Thursday, November 26, 2009

Nikmatnya Air Terjun Coban Rondo

Beberapa kilometer keluar Kota Batu, masih di bus yang sama menuju Kediri, setelah kanan dan kiri jalan berubah menjadi pegunungan dan jalan berkelok-kelok, akhirnya sang kenek berkata “Coban Rondo”. Senyum saya pun terkembang. "saya sampai!", begitu kata saya dalam hati. Dari pintu masuk Songgoriti, Coban Rondo ini tidak terlalu jauh, hanya sekitar 5 kilometer tepat di sebelah kiri jalan.
Saya turun di sebuah pertigaan (atau perempatan?) jalan yang kecil. Jalan utama yang menghubungkan Batu dan Kediri memang besar. Namun, dua percabangan lainnya berukuran kecil. Walau kecil, tapi gapura Selamat Datang di Wana Wisata Air Terjun Coban Rondo berwarna kuning sangat mencolok di atas jalan kecil tersebut (nggak terlalu kecil juga sich, dua mobil bisa masuk sekaligus koq). Di sekeliling jalan masuk tersebut banyak banget ditemukan plang iklan Air Terjun Coban Rondo. Harusnya, anda nggak mungkin tersesat ketika mencapai tempat ini. Tempat ini sangat…err…apa yach? Sangat Coban Rondo dech! Hehe…
Ada patung seorang mbok-mbok pemerah sapi dan dua ekor sapi jenis Frisien Holstein (itu loh, sapi belang-belang hitam putih yang menghasilkan susu alih-alih daging). Patung ini berada tepat di tengah-tengah perempatan tersebut. Identitas Pujon sebagai kecamatan penghasil susu di Malang (atau Jawa Timur?)begitu kentara dengan patung sapi dan pemerahnya ini. Jangan lupa untuk berfoto-foto di depan patung sapi ini sebelum masuk ke dalam tempat wisata.
Nah, permasalahan berikutnya adalah menuju Air Terjun Coban Rondo. Jalan masuknya berjarak 4 kilometer dari gapura awal tempat saya berfoto dengan sapi tersebut. Tidak ada angkot yang menuju ke dalam sama sekali (kata beberapa orang sich ada, tapi itu harus 'dibayar' dengan menunggu hampir seharian penuh untuk mendapatkan angkot tersebut). Mau naik colt pengangkut sayur biar hemat? yakin? Siap bergumul bersama kol, sawi, bayam dan kangkung? Yakin nggak ketemu ulet? hiyyyyy....Tentu saja, selalu ada pilihan yang logis disini. Satu-satunya jasa pengangkutan dari Air Terjun Coban Rondo ke jalan raya Batu-Kediri adalah dengan ojek(kalau anda nggak punya mobil sendiri). Jangan kuatir, ojek tersedia disini dalam jumlah cukup. Tarifnya pun resmi, ada plang yang bertuliskan tarif ojek sekali jalan keluar/masuk objek wisata, Rp. 10.000. saya sudah coba nawar-nawar tapi bapak-bapak tersebut tetap bertahan dengan harga mereka. Yah, saya maklum lah, mungkin inilah satu-satunya mata pencaharian mereka. Kalau nggak ada yang pakai, mungkin mereka hanya duduk-duduk berjaga saja di pos ojek tersebut. Kasihan juga sich. Alhasil, saya bersama teman saya menaiki ojek dengan harga masing-masing Rp. 10.000 untuk sekali masuk ke Coban Rondo.Jalan masuk menuju Coban Rondo ternyata indah. Kalau saja waktu saya tidak terbatas, saya mau banget berhenti sejenak untuk berfoto-foto di banyak titik yang menurut saya indah. Ada pemandangan hutan pinus yang dingin, pemandangan Kota Batu dari ketinggian (karena sepanjang jalan yang dilalui adalah tanjakan, jadi posisi saya saat ini berada lebih tinggi daripada Kota Batu), gerobak pengangkut jerami pakan ternak, dan banyak lainnya yang memanjakan mata anda. Jalan masuknya nggak bisa dibilang sepi juga. Ada beberapa orang wisatawan yang lalu lalang di ruas jalan ini walaupun buat saya, lebih banyak petani dan peternak yang mencari pakan disini (petaninya sedang membawa arit buat memotong pakan rumput...hiyyyy). Setelah berkelok-kelok melalui jalan dengan pemandangan indah, akhirnya sampai juga di pos tiket. Bapak ojek tersebut ngasih kejutan buat saya. Tiket masuk cukup bayar satu orang saja karena saya ambil paket dua orang…hahaha…buy one get two donk kalau begitu? Sudah kayak kartu kredit aja nich bapak. Jadi, tiket masuk taman wisata Rp. 8.000 itu hanya di-charge untuk satu orang saja. Sebenarnya itu sudah murah sih dan saya belakangan berpikir, kalau hal-hal seperti itu dipangkas dan tidak masuk ke pengelola, mereka akan hidup dari mana yach untuk membiayai operasional taman wisata ini? Bukankah pengelolaan taman wisata ini butuh biaya besar untuk, misalnya : kebersihan dan perawatan? Namun, atas nama penghematan budget selama menjadi seorang petualang, saya hanya bisa berkata dalam hati, “terpujilah engkau wahai Bapak Ojek diantara para malaikat di surga” hehehe…
Akhirnya, sampai juga di Coban Rondo bagian dalam. Bapak ojek menurunkan saya dan teman saya di tempat parkir dan langsung menawarkan untuk menjemput balik. Saya sebenarnya kurang sreg juga kalau harus menentukan jam kepulangan, namun mengingat saya tidak memiliki kendaraan untuk keluar sama sekali, akhirnya saya memutuskan, waktu dua jam adalah sangat cukup menikmati keindahan air terjun ini. Bapak tersebut tampaknya sangat antusias untuk menawarkan jasa kepulangan kami. Mungkin, kalau tidak ada kami, jarang juga turis yang keluar masuk memanfaatkan jasa bapak ojek tersebut. Kasihan.
Saya sampai di sebuah pelataran objek wisata yang sepi. Turis hanya tampak berlalu lalang segelintir saja. Mungkin saya datang di luar musim kunjungan wisatawan? Namun, untunglah kami bukan satu-satunya wisatawan di tempat ini. Tepat di kanan saya, ada sederetan rumah makan dan kios yang memanggil-manggil saya dan rekan untuk menikmati makan siang di tempat itu. Saya tersenyum dan mengatakan nanti saja. Lah wong perut saya belum laper koq. Di sebelah rumah makan tersebut ada toilet. Sementara itu, di sisi kiri saya ada satu kios souvenir Coban Rondo yang menjual berbagai pernak pernik seperti syal, produk dari batok kelapa hingga gantungan kunci dan kaos. Ada pula beberapa rumah makan yung tutup. Entah tutup selamanya atau tutup karena bukan musim kunjungan wisata. Yuk, mari, kita menyambangi air terjun ini dengan berjalan sekitar 500 meter ke arah dalam.
Jalan menuju air terjun cukup baik, ada banyak tempat yang bisa digunakan untuk berfoto-foto. Salah satunya adalah jembatan kecil dengan air sungai gemericik. Ada banyak tanaman unik dan ajaib disini. Misalnya saja pucuk pohon pakis yang menggulung menyerupai pohon pada jaman purba. Halah…kayak pernah hidup di jaman purba ajah. Haha…sepanjang jalan masuk kita akan menjumpai banyak sekali informasi yang berkaitan dengan air terjun dan legenda yang menyertainya. Selain informasi air terjun, anda juga akan melihat papan petunjuk proses geomorfologi terbentuknya air terjun Coban Rondo ini.Air terjun ini memiliki ketinggian 84 meter dan berada pada ketinggian 1135 meter di atas permukaan laut. Anehnya, saya tidak merasa udara di tempat saya berpijak ini berhawa dingin. Masih cukup panas. Air terjun Coban Rondo memang berarti air terjun janda. Coban artinya Air Terjun, dan Rondo artinya Janda dalam bahasa Jawa. Air terjun ini mengucur indah dari ketinggian di atas tebing sana. Begitu teman saya melihat air terjun ini ia langsung berdecak kagum dan membuang semua keragu-raguannya. Maklum, sebelumnya ia sempat ragu, bukankah semua air terjun sama saja? Ramai sesak pengunjung, berukuran kecil, debit airnya kecil dan tidak menarik? Ternyata, semua prediksi itu berhasil dipatahkan oleh Air Terjun Coban Rondo ini. Air terjun ini benar-benar menarik dan indah. Debit airnya pun deras dan sekelilingnya tertata rapi. Banyak tempat untuk berfoto-foto di areal ini. Kalau anda berani mencoba, rendamlah kaki di sungai yang merupakan aliran dari air terjun ini (Sungai Cemoro Dudo bukan sich?). Nikmatilah air beku yang bisa membuat kaki anda mati rasa. Dijamin, semua stres dalam hidup akan hilang dan anda kembali segar. Airnya benar-benar air pegunungan asli yang dinginnya sampai menyengat dan bikin kaki beku. Banyak banget orang yang bermain-main diantara batu diantara sungai sambil mencelupkan kakinya di sungai tersebut. Buat yang nggak mau berbasah-basahan, main ke kaki air terjun aja sambil mendaki tangga kecil untuk mendapatkan view yang lebih menarik. Berhubung air terjun ini adalah air terjun besar, maka nggak heran kalau debit airnya juga besar dan hempasan angin yang dihasilkan juga besar. Dalam sekejap, tubuh saya dipenuhi oleh tetes-tetes air hasil hempasan angin dan air yang jatuh dari air terjun tersebut. Aaah…Inikah hidup?
Saya menghabiskan waktu cukup lama di air terjun untuk menikmati gemericik air yang jatuh sambil membuka bekal makanan saya. Sungguh menyenangkan disini, berada di tengah-tengah lembah sambil duduk, tidak terburu-buru oleh waktu. Sayang sekali, waktu dua jam hampir berlalu. Saya harus ke depan untuk dijemput kembali oleh bapak ojek tadi. Oh yah, dimana-mana ada banyak sekali papan pemberitahuan yang menyatakan bahwa apabila hujan, sebaiknya anda tidak mendekati wilayah air terjun. Air terjun ini sangat terkenal akan debit airnya yang bisa saja tiba-tiba meningkat apabila hujan dan kemudian terjadi longsor. Jadi, apabila hujan, menjauhlah sejauh mungkin dari area limpahan air terjun ini.Waktu saya kembali ke depan, ternyata bapak tersebut sudah menunggu di depan sana. Waduh, padahal belum dua jam loch. Apakah dia menunggu selama dua jam atau baru saja kembali, saya tidak tahu. Yang jelas, saya menjadi tidak enak karena beliau sampai menunggu saya di tempat saya turun padahal saya hanya membayar Rp. 10.000. tapi, kembali lagi, saya berpendapat mungkin inilah satu-satunya mata pencaharian mereka. Harapan mereka adalah dari turis-turis yang sudah pasti akan menggunakan jasa mereka. Ya sudah, saya segera kembali menaiki ojek tersebut dan bergegas ke depan. Biayanya sama, Rp. 10.000.
Menariknya, jalur untuk kembali ke depan jalan raya Batu-Kediri ternyata sedikit berbeda dengan jalur kedatangan saya sebelumnya. Apabila jalur sebelumnya lebih tinggi daripada Kota batu sehingga saya bisa melihat Kota Batu dari ketinggian, jalur pulang ini berada lebih rendah namun berada tepat di tengah-tengah hutan pinus. Dengan sangat menyesal saya berkata dalam hati, “kenapa tadi saya nggak pakai jaket terlebih dahulu yach?”. Ruas 4 kilometer tersebut terasa sangat panjang karena sangat dinginnya angin yang menerpa. Padahal saat itu pukul 1 siang! Dinginnya angin sampai membuat muka saya beku dan seluruh tubuh saya sulit digerakkan. Nggak heran, bapak ojek tersebut menggunakan jaket kulit tebal dan saya pun iseng-iseng bertanya, “orang-orang disini mandi berapa kali sehari, Pak?”. Beliau menjawab, biasanya nggak mandi, atau palingan satu kali sehari. Ini menjelaskan aroma yang sedari tadi saya cium ketika saya mendekap tubuh bapak tersebut agar tidak jauh dari motor. Hehe…maaf yach Pak. Terlepas dari itu, pemandangan hutan pinus yang saya lalui sangat menakjubkan. Terlebih dari itu pula, bapak ojek ini adalah orang-orang yang sangat ramah. Mungkin mereka tidak tahu cara tersenyum atau bagaimana, tapi ucapan “monggo” (silahkan) dan ucapan kehangatan lainnya banyak terucap dari mereka. Kalau ke Coban Rondo pokoknya sewa ojek dari bapak-bapak ini yach! Buat saya, Air Terjun Coban Rondo ini masuk dalam kategori air terjun terindah (dan tertata rapih) dari semua air terjun yang pernah saya kunjungi di Indonesia. Anda wajib datang ke tempat ini.

Wednesday, November 25, 2009

Selamat Datang Di Kota Batu

Satu hal yang saya ingat dengan jelas akan kota ini adalah jalan raya utamanya yang kecil, berkelok-kelok dan seakan-akan kota ini dibangun mengikuti jalan raya itu saja. Sepanjang saya mengikuti bus yang melaju, saya tidak merasakan ada banyak percabangan jalan di kota ini. Tentu saja, Kota Batu berukuran lebih kecil daripada Kota Malang dan kegiatan masyarakat akan mulai meredup seiring dengan naiknya malam. Kalau di Malang, kehidupan bisa bergerak hampir 24 jam, mungkin di Batu, kehidupan akan melambat menjelang pukul 9 malam.
Saya merasa, saya hanya melintas di jalur utama Kota Batu dan rasanya jalan ini hanya satu-satunya jalan di kota ini. Habis, bagaimana tidak, percabangan jalan selalu terlihat sepi dan terlihat lebih kecil dibanding jalan raya utama yang memang sudah kecil. Memang, ada satu ruas jalan besar yang terletak agak ke pinggir kota, tempat Batu Night Spectacular berada. Namun, jalan besar dan lurus ini hanya berada disini saja. Rata-rata, jalan yang saya lalui berdempetan cukup erat dengan pagar rumah pemukiman di Batu. Saya salah jalan gak sich? hihihi....
Dengan menaiki Bus Malang-Kediri, kita dapat mencapai hampir seluruh objek wisata yang ada di kota ini. Saya melewati Alun-alun, Gereja Batu, Taman Makam Pahlawan, Terminal Batu, Pasar Batu, Kusuma Agrowisata Batu, Gunung Panderman, Batu Night Spectacular dan Songgoriti hingga Coban Rondo dan Agrowisata Pujon. Nggak salah donk kalau saya bilang kota ini hanya terdiri atas jalan raya yang berkelok-kelok saja? Habis, cukup satu rute bus saja bisa melintasi semua objek wisata menarik yang ada di batu dan sekitarnya.
Batu pernah terkenal beberapa waktu lampau karena kediaman Dr. Azahari sang gembong teroris dari Malaysia diobrak-abrik oleh Densus 88 dalam misi pemberantasan teroris. Rumah kediaman Dr. Azahari yang dalam pelarian tersebut berada di pinggiran Kota Batu. Batu juga terkenal akan hawa dinginnya yang jauh melebihi Malang. Tentu saja, ini disebabkan Kota Batu terletak lebih tinggi daripada Kota Malang. Posisinya diapit oleh tiga gunung: Gunung Arjuno, Gunung Welirang dan Gunung Kawi. Konon, penduduk daerah sini jarang mandi dua kali saking dinginnya hawa kota ini (kata supir ojek yang beroperasi di Pujon sich begitu yach). Namun itu dulu, sekarang hawa dinginnya sudah cukup bisa ditolerir oleh kulit. Karena hawa dinginnya ini, Batu terkenal akan aneka jenis tumbuhan yang biasa hidup di hawa sejuk seperti sayur dan bunga-bungaan. Bunga-bunga indah berwarna-warni tumbuh liar di tepi jalan ataupun di halaman rumah penduduk. Batu pun terkenal akan apelnya. Walaupun lebih terkenal di Malang, namun aslinya perkebunan apel yang utama berada di Kota Batu. Jadi, ucapan yang benar sebenarnya adalah Apel Batu, bukan Malang. Hanya saja, waktu Batu masih berada di dalam wilayah Kabupaten Malang, namanya tidak setenar kabupatennya. Alhasil, hanya nama kabupatennya lah yang membawa apel terkenal hingga kemana-mana.
Walau kota kecil, namun Batu berukuran hampir sama dengan Malang. Dengan kepadatan rendah dan jarangnya rumah penduduk, berjalan kaki dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya cukup menguras tenaga. Apalagi kontur wilayah kota ini naik turun berbukit-bukit. Saya tidak menyarankan sama sekali untuk anda berjalan kaki dari satu objek ke objek lainnya karena alasan tadi. Lebih baik anda naik angkot yang mudah dicari dan ramah memberikan informasi rute. Naik angkot di kota ini tidak terlalu mahal, Hanya Rp. 2.000 hingga Rp. 3.000 bergantung pada rute. Angkot di kota ini pun cukup mudah dikenali karena hanya ada dalam beberapa varian warna. Misalnya, warna merah untuk yang menuju Selekta, hijau ke Songgoriti dan ungu muda ke Malang.
Beberapa objek wisata yang wajib kunjung dan masih berada di Kota Batu dan sekitarnya adalah:
- Batu Night Spectacular atau yang biasa dikenal sebagai BNS adalah taman hiburan keluarga sejenis theme park yang menyajikan berbagai jenis wahana permainan dan restoran . BNS ini buka hingga pukul 2 pagi. BNS terkenal akan wahana-wahana taman hiburan, air mancur menari, bioskop 3 dimensi, dan hiburan seram dengan hantu-hantuan.
- Kusumo Agrowisata Batu adalah ikon Kota Batu. Di tempat ini berdiri perkebunan apel terbesar dan strawberry yang difungsikan menjadi lokasi wisata. Para pengunjung bisa menikmati buah-buahan di kebun ini. Kusuma Agrowisata ini juga dilengkapi dengan beberapa permainan, fasilitas outbound, dan resort sebagai tempat menginap anda dan keluarga.
- Selekta yang terletak di utara Batu adalah sebuah kolam renang besar dengan pemandangan alam Kota Batu dan sekelilingnya. Selekta ini adalah objek wisata lama yang sudah sangat terkenal dari masa dahulu.
- Air Panas Cangar adalah tempat wisata yang menawarkan air hangat pegunungan untuk berendam di tengah-tengah rerimbunan hutan. Aksesnya agak sedikit lebih sulit dibanding Selekta karena memang tidak terlalu terkenal seperti Selekta.
- Pemandian Songgoriti dahulunya adalah sebuah pemandian sakral bagi umat hindu. Pemandian ini bahkan masih memiliki candi di dekatnya. Sekarang, Songgoriti memiliki fasitas permainan anak-anak dan kolam renang air dingin untuk yang ingin merasakan dinginnya air gunung. Pemandian air panas tersedia tak jauh dari kolam renang ini.
- Air Terjun Coban Rondo terletak di Pujon, sudah keluar dari Kota Batu. Air terjun ini adalah primadona bagi Kota Batu dan Kabupaten Malang sebab tinggi dan deras debit airnya. Selain itu, air terjun ini dan wilayah sekitarnya tertata dengan rapih.
- Gunung Panderman adalah gunung yang cukup tinggi yang terlihat dengan jelas dari Kota Batu. Kalau anda melihat satu gunung yang tinggi dan terasa dekat jangkauan di Batu, itulah Gunung Panderman. Gunung ini terkenal dengan kegiatan pendakian masyarakat dan lokasi wisata bagi masyarakat sekitar. Gunung yang tidak terlalu besar ini berketinggian kurang lebih 2000 meter namun jarang sekali dimunculkan di peta besar Pulau Jawa.
- Pujon Agrowisata terkenal akan hasil buminya berupa sayur-sayuran, buah dan yang terutama adalah susu dan variasi turunannya (bahkan hingga keripik susu loch!)

Tuesday, November 24, 2009

Di Rute Malang Menuju Batu

Sekali lagi, bus menunggu lama di Landungsari sebelum memutuskan untuk bergerak berjalan walaupun belum terlalu penuh. Saya sudah cukup terlatih untuk bersabar menunggu bus berjalan. Kesabaran saya terkadang harus dibayar dengan waktu tunggu yang cukup lama. Untung saja, saya memiliki teman seperjalanan yang bisa diajak mengobrol melupakan saat-saat menunggu bus berjalan.
Akhirnya, bus berjalan dengan sejumlah penumpang dan serombongan pengamen terminal yang komplit memiliki alat musik kreasi mereka sendiri. Dari Landungsari, bus bergerak ke arah barat laut, menuju Kota Batu.
Jalan menuju Kota Batu tidak terlalu lebar dan hanya bisa dilintasi oleh dua buah kendaraan saja. Pertama-tama, pemandangan yang tersaji memang tidak terlalu signifikan. Maklum, kita kan masih di pinggir Kota Malang. Namun, lama kelamaan tampilan pemandangan di jalan yang hanya lurus tanpa belokan tersebut mulai berubah. Gunung mulai terlihat dikejauhan. Rumah mulai berkurang di kanan dan kiri jalan. Jalan mulai menanjak dan berangin sejuk. Kios-kios penjual buah terutama nanas dan apel mulai banyak berjejer di pinggir jalan. Sejumlah hotel dan penginapan kecil muncul satu dua kali diantara lapangan berumput yang kosong. Pemandangan umum menuju Kota Batu memang seperti itu, didominasi oleh lapangan berumput yang kosong.
Bus yang saya naiki adalah bus ekonomi yang bertujuan akhir di Kediri. Batu dan Pujon tampaknya adalah dua wilayah tertinggi yang dicapai oleh bus tersebut. Walaupun saya turun di Pujon nantinya, bus tersebut masih melanjutkan perjalanan panjangnya hingga Kediri yang panas dan berangin. Bus tersebut masih akan melewati beberapa kota (atau desa?) Ngantang, Kandangan, Polorejo, Gurah sebelum akhirnya mencapai Kediri. Dari Terminal Landungsari ke Pujon, saya dikenai harga tiket Rp. 5.000 per orang. Bus yang saya tumpangi memang bukan bus AC namun udara segar dan sejuk Kota Batu yang menyeruak masuk ke dalam membuat AC tidak penting lagi. Sembari membersihkan paru-paru sekalian dech cuci mata dengan melihat kiri kanan. Saya suka rute ini.

Monday, November 23, 2009

Koleksi Rokok Malang

Ada yang unik waktu saya memasuki peron keberangkatan penumpang di Terminal Landungsari, Kota Malang. Sebelum masuk satu-satunya peron keberangkatan di tempat tersebut, saya menjumpai sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai toilet dan di sebelahnya ada kios rokok dan makanan kecil. Tak lupa, saya menyempatkan diri untuk membuang hajat kecil saya agar di tengah jalan nanti tidak sibuk mencari wc lagi. Seusai menuntaskan kewajiban kecil saya, saya berniat membayar biaya retribusi wc tersebut sebesar Rp. 1.000. Ada seorang bapak yang berjaga di tempat tersebut. Saya membayar biaya retribusi kepada bapak tersebut. Belakangan, saya mengetahui ternyata bapak tersebut adalah pemilik kios sederhana tersebut. Saya mengamati kios tersebut dan mendapati bahwa kios tersebut ternyata sudah menjadi semacam tempat tinggal bagi sang bapak tersebut. Ada kasur tergulung di salah satu sudut kios kecil tersebut. Tak lupa, televisi dan peralatan dapur ala kadarnya ada disana. Mungkin bapak tersebut selain berperan sebagai pemilik kiosnya yang notabene berperasi 24 jam, sekaligus sebagai penjaga bangunan kecil tersebut.
Selain tempat tinggal bapak tersebut, ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya ketika hal ini tak sengaja tertangkap mata saya. Saya melihat deretan rokok-rokok ajaib yang pernah saya lihat. Pertama, saya melihat merek-merek standard seperti Gudang Garam, Dji Sam Soe, Djarum, Bentoel dan kemudian mata saya menelusuri merek-merek yang agak asing hingga ajaib buat saya. Di deretan bawah dan samping rokok-rokok umum tersebut ada belasan jenis merek rokok lokal dengan gambar, lambang, hiasan dan merek yang unik. Sebut saja merek Filo, Tali Jagad, Bintang Mas, hingga Grendel. Unik sekali. Bapak tersebut ternyata melihat cahaya di mata saya ketika saya melihat deretan rokok-rokok tersebut. Beliau langsung menawarkan saya untuk mencoba rokok-rokok khas Malang tersebut. Saya menolak dengan sopan lantaran saya tidak merokok. Kemudian bapak tersebut mulai bercerita tentang segala hal yang berkaitan dengan rokok. Ia bercerita bahwa Malang adalah Kota Rokok. Hal ini tampak dari banyak sekali industri rumahan yang membuat rokok dengan merek-merek lokal di Malang. Menariknya, rokok lokal ini pun telah menembus berbegai daerah di sekitar Malang hanya saja tidak sampai Jakarta karena saya tidak pernah melihatnya di Jakarta. Beberapa dari rokok tersebut memang sengaja ada yang berlisensi rokok terkenal sebagai merek ekonomis produk-produk terkenal. Misalnya saja, satu kotak rokok bermerek terkenal bisa berharga Rp. 8.000 hingga Rp. 20.000. Kalau rokok lokal ini, harganya bervariasi mulai dari Rp. 2.000 hingga Rp. 5.000 per bungkus-nya! Bedanya sangat jauh. Harga yang jauh ini memang membuat saya bertanya, apakah rasa tidak berbohong disini? Menurut bapak tersebut, untuk rokok berlisensi, rasanya memang tidak berbeda jauh. Untuk kalangan ekonomis, rokok lokal ini bisa menjadi penyelamat ketika kondisi keuangan sedang cekak. Tapi buat beberapa kalangan, rokok lokal bercita rasa lebih kuat dibanding rokok-rokok bermerek. Alhasil, ujung-ujungnya kembali pada soal selera. Apakah perokok menginginkan merek terkenal atau rokok lokal saja. Satu hal lagi yang mampu membedakan rokok bermerek dan rokok lokal adalah pita cukai. Saya tidak menemukan pita cukai pada rokok lokal. Maklum, rokok lokal gitu loch.
Terasa unik dan menggelitik untuk saya ketika saya melihat rokok tersebut dibuat dengan berbagai merek dan logo yang kebarat-baratan hingga bernuansa sangat Jawa. Semua ada disini.
Sekali lagi, bapak tersebut menawarkan saya untuk membeli rokoknya. Walaupun ia tahu saya tidak merokok, namun beliau menyarankan saya untuk mengoleksinya. “Bungkus-bungkus rokok ini menraik untuk dikoleksi loch” begitu katanya. Saya hanya tertawa ringan karena tidak berkeinginan untuk mengoleksi bungkus rokok. Kalau anda penasaran, coba dech datang ke Malang untuk melihat, rokok apa saja sich yang ada disini. Buat anda para perokok, mungkin anda juga penasaran akan rasanya. Tapi tolong, pikirkan orang lain ketika anda berniat untuk mengebul yach. Hehehe…

Saturday, November 21, 2009

Manisnya Es Dawet Landungsari

Sehabis menikmati Nasi Soto, saya siap untuk bertolak menuju Batu. Namun, sebelum itu, ada satu hal yang menggelitik perhatian saya. Tepat sebelum masuk ke peron keberangkatan penumpang, saya melihat ada seorang penjual cemilan ringan duduk sambil menyajikan makanan yang dia buat kepada para pelanggannya. Kakangmas bertubuh agak tambun tersebut membawa dua buah keranjang yang dipikul oleh satu tongkat. Dari yang saya amati, tampak jelas, Kangmas ini menjual dawet atau yang biasa dikenal sebagai cendol. Tapi, ungkapan cendol ini nggak sepenuhnya bener loch. Kenapa? Mari kita lihat!
Seiring dengan lapar mata dan perut yang belum terisi penuh. Kayaknya es dawet di siang hari yang nggak terlalu panas (Malang gitu loch!) akan lumayan menyejukkan hati dan jiwa (halah!). langsung saja, saya dan teman saya memesan es dawet kepada sang kangmas tersebut. Ternyata, kangmas tersebut bertanya balik, “mau uli atau -yang biasa kita kenal sebagai- cendol?”, “mau dikasih tapai atau ngga?”. Waduh, pertanyaan sulit nich! Maklum, kalap pengen nyoba jadi penasaran sama variannya. Akhirnya, biar nggak penasaran, teman saya memesan cendol (biasanya cendol kan warnanya hijau, tapi disini warnanya putih loch) lalu saya memesan uli dicampur dengan tapai. Hasilnya, sebenarnya sesuai dengan selera masing-masing yach. Tapi saya suka keduanya. Saya suka citarasa cendol yang tawar atau uli yang liat. Dipadu dengan tapai dan saus gula jawa plus santan, ahhh….apalagi sich yang kurang? Mari kita duduk dan menikmati es dawet ala Landungsari. Buat saya, es dawet ini enak dan bikin kangen. Rasa manisnya pas dan menarik untuk dicoba. Sayangnya, Cuma satu hal yang agak menganggu. Ukuran mangkoknya kelewat mini, sampai-sampai es dawet yang saya makan luber-luber dan tumpah kemana-mana. Sayang banget es dawet yang begini enak bisa tumpah. Biar kata si kangmas hanya berjualan di pinggir jalan, tapi pelanggannya banyak ternyata. Orang-orang datang silih berganti untuk menikmati dawet si kangmas yang memang enak ini. Memang, lidah bisa berbohong tapi kalau soal rasa, nggak mungkin dech. Lidah manusia tuh paling tahu mana barang yang enak. Nggak usah publikasi, semua datang berbondong-bondong untuk menikmati es dawet ini. Beberapa ibu-ibu bahkan meminta agar kangmas tersebut membungkus beberapa buah untuk dibawa pulang. Saya juga pengen sich tapi mengingat makannya yang agak repot di perjalanan nanti, saya urungkan niat dan sedikit menyesal karena terngiang-ngiang rasa enak dawet ini di lidah.
Satu keunggulan lainnya dari semua keunggulan yang saya sebutkan tadi, adalah soal harga. Anda tahu? Satu mangkok es dawet itu hanya dihargai Rp. 3.000 saja! Alamak! Murah sekali. Jadi pengen bikin selametan dengan hidangan penutup es dawet ini. Hihihi…Udah gitu, es dawetnya ini sehat dan bersih pula! Tau darimana? Abis saya makan es dawet ini, nggak ada rasa gatel atau kering pada kerongkongan saya. Bebas bahan pengawet! (halah!). Saya sich sangat merekomendasikan es dawet ini buat para pelancong yang akan berangkat ke Batu, Kediri atau Blitar ketika melewati Landungsari. Jangan lupa cobain es dawet ini dan rasakan enaknya kalau anda berkunjung ke Terminal Landungsari, Malang.

Friday, November 20, 2009

Sarapan Pagi Dengan Soto Landungsari

Berhubung masih pagi, nggak heran belum ada tempat jual makanan yang buka di seputaran Hotel Helios tempat saya menginap. Bakmi Bromo Podjok saja baru mulai menggeliat selepas pukul 9 pagi, itupun belum dengan kekuatan penuh. Para pramusajinya masih bersih-bersih sambil beramai-ramai menonton televisi *uppps*. Padahal, saya mau bergerak menuju ke Batu sepagi mungkin. So, daripada bingung ga jelas juntrungannya dalam mencari makanan, mendingan kita langsung bergerak ke Landungsari saja dan menahan lapar sedikit.
Sesampainya di Langdungsari, mata saya tertuju ke satu-satunya warung yang buka saat itu. Warung Soto. Wah, kayaknya kalau di Jawa Timur, makanan yang gampang ditemui adalah soto dech. Hidangan soto tampaknya menjadi sesuatu yang wajib ada di setiap terminal. Kenapa? Yah, mungkin karena lidah ke-Jawa Timur-an kali yach yang menuntut soto harus ada kapanpun dibutuhkan. Buat saya, berhubung nggak ada pilihan lain (bayangkan donk, di Bungurasih saja saya sudah makan soto, masak makan soto lagi?) alhasil saya masuk ke warung tersebut.
Tidak ada pengunjung di warung tersebut. Entah saya yang kepagian atau memang penumpang hari itu agak sedikit yach. Beberapa botol minuman ringan yang terpajang di meja sudah tampak agak berdebu. Sudah lama tidak tersentuh atau karena makanan mereka tiap hari adalah debu yang beterbangan di seputar terminal? Warung ini memang terlihat cukup jelas dari titik dimana angkot ADL menurunkan saya. Lokasinya tidak terlalu jauh dari pintu gerbang masuk Landungsari, hampir bersebrangan dengan peron keberangkatan.
Saya nggak tahu konsep soto yang ada dalam benak anda tuch seperti apa. Namun, konsep soto di Jawa Timur tampaknya cukup berbeda dengan yang sudah-sudah saya alami sebelumnya. Saya memesan soto di warung tersebut selain karena warung tersebut adalah warung soto, warung tersebut tidak menjual menu lain lagi yang tersedia pada pagi itu. Saya menanyakan beberapa menu dan jawab mbakyu yang menjaga adalah tidak ada atau hanya menggelengkan kepalanya saja sambil tersenyum malu-malu. Ya sudah, soto cukup aman juga toh? Ketika dihidangkan, soto yang tampil adalah aneka macam benda seperti tauge, potongan ayam, irisan kol, tertutup dengan nasi, ditaburi dengan serundeng (yang terbuat dari kelapa) dan dibanjiri (bukan sekedar disiram!) oleh kuah soto. Serasa makan sop. Hehehe…Namun, itulah uniknya, anda akan menjumpai soto di Jawa Timur kebanyakan seperti ini. Semuanya bercampur aduk menjadi satu termasuk nasi dan kuah yang banyak. Kalau kurang asin (kebetulan, memang sotonya hampir hambar atau memang si mbakyu membebaskan kita untuk menambahkan garam?) silahkan masukkan garam yang tersedia secukupnya ke mangkuk kita masing-masing. Konsep soto serupa ternyata saya temui juga di Surabaya. Harga soto ini pun murah, hanya Rp. 5.000 semangkok. Ya sudah, saya makan dengan lahap mengingat jalur berikut yang akan saya tempuh di Batu nantinya lumayan panjang.
Sebagai tambahan, saya makan kerupuk beras beberapa potong dari toples plastik yang tersaji di atas meja. Kerupuknya juga murah, Rp. 500 sepotong kecil (anda bisa membayangkan 2 buah kotak korek api bergabung). Minumnya, ada banyak soft drink disini tapi saya hanya memesan teh saja. Murah, meriah dan sehat donk! Hehehe…
Asiknya, berhubung warungnya sepi, sambil makan kita bisa bertanya-tanya kepada mbakyu yang berjualan. Namun, sayangnya, si mbakyu ini tampaknya hanya bisa menjawab seadanya sambil tersenyum dan tersipu malu-malu tanpa bisa memberikan jawaban yang lebih memuaskan rasa ingin tahu saya. Saat saya tanya serundeng terbuat dari apa, si Mbakyu ini hanya menjawab “kelapa” saja tanpa ada embel-embel lainnya. Singkat, padat dan jelas. Ketika saya tanya tentang model soto yang saya makan, si mbakyu hanya menjawab ala kadarnya sambil tersenyum dan berkata “memang seperti itu”. Hhh…salah nanya orang kayaknya nich. Mungkin juga si mbakyu takut kali yach? Koq ada dua orang aneh bertanya-tanya seperti ini, padahal cuma makan soto doank. Apa dua orang ini mau saingan bikin warung soto juga kah? Hihihi….hanya Tuhan dan si Mbakyu yang bisa menjawabnya.

Thursday, November 19, 2009

Terminal Landungsari Yang Jauh Sekali

Konon, terminal ini dulu berada di Dinoyo dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari pusat kota. Namun sekarang, terminal ini berada di Landungsari, agak jauh di luar kota dekat batas barat laut kota. Terminal Landungsari adalah satu dari tiga terminal besar di Kota Malang yang menghubungkan Malang dengan kota-kota besar lainnya di Jawa Timur. Tentu saja, kapasitasnya memang tidak sebesar Arjosari, namun jarak tempuh yang bisa dicapai dari terminal ini lumayan. Selain menjadi tempat lalu lalang angkot-angkot warna merah muda keunguan (menuju Batu), banyak sekali bus-bus dari terminal ini yang bergerak hingga ke Kediri dan Jombang.
Terminal ini letaknya jauhhhhhhhhhh (perhatikan jumlah 'h' nya!) banget dari pusat kota. Rasanya nggak sampai-sampai. Rasanya membutuhkan waktu sejam dari pusat kota di sekitar stasiun hingga mencapai terminal ini. Saya berkali-kali melirik jam dan berkata dalam hati, “koq nggak sampai-sampai yach?”. Saya melewati berbagai Universitas diantaranya Universitas Islam Malang dan Universitas Brawijaya. Saya juga melalui berbagai jenis jalan, mulai dari jalanan utama Kota Malang yang bergaya kolonialisme, jalanan kompleks yang tertata rapih dan lebar, hingga sampai pada sudut kota yang agak sempit dan dikepung oleh ruko-ruko modern seperti distro, warnet, dan minimarket. Angkot ADL yang saya naiki seakan-akan tidak berujung. Lama sekali angkot yang saya tumpangi ini mencapai terminal Landungsari. Dari angkot penuh sesak oleh penumpang sampai tersisa hanya saya dan teman saya di dalam angkot.
Tiba-tiba tanpa pemberitahuan, angkot ADL yang saya naiki berbelok ke arah kiri. Masuklah saya ke dalam kompleks terminal Landungsari ini. Terminalnya sendiri tidak terlalu lebar, lebih kecil dibandingkan Arjosari. Angkot berwarna merah muda keunguan berseliweran di sekeliling terminal berseling dengan bus-bus kecil berukuran sedang yang akan membawa anda ke Jombang atau Kediri. Terminalnya sepi, Cuma ada beberapa warung makan yang buka. Peron keberangkatan penumpang terletak di bagian tengah pelataran terminal, masuk sebuah bangunan terlebih dahulu. Sebelum berlanjut ke Batu, yuk kita isi perut dulu disini.