Setting Candi VI sendiri agak terasing, mentok di lembah barat bagian utara. Di belakang candi, deretan pohon cemara rimbun dan lebat. Tepat di sisi kanan candi, asap belerang yang mengepul membuncah ke udara. Ya, Candi VI ini terletak hampir di bagian atas posisi asap belerang yang mengepul di dasar lembah. Sambil berwisata ke Candi VI, kita bisa melihat asap belerang tadi mengepul ke udara. Sesekali, aroma belerang cukup kuat tercium di udara. Tenang, anda jauh dari sumber panas ataupun bahaya belerang ini. Candi ini tidak tampak sama sekali seperti candi utama. Dengan dua undakan puncak, ia tidak tampak seperti Candi I yang jauh lebih besar. Candi ini lebih mirip candi pendamping. Ketidakmegahan candi ini pun tampak dari reliefnya yang bisa dikatakan hampir tidak ada. Candi ini hampir polos, tanpa relief. Beberapa relief yang masih ada masih bisa ditemui di sudut-sudut sisi candi seperti menara, tangga dan kusen pintu masuk. Beberapa bentuk orang yang masih bisa ditemui adalah bentuk pengawal seperti Nandikala dan Mahaswara. Sayang, relief tersebut pun sudah tidak utuh lagi. Setelah mengalami proses restorasi bangunan, betu penyusun candi sudah tidak lengkap lagi. Namun, karena bagian atas candi masih tergolong lengkap, maka dicarilah batu yang ada untuk memenuhi kekurangan. Alhasil, bagian muka dan kaki relief Nandikala atau Mahaswara ada yang tergantikan dengan bebatuan polos saja. Beberapa batuan yang digunakan pun belum tentu berjenis sama. Ada bebatuan yang jenisnya agak berbeda, terlihat jelas dari guratan dan warna batu penyusun. Agak janggal jadinya. Seperti layaknya candi-candi sebelumnya, arca di dalam candi pun sudah tidak ada lagi. Kosong. Bagian dalam candi hanya menampilkan pedestal fondasi yang biasanya ditempati oleh arca.
Setting Candi VI sendiri agak terasing, mentok di lembah barat bagian utara. Di belakang candi, deretan pohon cemara rimbun dan lebat. Tepat di sisi kanan candi, asap belerang yang mengepul membuncah ke udara. Ya, Candi VI ini terletak hampir di bagian atas posisi asap belerang yang mengepul di dasar lembah. Sambil berwisata ke Candi VI, kita bisa melihat asap belerang tadi mengepul ke udara. Sesekali, aroma belerang cukup kuat tercium di udara. Tenang, anda jauh dari sumber panas ataupun bahaya belerang ini. Candi ini tidak tampak sama sekali seperti candi utama. Dengan dua undakan puncak, ia tidak tampak seperti Candi I yang jauh lebih besar. Candi ini lebih mirip candi pendamping. Ketidakmegahan candi ini pun tampak dari reliefnya yang bisa dikatakan hampir tidak ada. Candi ini hampir polos, tanpa relief. Beberapa relief yang masih ada masih bisa ditemui di sudut-sudut sisi candi seperti menara, tangga dan kusen pintu masuk. Beberapa bentuk orang yang masih bisa ditemui adalah bentuk pengawal seperti Nandikala dan Mahaswara. Sayang, relief tersebut pun sudah tidak utuh lagi. Setelah mengalami proses restorasi bangunan, betu penyusun candi sudah tidak lengkap lagi. Namun, karena bagian atas candi masih tergolong lengkap, maka dicarilah batu yang ada untuk memenuhi kekurangan. Alhasil, bagian muka dan kaki relief Nandikala atau Mahaswara ada yang tergantikan dengan bebatuan polos saja. Beberapa batuan yang digunakan pun belum tentu berjenis sama. Ada bebatuan yang jenisnya agak berbeda, terlihat jelas dari guratan dan warna batu penyusun. Agak janggal jadinya. Seperti layaknya candi-candi sebelumnya, arca di dalam candi pun sudah tidak ada lagi. Kosong. Bagian dalam candi hanya menampilkan pedestal fondasi yang biasanya ditempati oleh arca.
Label:
Jawa Tengah
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
beneran jelajah candi nih cak :)
ReplyDeletehihihi....untungnya satu kompleks...hehe
ReplyDeletedi sini aku liat sepasang remaja berpelukan dan berciuman dengan ganas seakan langit-bumi udah ga eksis. dasar tengik!
ReplyDeletehihihihi....mbok ya kalau pacaran tuh liat-liat tempat ya ^_^
ReplyDeletemereka ngga serem yah pacaran dengan alas Candi berusia ratusan abad. kalau aku sich, jujur ngeri. takut kualat!