hari, sebelum pukul 10 dan saksikan ratusan teratai mekar di kolam ini!) . Di tengah-tengah kolam teratai tersebut ada sebuah tugu yang berbentuk seperti lingga (dalam bahasa jaman kerajaan hindu di Indonesia dulu, lingga artinya –maaf-penis). Bentuk-bentuk ini banyak dipakai di banyak tugu di Indonesia, salah duanya tentu saja adalah Monumen Nasional di Jakarta dan Monumen Mandala di Makassar.
Ada tulisan tentang monumen ini namun saya tidak dapat membacanya karena terlalu kecil dan terletak di bagian pedestal monumen tersebut. Satu hal, monumen ini bernama Monumen Tugu. Entah berkaitan dengan hotel yang terbangun di luar sisi bundaran (Hotel Tugu) atau justru sebaliknya, mungkin ada yang bisa memberi penjelasan? Taman ini ramai dikunjungi oleh warga yang ingin berjoging pagi, bersantai sambil membawa anak-anak, penjual makanan dan orang yang berpacaran. Banyak sekali tempat duduk dari batu yang disediakan di seputaran taman ini untuk mengakomodir kebutuhan tersebut. Sayangnya, jangan harap bisa mengunjungi monumen ini di siang hari. Walaupun sekeliling taman ditumbuhi banyak sekali tanaman peneduh yang berukuran besar, namun di tengah-tengah taman sama sekali kosong tanpa keberadaan tanaman peneduh. Pasti akan sangat panas sekali berada di tengah-tengah taman pada siang hari bolong.
Monumen yang paling sering dijadikan ikon Kota Malang ini mudah dicapai terutama dari stasiun. Dari stasiun, silahkan berjalan kaki lurus saja menyusuri jalan yang ada patung Proklamasi (Jalan Kertanegara). Patung ini berwarna perunggu dengan puluhan orang mulai dari tentara hingga ibu-ibu merobohkan sosok jin besar (Buto Kolo kah?) bermata besar menonjol yang tampaknya digambarkan sebagai sosok penjajah Bangsa Indonesia. Tepat di sudut berlawanan jalan ini, disanalah terdapat Monumen Tugu. Buat saya, bundaran ini adalah bundaran paling asri se-Kota Malang. Berkat bundaran ini dan bangunan-bangunan besar di sekelilingnya (plus jalanan lebar dan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun yang terawat rapih), saya langsung jatuh cinta sama kota ini. Penduduknya pun tidak terlalu banyak dan terburu-buru. Tampaknya, asyik sekali bisa tinggal di Malang.

Monday, November 09, 2009

Stasiun Malang

Stasiun Malang adalah salah satu stasiun besar yang ada di Pulau Jawa jalur selatan. Stasiun ini menjadi destinasi utama bagi kereta Gajayana yang berangkat dari Jakarta. Dari Stasiun Malang, kita bisa bergerak ke banyak kota di Jawa, sebut saja Banyuwangi, Jember, Blitar, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Purwokerto dan Bandung.
Kalau bepergian dari manapun ke Kota Malang, pilihan naik kereta adalah sesuatu yang cukup menyenangkan sebenarnya. Kenapa? Berbeda dengan terminal bus dan airport (apalagi pelabuhan! –Malang terletak di tengah gunung, jauh dari laut!-) yang terletak agak jauh di luar atau pinggiran kota, stasiun Malang terletak tepat di tengah kota. Kalau dari airport atau terminal, kita perlu naik satu atau lebih kendaraan supaya sampai tengah kota, dengan stasiun, voila, anda sudah berada di pusat kota. Dari stasiun, anda bisa dengan mudah berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan anda di pusat kota.Stasiun Malang, sebenarnya hampir sama dengan produk-produk cagar budaya lainnya di Kota Malang. Dari arsitekturnya, kita sudah bisa menebak bahwa bangunan ini adalah sisa peninggalan jaman kolonialisme Belanda. Tulisan MALANG besar-besar terpampang di atas bangunan utama gedung tersebut. Di bawahnya, ada sebuah jam dinding besar yang bisa menjadi acuan jam bagi warga sekitar. Sayang beribu sayang, papan reklame salah satu produk rokok terpampang besar-besar di atas tulisan MALANG tersebut. Papan reklame tersebut jauh dari kesan kuno dan antik. Papan reklame tersebut jelas-jelas dibuat dengan sangat modern, terlebih warna-warna dan desainnya. Buat saya, rusaklah sudah kesatuan desain seluruh bangunan tersebut. Terima kasih banyak untuk papan reklame!
Stasiun Malang sendiri konon adalah stasiun baru. Stasiun lama Malang terletak tidak jauh dari tempat stasiun baru ini berdiri, hanya berbeda gang, istilahnya. Tapi, sekali lagi terlihat dari bangunannya, pemindahan tersebut pastilah sudah berlangsung cukup lama. Uniknya, di beberapa peta wisata Kota Malang, stasiun lama masih tercantum sebagai salah satu objek kunjungan.
Bangunan utamanya sendiri berisi tempat penjualan tiket dan pemeriksaan karcis saja. Di dalam bangunan tersebut, hanya ada sebuah warung serba ada dan ruangan yang lebar dan kosong. Akibatnya, banyak orang menunggu dan duduk-duduk di bangunan tersebut karena tidak mau membayar biaya peron. Di sebelah bangunan utama, terdapat ruangan reservasi dan pemesanan tiket. Ruangan ini berisi banyak sekali bangku dan di ujung, terdapat ibu-ibu yang mencetak tiket reservasi. Kebetulan, saya memang membeli tiket Kereta Api Malang Express, sehingga tiket memang dijual di tempat ini. Kalau kelas ekonomi mungkin tidak dibeli di ruang ini kali yach? Di ruangan ini beberapa orang tampak bersantai dan tidur-tiduran. Bukan ruangan yang nyaman juga untuk menunggu walaupun bangkunya banyak.
Selepas memasuki peron, kereta terbagi menjadi beberapa lajur. Lajur 1 umumnya digunakan untuk kereta eksekutif. Kereta ekonomi terletak di lajur yang agak jauh sebelah sana. Ternyata, di bagian dalam peron ada banyak sekali warung makan, kios majalah, dan warung oleh-oleh dan makanan khas Malang. Anda mempunyai banyak pilihan sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta api.
Seperti stasiun-stasiun pada umumnya, nomor telepon yang bisa dihubungi pada kenyataannya sukar untuk dihubungi. Anda boleh saja menelepon stasiun ini dan berharaplah ada yang mengangkat panggilan anda. Kebetulan, karena saya berlokasi tidak jauh dari stasiun, daripada menelepon dan berharap kosong, saya lebih memilih untuk berjalan langsung ke stasiun guna mengecek harga dan jadwal. Untuk anda yang berada di Malang dan ingin menuju Surabaya, kereta api non ekonomi hanya akan berangkat pada pukul 05.10 dan 13.15. Sementara itu, dari Surabaya, apabila anda ingin menuju Malang, kereta akan berangkat pada pukul 10.00 dan 17.00. Harga tiketnya Rp 15.000. Untuk kereta ekonomi Panataran, jadwalnya lebih sering. Kereta akan berangkat pada pukul 04.35, 08.35, 09.35, 12.35, 15.40, dan 19.45 dari Malang ke Surabaya. Harga tiketnya pun murah meriah, hanya Rp.4.500.

Saturday, November 07, 2009

Kelenteng En An Kiong di Ujung Pasar Besar Malang

Masih satu rute dengan Pasar Besar Malang, Kelenteng Eng An Kiong ada di jalur jalan yang sama dari alun-alun menuju ke Terminal Gadang. Nggak jauh dari Pasar Besar Malang, tinggal berjalan sekitar beberapa ratus meter saja, kelenteng ini sudah muncul di perempatan jalan. Sama seperti Pasar Besar Malang, Kelenteng En An Kiong ini disebut-sebut dalam buku panduan wisata untuk Kota Malang.
Di sekeliling kelenteng suasananya memang lebih cenderung pecinan dibanding era kolonialisme. Bangunan-bangunan bergaya chinese tampak di kiri dan kanan jalan termasuk ruko-ruko yang saya lewati selepas Pasar Besar Malang. Di depan kelenteng sendiri ada sebuah kios kaki lima yang menjual berbagai pernak-pernik berbau perayaan imlek namuan yang tampak hanyalah kepala barongsai saja. Tapi sayang, suasana yang terbangun hanya sebatas itu saja, kios kaki lima tersebut hanya satu buah saja.Seperti kelenteng pada umumnya, warna merah dan kuning mendominasi sekitar kelenteng. Gapuranya yang berukuran besar berhias naga terlihat megah. Sayang, saya nggak memaksakan diri untuk masuk ke dalam kelenteng karena tampaknya di dalam kelenteng sedang ada perayaan atau sedang melakukan suatu perhelatan. Hal ini tampak dari banyaknya kendaraan yang diparkir di dalam halaman kelenteng. Tambahan lagi, ada satpam yang berjaga di depan kelenteng, membuat saya makin jiper untuk masuk ke dalam kelenteng. Alhasil, saya hanya mengamati kelenteng dari depan saja dech. Untuk para wisatawan bule, mungkin melihat kelenteng ini sebagai suatu atraksi wisata budaya yang unik kali yach? Tapi, buat saya yang hidup dalam kebudayaan Cina dan cukup sering berjalan-jalan ke daerah Glodok di Jakarta, kelenteng menjadi sesuatu yang agak biasa untuk saya. Hehehe…

Friday, November 06, 2009

Kelilingan Pasar Besar Malang

Bangunanya sich hanya satu buah, lokasinya dekat dengan Kelenteng Eng An Kiong dan Terminal Gadang. Tulisannya jelas : Pasar Besar Malang terpampang jelas di depan gedung pasar tersebut. Namun, dalam perkembangannya, pasar tersebut melebar kesana kemari sehingga saat ini, kita bisa melihat banyak sekali toko, ruko, pedagang kaki lima dan bangunan pasar tumbuh dan berkembang di sekeliling pasar ini. Dalam banyak buku travel, Pasar Besar Malang ini disebut-sebut sebagai salah satu sight and activities alias spot-spot menarik yang bisa dikunjungi dan tempat untuk berfoto-foto tentunya. Apa pasal?
Pasar Besar Malang dan wilayah sekelilingnya adalah wilayah yang tumbuh dan berkembang bersamaan dengan tumbuhnya Kota Malang. Jadi, anda sudah bisa menebak donk, kalau desain dan arsitektur wilayah sekitar pasar bergaya Belanda dan kuno. Beberapa bagian dari apasar ini ada yang bergaya pecinan namun dominasi terbesar masih gaya Belanda. Kalau anda menyembatkan diri melihat-lihat di sekitar wilayah ini, anda akan menemukan banyak sekali papan-papan reklame, plang nama dan merek yang berusia cukup tua, di atas dua puluhan tahun. Bahkan terkadang, ejaan yang digunakan ada yang masih menggunakan ejaan lama. Tuanya reklame dan papan plang nama dan merek ini juga bisa terlihat jelas dari model reklame yang dipergunakan, desain dan bentuk-bentuk yang digunakan. Jadul abis intinya. Saya berwisata nostalgia disini. Untungnya, walaupun beberapa bangunan tampak berlumut dan kurang terawat, secara umum kondisi Pasar Besar Malang ini masih cukup dikatakan baik. Banyak spot-spot yang bisa dijadikan nostalgia, masih berdiri dengan tegak hingga sekarang. Rumah dan ruko yang berdiri di tempat ini sebagian besar masih merupakan warisan dari jaman kolonialisme Belanda.
Di pasar ini, selain barang-barang ‘umum’ yang disajikan, seperti pakaian, makanan dan minuman, ada juga barang-barang antik seperti lukisan, mainan elektronik dan balon. Makanan yang kebanyakan dijual disini juga merupakan khas Malang, misalnya saja pia kacang dan kue-kue jajanan pasar lainnya. Ada sebuah rumah bergaya Chinese yang terletak di dekat Pasar Besar Malang, namun bagian depannya tertutup oleh para pedagang lukisan walaupun sebenarnya pintu gerbangnya terbuka. Oleh karena hal tersebut, saya tidak jadi memasuki rumah yang sangat mengundang tersebut. Rumah tersebut sangat mengundang karena arsitekturnya dan keunikan modelnya. Sayang sekali saya tidak masuk karena belakangan saya baru tahu, rumah tersebut adalah Museum Bentoel. Sayang juga, mengapa tidak diletakan satu papan nama atau apapun yang menyatakan bahwa rumah tersebut adalah museum? Saya kelewatan satu spot penting disini.
Ada beberapa nama toko yang membuat saya terheran-heran. Salah dua diantaranya adalah Gadjah Mada Plaza dan Sogo. Dua hal tersebut ada di deretan Pasar Besar Malang ini. Gadjah Mada Plaza di tempat ini tampaknya adalah sebuah department store yang menjual berbagai macam pakaian sementara Toko Sogo adalah toko yang tampaknya menjual kacamata (terlihat dari logonya) namun pada saat tersebut, tokonya sedang tutup. Seperti biasa, karena saya hanya melihat-lihat saja, maka saya tidak sampai masuk ke dalam lingkungan pasar. Beberapa toko lainnya bernama sedikit bernuansa narsis seperti Ika, Pododjodjo, Platina, dan Miramar serta Idhi Boeyoet.
Pasar Besar Malang bisa dicapai dengan banyak cara. Kalau anda dari alun-alun, cara terbaik mengunjungi pasar ini adalah dengan berjalan kaki kurang lebih sejauh 1 kilometer. Perjalanan tersebut tidaklah jauh sama sekali mengingat sambil berjalan, anda bisa melihat banyak bangunan menarik bergaya jadul di kiri dan kanan jalan. Pasar ini bisa dicapai dengan berjalan kaki ke arah selatan dari alun-alun, tinggal mengikuti deretan ruko dan toko di sepanjang jalan. Becak bisa menjadi alternatif lain mengingat banyak sekali becak berseliweran di jalan tersebut hingga Pasar Besar Malang. Berulang kali saya ditawari naik becak oleh bapak-bapak penarik becak tersebut. Namun saya hanya membalasnya dengan gelengan lemah bahwa saya tidak berminat naik becak. Saya suka berjalan kaki. Padahal, naik becak disini tidak terlalu mahal, palingan sekitar Rp.3.000 saja.
Alternatif terakhir adalah dengan menaiki angkutan umum yang tentu saja banyak melintasi pasar ini. Kode untuk angkutan yang melintasi pasar ini adalah G alias Gadang. Terminal Gadang adalah terminal yang berada di ujung rute yang melewati Pasar ini. Jadi, misalnya AG=Arjosari Gadang akan bergerak dari Arjosari menuju Gadang dan tentu saja melewati pasar ini. Angkutan umum harganya Rp. 2.000-Rp.3.000 sekali jalan.

Thursday, November 05, 2009

GPIB Immanuel Malang, Bangunan Antik Dari Masa Silam

Tepat di sisi sebelah barat laut alun-alun Kota Malang, ada sebuah gereja besar yang mencolok keberadaannya dan berada di huk jalanan. Dari Monumen Sejarah Perjuangan KNIP, gereja ini terlihat sangat jelas dan mencolok. Bagaimana tidak mencolok? Gereja tersebut berukuran besar (hampir menyerupai Gereja Katedral Malang) dan arsitekturnya bergaya Belanda.
Gereja ini adalah GPIB (Gereja Pantekosta Indonesia Barat) Immanuel. Sayang, tidak ada informasi kapan gereja ini terbangun pertama kali. Yang agak mengejutkan pun, di internet jarang sekali ada postingan atau informasi mengenai tahun berdirinya gereja ini. Namun, apabila kita menilik dari kondisi fisik dan arsitektur yang digunakan, kita bisa menilai bahwa gereja ini hampir setua Gereja Katedral Malang. Siang itu, tidak tampak adanya kegiatan gerejawi berlangsung di seputar gereja. Akhirnya, saya hanya berkeliling gereja saja sambil mencari spot-spot menarik untuk diabadikan. Sayangnya, sisi gereja yang berbatasan langsung dengan jalan raya tidak menyisakan banyak sudut untuk difoto. Trotoar di pinggir yang tersisa hanya sedikit sekali untuk keperluan orang berjalan. Hanya ada sebuah pintu kayu besar yang tampak sudah tua yang cukup menarik untuk difoto. Sisanya, kurang menarik untuk difoto. Satu hal menarik dari gereja ini adalah pucuk menara gereja ini yang khas dan mengingatkan akan gereja-gereja pada abad pertengahan. Sayang, cukup sulit berfoto dengan pucuk gereja ini karena gereja ini hampir tidak memiliki halaman atau pelataran tempat saya bisa berfoto dengan santai (mungkin harus ke Alun-Alun Kota Malang dulu kali yech?). Beberapa kali saya harus turun ke trotoar untuk berfoto dan langsung diberi hujaman klakson berkali-kali oleh para pengendara kendaraan baik motor ataupun mobil. Maklum, jalanan di sebelah gereja adalah jalanan satu arah sehingga arusnya deras dan debit kendaraannya banyak sekali. Sayang sekali lagi sayang, saya nggak berhasil masuk ke dalam gereja untuk bisa menceritakannya kepada anda. Mungkin anda bisa melanjutkannya?

Wednesday, November 04, 2009

Bersantai Sejenak di Alun Alun Malang

Seperti kota-kota pada umumnya yang hidup dan berkembang dari kanvas putih, dilukis, dicorat-coret, kemudian sempurna, keberadaan alun-alun adalah penting. Alun-alun menjadi bagian penting dari perkembangan suatu kota karena di alun-alun inilah biasanya suatu kota berpusat. Perlahan, bangunan dan kehidupan mulai tumbuh dan menyebar di sekeliling alun-alun ini. Alun-alun bisa berbentuk apa saja namun yang paling umum adalah lapangan besar. Ada alun-alun lain yang berbentuk pasar tempat dimana orang berjualan dan pembeli berdatangan. Ada pula alun-alun yang asalnya adalah halaman suatu istana atau pusat kerajaan. Umumnya, alun-alun hanya dikenal dalam kebudayaan Jawa walaupun dapat ditemukan pula di daerah lain namun dengan nama berbeda.
Alun-alun Kota Malang adalah suatu lapangan besar yang terletak di tengah kota. Alun-alun ini berumur sudah cukup lama, sejalan dengan perkembangan Kota Malang. Hal ini terlihat dengan jelas melihat pepohonan besar yang tumbuh di beberapa titik alun-alun. Anda tidak akan bisa memeluk pohon besar tersebut seorang diri. Usianya mungkin sudah ratusan tahun. Di alun-alun ini, anda bisa melihat segala macam penduduk Kota Malang yang berekreasi, duduk mengobrol, menikmati makanan hingga berolahraga ringan di sekitarnya. Kalau anda mau berinteraksi dengan orang Malang, ke alun-alun Malang lah jawabannya. Alun-alun ini dikelilingi oleh gereja, masjid, bank, hotel, kantor pos, dan pertokoan serta Malang Tourist Information Center. Ya, selain ada di depan Katedral Malang, Tourist Information Center juga ada di sisi timur alun-alun ini. Di sekeliling alun-alun ini ada banyak sekali toko oleh-oleh dan makanan khas Malang yang berjualan. Kebanyakan sich menjual keripik khas Malang. Kalau memang ada waktu lebih, sempatkan waktu untuk bersantai sejenak di alun-alun ini sambil berinteraksi dengan warga kota ini tentunya.