Dengan banyaknya resort, hotel, maupun penginapan yang ada di Parapat, tak ayal kota ini menjadi lokasi favorit bagi para pelancong yang ingin menikmati kecantikan alam Danau Toba. Namun, bagi mereka yang berjiwa petualang dan lebih gemar mengeksplorasi, umumnya akan melewati Parapat dan langsung menyebrang menuju Tuk-Tuk Siadong, kota resort yang berada di seberang Parapat, di sisi Samosir. Kota Parapat sendiri pernah meraih masa jayanya pada era 1990an. Kota ini ramai dikunjungi oleh turis-turis dari luar negeri, baik dari Asia hingga Eropa dan Amerika. Sayangnya, karena krisis moneter tahun 1997, kota ini seakan berhenti berdenyut dan mati suri walaupun usaha pengembangannya masih dilakukan hingga kini. Kota Parapat sedikit banyak memang mengingatkan saya pada kota lama yang pernah Berjaya namun akhirnya ditinggalkan namun tidak benar-benar mati sempurna. Beberapa bangunan tampak menjadi saksi kebesaran kota ini pada masa lampau seperti Parapat Theatre yang terbengkalai dan tidak pernah digunakan lagi.
Tujuan akhir saya kali ini memang bukan di Parapat. Agenda perjalanan saya masih panjang. Tujuan akhir saya adalah Kota Ajibata, kota yang bersisian langsung dengan Parapat namun sudah berbeda kabupaten. Kalau Kota Parapat adalah kota resort dan wisatanya, maka Ajibata adalah kota transportasinya. Segala macam bentuk penyebrangan dari Ajibata ke Tomok dilayani disini, baik orang perorangan, sepeda motor, mobil, hingga kendaraan angkut besar. Namun, untuk pelabuhannya, memang dibedakan antara kapal besar dengan kapal kecil yang hanya mengangkut orang/motor. Ya, Selamat Datang di Parapat!
kalau dari pekan baru berapa biaya bas dan lamanya waktu ditempuh?
ReplyDelete