
Terletak di One Pacific Place, SCBD, sebelah Hotshot burger dan di lantai tertinggi, Ti Amo memang menarik untuk dikunjungi atau bagi anda yang hanya ingin mencicipi desa Italia ini. Hal pertama yang patut diacungi jempol adalah arsitektur dan interior ruangan yang dibuat sangat cozy, hommy dan jauh dari kesan modern minimalis. Dinding Batu bata dengan sedikit tempelan batu-batu kali sebagai semacam sejenis "perbaikan dinding" mencitrakan Italia begitu kuatnya (atau lebih tepatnya desa di Eropa Tengah). Bangku-bangku yang laksana terbuat dari kayu dengan hiasan ayam jantan, lukisan dinding yang kompleks hingga hiasan keramik dan mosaik keramik semakin memperkuat citra tersebut. Tak lupa, hal ini diperkuat dengan pintu kayu, lampu antik (jaman Glasgow?), tempat bumbu yang penuh ukiran dan lentik, serta hiasan tanaman merambat dan kering seperti yang tumbuh banyak di daerah Mediterania. Apabila anda berjumlah minimal 5 orang, maka anda bisa memesan lokasi tertinggi di Pacific Place sebagai lokasi perjamuan anda. Dengan bentuk seperti gazebo taman dengan hiasan tanaman merambat dan kebuh dan bush di sekelilingnya (anggur?) plus keramik-keramik utuh, pecah maupun mosaik dijamin semakin membuat anda betah memanjakan mata anda. Jangan lupa, foto kenangan tersebut agar anda bisa mengingat, betapa kuatnya Italia (atau Eropa Tengah disini).
Soal makanan, saya tidak berkomentar banyak. Pertama, tentu ini berkaitan dengan selera. Cita rasa Italia dan Pizza terautentik Eropa memang harusnya berada disini mengingat resepnya sendiri pun didapat dari keluarga disana. Namun bagi saya, orang Asia Jakarta yang sudah bergaul dekat dengan pan pizza, pizza bukanlah pizza apabila tidak tebal. Ya, saya bukan aliran yang menyukai pizza tipis dan mirip seperti cracker. So, secara umum ras

Makan di Ti Amo sungguh merupakan pengalaman yang menarik. Pada malam itu, bangku sebagian besar memang tidak terisi. Hanya ada 3 orang lain selain saya di dalam restoran yang tidak terlalu besar tersebut. Dua pasangan, warga lokal dan satunya lagi orang asing, sendirian. Kekurangan yang tampak kasat mata mungkin hanya pada penyajian audio. Lagu Andrea Bocelli dilantunkan oleh kaset di langit-langit. Walaupun berbahasa dan dialek unik seperti di Eropa, namun tampak jelas bahwa lagu yang diputar adalah French Song, not Italian Song. Akan lebih baik apabila Ti Amo dapat memutar musik Italia yang original instead of Perancis. Yah, walaupun saya yakin hanya sedikit orang yang menyadari perbedaan ini, namun alangkah lebih baik apabila image Italia yang sudah tertanam oleh arsitektur dan interiornya tidak kacau oleh lagu yang dialunkan.
0 komentar:
Post a Comment