Wednesday, November 11, 2009
Pasar Burung Malang
Tuesday, November 10, 2009
Monumen Tugu Di Jantung Kota Malang
Monday, November 09, 2009
Stasiun Malang
Kalau bepergian dari manapun ke Kota Malang, pilihan naik kereta adalah sesuatu yang cukup menyenangkan sebenarnya. Kenapa? Berbeda dengan terminal bus dan airport (apalagi pelabuhan! –Malang terletak di tengah gunung, jauh dari laut!-) yang terletak agak jauh di luar atau pinggiran kota, stasiun Malang terletak tepat di tengah kota. Kalau dari airport atau terminal, kita perlu naik satu atau lebih kendaraan supaya sampai tengah kota, dengan stasiun, voila, anda sudah berada di pusat kota. Dari stasiun, anda bisa dengan mudah berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan anda di pusat kota.Stasiun Malang, sebenarnya hampir sama dengan produk-produk cagar budaya lainnya di Kota Malang. Dari arsitekturnya, kita sudah bisa menebak bahwa bangunan ini adalah sisa peninggalan jaman kolonialisme Belanda. Tulisan MALANG besar-besar terpampang di atas bangunan utama gedung tersebut. Di bawahnya, ada sebuah jam dinding besar yang bisa menjadi acuan jam bagi warga sekitar. Sayang beribu sayang, papan reklame salah satu produk rokok terpampang besar-besar di atas tulisan MALANG tersebut. Papan reklame tersebut jauh dari kesan kuno dan antik. Papan reklame tersebut jelas-jelas dibuat dengan sangat modern, terlebih warna-warna dan desainnya. Buat saya, rusaklah sudah kesatuan desain seluruh bangunan tersebut. Terima kasih banyak untuk papan reklame!
Bangunan utamanya sendiri berisi tempat penjualan tiket dan pemeriksaan karcis saja. Di dalam bangunan tersebut, hanya ada sebuah warung serba ada dan ruangan yang lebar dan kosong. Akibatnya, banyak orang menunggu dan duduk-duduk di bangunan tersebut karena tidak mau membayar biaya peron. Di sebelah bangunan utama, terdapat ruangan reservasi dan pemesanan tiket. Ruangan ini berisi banyak sekali bangku dan di ujung, terdapat ibu-ibu yang mencetak tiket reservasi. Kebetulan, saya memang membeli tiket Kereta Api Malang Express, sehingga tiket memang dijual di tempat ini. Kalau kelas ekonomi mungkin tidak dibeli di ruang ini kali yach? Di ruangan ini beberapa orang tampak bersantai dan tidur-tiduran. Bukan ruangan yang nyaman juga untuk menunggu walaupun bangkunya banyak.
Selepas memasuki peron, kereta terbagi menjadi beberapa lajur. Lajur 1 umumnya digunakan untuk kereta eksekutif. Kereta ekonomi terletak di lajur yang agak jauh sebelah sana. Ternyata, di bagian dalam peron ada banyak sekali warung makan, kios majalah, dan warung oleh-oleh dan makanan khas Malang. Anda mempunyai banyak pilihan sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta api.
Saturday, November 07, 2009
Kelenteng En An Kiong di Ujung Pasar Besar Malang
Friday, November 06, 2009
Kelilingan Pasar Besar Malang
Thursday, November 05, 2009
GPIB Immanuel Malang, Bangunan Antik Dari Masa Silam
Gereja ini adalah GPIB (Gereja Pantekosta Indonesia Barat) Immanuel. Sayang, tidak ada informasi kapan gereja ini terbangun pertama kali. Yang agak mengejutkan pun, di internet jarang sekali ada postingan atau informasi mengenai tahun berdirinya gereja ini. Namun, apabila kita menilik dari kondisi fisik dan arsitektur yang digunakan, kita bisa menilai bahwa gereja ini hampir setua Gereja Katedral Malang. Siang itu, tidak tampak adanya kegiatan gerejawi berlangsung di seputar gereja. Akhirnya, saya hanya berkeliling gereja saja sambil mencari spot-spot menarik untuk diabadikan. Sayangnya, sisi gereja yang berbatasan langsung dengan jalan raya tidak menyisakan banyak sudut untuk difoto. Trotoar di pinggir yang tersisa hanya sedikit sekali untuk keperluan orang berjalan. Hanya ada sebuah pintu kayu besar yang tampak sudah tua yang cukup menarik untuk difoto. Sisanya, kurang menarik untuk difoto.
Wednesday, November 04, 2009
Bersantai Sejenak di Alun Alun Malang
Alun-alun Kota Malang adalah suatu lapangan besar yang terletak di tengah kota. Alun-alun ini berumur sudah cukup lama, sejalan dengan perkembangan Kota Malang. Hal ini terlihat dengan jelas melihat pepohonan besar yang tumbuh di beberapa titik alun-alun. Anda tidak akan bisa memeluk pohon besar tersebut seorang diri. Usianya mungkin sudah ratusan tahun. Di alun-alun ini, anda bisa melihat segala macam penduduk Kota Malang yang berekreasi, duduk mengobrol, menikmati makanan hingga berolahraga ringan di sekitarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)

