Dari Semarang Ke Alun-Alun Jepara

Saya menunggu di pintu keluar Terminal Terboyo kurang lebih selama 15 menit. Untungnya, areal pintu keluar ini ramai. Banyak penumpang yang juga menunggu di tempat ini. Tempat ini menjadi lebih hidup lagi lantaran banyak warung penjual makanan yang menjajakan dagangannya di tempat ini, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat sekelas Soto. Bus Semarang – Jepara akhirnya tiba juga. Saya kaget. Bus Semarang – Jepara adalah bus kecil berukuran ¾. Eh, tidak ada bus yang berukuran besar yach? Tambahan lagi, bus ¾ ini adalah bus non-ac. Bukannya saya mau sombong yach. Tapi, bus non-ac biasanya adalah bus lambat. Mereka suka sekali ngetem di berbagai titik demi menunggu sejumlah penumpang. Padahal, saya sudah letih dan ingin sekali tiba di Jepara. Saya selalu memprioritaskan bus AC kalau ada pilihan yang AC. Lama menunggu, akhirnya saya nekad bertanya kepada bapak-bapak yang tampaknya merupakan orang terminal. Beliau menjawab bahwa tidak ada bus jurusan Jepara yang ber AC. Tidak puas dengan jawaban beliau, saya berjalan-jalan kembali demi mencari jawaban yang mengena di hati. Saya menjumpai seorang pedagang makanan. Saya menanyakan hal yang sama dengan sebelumnya. Ia kembali menjawab hal yang sama, tidak ada bus AC dari Semarang ke Jepara. Yang tersedia hanyalah bus ¾ non AC.
Saya tidak memiliki pilihan lagi kalau begitu. Daripada terkatung-katung di jalanan tidak jelas seperti ini, saya lebih memilih terbenam dalam perjalanan bus ¾ non ac. Akhirnya, saya memutuskan untuk naik bus ¾ ini saja. Saya segera menaikkan barang-barang saya ke rak bagasi yang ada di bagian atas setiap bangku penumpang. Loch? Kayaknya ada yang salah yach? *Maaf* pantat saya mengapung sebelah di udara! Ternyata, bangku penumpang bus ¾ ini berukuran 1,5! Kalau dimuati oleh dua orang, maka orang kedua yang berada di sisi gang akan melayang setengah. Orang pertama yang berada di sisi jendela akan terjepit, terdesak oleh saya. Bener-bener kacau ini bus. Kondisi ini diperparah dengan bus yang waktu itu cukup padat. Saya nggak bisa mengokupansi bangku lain untuk saya jajah sendiri. Berhubung sangat padat, saya hanya bisa menahan-nahan duduk dalam posisi yang serba terbatas tersebut. Mengerikan. Untungnya, perjalanan hampir didominasi oleh jalur lurus antara Semarang – Demak – Kudus. Namun, begitu di ruas antara Demak – Kudus, bus pun berbelok dan masuk ke dalam jalan yang lebih kecil daripada ruas utama. Inilah ruas Demak – Jepara. Parah, saya terpontang-panting di tempat ini lantaran saya hanya duduk setengah di kursi yang tersedia. Saya harus berjuang keras memegang benda apapun(misalnya bangku atau tiang) agar tidak terlontar saat bus melewati jalanan berbelok-belok di ruas Demak – Jepara. Jujur saja, perjalanan sejauh hampir 2 jam ini terasa begitu menyiksa. Ditambah dengan saya yang ingin buang air kecil, makin menderitalah saya di dalam bus kecil ini.
Untungnya, setengah perjalanan menuju Jepara dari Demak (ternyata, Jepara masih sangat jauh loch dari Demak), sejumlah besar penumpang turun. Bus pun sekejab menjadi kosong dan saya segera berpindah tempat untuk mengokupansi kursi sisa yang masih tersedia. Duduk mengapung begitu selama berjam-jam ternyata membuat pegal. Anda nggak usah berpikir untuk mencari bus lain ketika sampai di Terboyo sebelumnya. Bus jurusan Semarang – Jepara hanya satu-satunya dan berjenis seperti ini. Jam keberangkatan yang saya naiki (sekitar jam 19.00) merupakan jam keberangkatan terakhir (kira-kira, jam 21.00 akan tiba di Jepara). Setelah itu, anda akan kesulitan sekali untuk mencari bus jurusan Jepara. Bus bergerak dalam kecepatan sedang, cukup cepat menurut saya, dan melewati aneka macam kota-kota kecamatan di Jepara. Jepara, secara mengejutkan, ternyata termasuk kota yang ramai dan cepat berkembang. Entah mungkin disebabkan karena posisinya yang berada di tepi pantai kali yach? Tapi, pada saat malam sekalipun kota ini tidak terlalu sepi. Toko-toko 24 jam buka disana sini. Nggak hanya itu, beberapa bidang usaha yang agak nggak wajar buka 24 jam seperti restoran dan rumah makan, ternyata membuka usaha 24 jam juga disini. Mungkin ini indikator bahwa Jepara cukup ramai didatangi oleh tamu dari luar kali yach? Perjalanan saya selama 1,5 jam tidak terasa membosankan karena bisa banyak melihat kegiatan kota, bukan sekedar pabrik dan sawah saja seperti yang saya bayangkan sebelumnya.
Harusnya, bus yang saya tumpangi akan berhenti di Terminal Jepara. Namun, menurut kenek bus tersebut, karena sudah malam dan bus ini merupakan bus terakhir, maka bus hanya akan sampai alun-alun saja. Kami pun terpaksa harus diturunkan di alun-alun. Jarak antara terminal dan alun-alun sich nggak terlalu jauh. Anda nggak rugi-rugi amat kalau diturunkan di alun-alun karena masih cukup ramai dan bepergian ke Pantai Kartini harusnya lebih mudah dari sini.

7 komentar:

  1. Saya cuma ingin tanya: kenapa gak naik travel aja bro? Banyak lo jasa layanan travel Semarang-Jepara pp. AC, door to door, nyaman pula :D

    ReplyDelete
  2. Ehm....:"> hahahaha...
    itu terjadi di waktu pulangnya nanti..wakakakak...

    memang, kenyamanan berbanding lurus dengan harga yach :D hahahaha

    ReplyDelete
  3. nice artikel :D

    ReplyDelete
  4. Saya mau tanya : Rekomendasi hotel murah di jepara yang aman dan letaknya di pusat kota dan jaraknya gak jauh-jauh dari pantai kartini.

    Mohon dijawab,,

    ReplyDelete
  5. Terima kasih sudah datang!

    Hotel murah (dan satu-satunya) ada di postingan berikutnya :D Namanya penginapan Kotabaru, silahkan dicari ya Pak :D

    ReplyDelete
  6. hotel murah di semarang banyak sekali dijumpai di sudut2 kota

    ReplyDelete