Mulai dari Gereja Blendug Immanuel di Jalan Letjend Suprapto, saya melangkah. Wilayah ini adalah wilayah yang terkenal sebagai Kota Tua-nya Semarang. Bagi penggemar Kota Tua, tempat ini adalah surga. Sepanjang jalan ini, anda akan menemukan berbagai macam bentuk gedung-gedung tua yang masih dalam kondisi baik walau tidak terlalu terawat. Gedung yang cukup terkenal dan ikonik hanya Gereja Blendug Immanuel saja di ruas ini. Sisa bangunan yang ada bergaya kolonialisme semuanya. Walau beberapa sudut jalan tampak gelap lantaran minim penerangan, bagian dari jalan ini bisa dimanfaatkan bagi anda yang gemar mengambil foto dengan shutter panjang.
Keluar dari Jalan Letjend Soeprapto, keramaian mulai tercipta. Selepas jembatan kecil yang melintasi kanal, ada Pasar Djohar, pasar yang cukup legendaris di Kota Semarang ini. Sama seperti sebelumnya, di kanan dan kiri pasar masih banyak bangunan tua bergaya kolonialisme seperti bank Jateng dan Kantor Pos. Namun,, karena sudah mendekati pasar, deretan kios-kios bergaya kuno pun mulai mendominasi area ini. Jumlah kendaraan yang melintas cukup banyak. Kalau tadi di dekat Gereja, anda cukup sukar untuk menemukan becak, maka anda bisa menemukan banyak becak yang nganggur di depan Kantor Pos. Yang menyenangkan dari becak di Semarang adalah mereka tidak terlalu memaksa. Memang sich, beberapa diantaranya terlalu berkesan cuek. Namun, untuk beberapa yang menawarkan jasanya, mereka biasanya tidak akan memaksa apabila tawaran mereka ditolak. Tolaklah mereka dengan baik-baik, siapa tahu anda butuh jasa mereka lain kali barangkali?
Dari Pasar Djohar ke Simpang Lima, praktis tidak ada objek menarik yang bisa dijadikan lokasi perhentian. Jarak perjalanan saya kala itu 2 KM. Tidak ada bangunan khas yang bisa membuat saya berkesan akan ruas ini walaupun disini anda bisa menemukan berbagai bank, rumah makan dan kantor-kantor. Jarak 2 KM ini saya lalui dengan berjalan kaki. Lumayan juga. Yang jelas saya tidak akan kembali dengan berjalan kaki juga. Bisa gempor kaki ini. Hehehe. Nah, di ujung jalan ini, Simpang Lima berada. Sesuai dengan namanya, Simpang Lima adalah sebuah bundaran besar berisi taman di tengah-tengah Kota Semarang. Bundaran ini memiliki 5 buah simpang yang menuju arah berbeda-beda di kota ini. Simpang Lima terkenal juga akan koleksi hotel-hotel mewahnya yang berjajar di sekeliling serta jajanan kaki lima. Sambil memutari taman, anda bisa melihat banyak sekali pedagang makanan kecil yang berada di pinggir jalan lengkap dengan kursi-kursi plastiknya. Ada bakso, martabak, wedang ronde, sekoteng dan aneka makanan menyenangkan lainnya. Demi memuaskan hasrat saya menikmati Simpang Lima malam hari, saya menikmati semangkuk wedang ronde di tepi jalan. Wedang ronde-nya sich nggak terlalu spesial namun suasananya yang menyenangkan. Semangkuk wedang ronde dihargai Rp. 3.000 berisi tiga buah ronde berisi kacang, nata de coco, jelly, kolang kaling, dan kacang. Saya menikmati semangkuk penganan sederhana ini bersama warga Semarang lain yang turut menikmati malam sabtu yang ramai tersebut.
saya mahasiswa dari luar kota semarang, sering jalan kaki simpang lima-tugu muda bolak-balik. kampus di jalan yang menghubungkan 2 tempat itu (tahu kan universitas mana ?)emang kalo sudah biasa gak berasa jauh kok. lawang sewu di renovasi dulu. sementara wisata malam lawang sewu ditutup. pernah lamar kerja jadi guide lawang sewu, kos nya di kampung sekayu-pekunden belakang lawang sewu....
ReplyDeleteHalo Halo :D
ReplyDeleteTerima kasih sudah mau berkunjung yach :D
Iya, kalau sudah terbiasa mungkin nggak jauh kali yach? hehe...tapi saya sudah jalan kaki dari Blendug ke Simpang Lima. Hahaha..untuk melanjutkan lagi udah ga kuat. hehehe...
Masih direnov sampai skrg? semoga hasil renovnya bisa mempercantik bangunannya yach :D Trus, sudah berhasil menjadi guide Lawang Sewu? pasti keren yach kalau sampai ada wisata malam regulernya. :) hehe...salam kenal dan terima kasih infonya yach...hehe :D
Sebenarnya banyak obyek menarik dari Johar-Simpang Lima. Misalnya, di dekat Kantor Pos Besar Johar ada hotel Dibya Puri yang sempat jadi saksi sejarah perang kemerdekaan. Hotel itu menawarkan menu yang sangat jadul dan seksi, misalnya bir pletok. Menjauh sedikit dari Johar kita bisa mengambil jalan Pemuda, di mana ada rumah makan Oen yang sudah ada sejak jaman Eyang saya masih hidup. Kami sekeluarga jaman dahoeloe sering sekali makan di sini (jaman dulu restoran elit hanya segelintir, jadi kami tak punya banyak pilihan). Dan eksterior, interior, sampai pernak-pernik bahkan stoples cemilan di sini masih seperti yang dulu, persis lagunya Dian Pishesha. Kalau rindu almh. ibu, saya suka makan di sini sendirian, berlama-lama, sambil memesan semua menu favoritnya dan makan dengan tenggorokan tercekat karena menahan tangis. Dari Oen menuju Simpang Lima yang terdekat adalah jalan Gajah Mada. Di seberang hotel Quirin (ini juga hotel kuno, sangat manis) kita bisa menjumpai deretan sate ayam yang model makannya lesehan. Menurut saya sate-sate di Gajah Mada adalah sate ayam yang paling enak di dunia. Tempat ini juga merekam banyak memori karena sudah eksis sejak jaman saya masih piyik. Lepas dari punya memori atau tidak, sungguh menyenangkan makan sate sambil lesehan santai menikmati malam, terus pulangnya rambut bau asap. Hahaha...
ReplyDelete