Sayangnya, kamis sore, 18 Desember 2008 ketika saya menjejakkan kaki di Balai Kartini, pengunjung yang datang sangat sedikit. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Cukup sedih melihat situasi pameran seperti ini. Para penjaga stand pun tampak ogah-ogahan menjaga stand mereka, walaupun beberapa diantaranya ada yang memakai pakaian adat full dan tetap dengan anggun

Di luar itu, beberapa stand tampak sangat seadanya menampilkan kekayaan daerah mereka. Sungguh sayang memang. Beberapa stand bahkan ada yang belum buka, kosong sama sekali atau ditutup terlalu dini. Pemkot Pematang Siantar cukup mewah, mereka bahkan mendatangkan Betor BSA khas Siantar dan membagi bagikan rokok marcopolo gratis kepada pengunjung. Rokok Marcopolo ini memang khas Pematang Siantar.
Selain berupa pembagian-bagian brosur, kain-kain khas daerah masing-masing, kerajinan tangan, perhiasan, makanan khas daerah dan produk unggulan tambang daerah, anda juga bisa menyaksikan beberapa stand lain non-daerah seperti stand dari departemen tertentu, otorita Asahan, hingga Bank Sumut (standnya kosong!). Panggung besar yang berdiri megah di sisi ruang pameran pun tampak kosong dengan ketiadaan atraksi sama sekali pada hari kunjungan saya. Sungguh sayang. Informasi mengenai pameran ini sendiri saya dapatkan dari running text yang ada di Mtero TV. Seandainya saya tidak melihat running text tersebut, mungkin saya juga tidak akan berkunjung ke pameran ini.
Yah, diluar dari kelebihan atau kekurangan yang ada, ada baiknya kita sebagai sesama Bangsa Indonesia, turut support dalam kegiatan pemkab daerah lain di Indonesia. Apabila ada waktu, anda bisa mengunjungi pameran kebudayaan Sumut ini. Bisa jadi juga, anda malah tertarik untuk berkunjung ke Sumatera Utara sudatu saat nanti. Kalau sudah pulang, jangan lupa untuk berfoto di depan expo beserta batu granit Nias buatan yang bertuliskan Sumut Expo 2008. Dijamin, unik dan menarik. Sayangnya, saya nggak bawa kamera pada malam itu.
usaha yg bagus utuk mengenalkan potsensi daerah.
ReplyDelete