Saya bersyukur, pestanya masih berlangsung hingga sesiang itu. Sayangnya, saya sudah terlalu siang mencapai Balusu. Kerbau terakhir sudah dibantai siang itu. Saya hanya melihat sisa-sisa daging yang disayat dan dipotong-potong dalam potongan kecil. Kepala kerbau sudah terpotong dan teronggok diantara gelondongan kayu. Satu halaman tersebut dibalut dalam kain panjang warna merah yang disablon ukiran Toraja. Keluarga utama berkumpul di dekat Tongkonan utama sementara itu anak-anak sang almarhum berkumpul di pendopo buatan yang dibuat dengan bambu. Saya kebingungan ketika pertama kali mencapai tempat ini. Walaupun banyak sekali orang ramah yang tersenyum kepada saya, namun saya bisa memastikan tidak ada satupun turis di tempat ini. Dengan penglihatan sekilas saja, saya sudah tahu, bahwa sayalah satu-satunya wisatawan di tempat ini. Semuanya adalah orang Toraja asli. Waduh, bagaimana ini? Nggak lucu donk kalau sudah sejauh ini terus mundur?
Saya agak bingung sehingga saya terpaksa bertanya kepada salah seorang pemuda yang tampaknya panitia di acara ini. Pemuda tersebut tampak menunjukkan keheranannya akan kehadiran saya, namun cepat berganti menjadi ramah dan membantu saya begitu ia tahu bahwa saya adalah turis. Dari penjelasannya, saya jadi tahu bahwa tidak ada turis sama sekali di tempat ini. Ini adalah murni acara keluarga. Walau demikian, turis atau wisatawan sebenarnya diterima dengan tangan terbuka. Orang Toraja berfilosofi bahwa, tamu yang datang dari jauh adalah berkah. Walaupun saya tidak memiliki hubungan darah atau kekerabatan dengan keluarga almarhum, saya tetap akan diterima dengan baik di tempat ini.
Pemuda tadi menunjukkan istri dari bapak yang meninggal tersebut. Bapak tersebut meninggal dalam kurun waktu satu minggu lalu. Hari ini adalah pesta penyembelihan kerbau dan besok adalah hari penguburannya. Sayang, saya tidak mengikuti ritual ini dari pagi. Menurut pemuda tadi, tadi pagi ada acara pertarungan kerbau sebelum kerbau-kerbau ini akhirnya disembelih. Pertarungan tedong tampaknya sesuatu yang lazim untuk dilakukan pada Rambu Solo. Saya sempat bertanya pula akan tari-tarian yang sekiranya bisa menghibur penonton dan menampilkan adat kebudayaan dan kekayaan Toraja. Sayang, kata pemuda tersebut, pada Rambu Solo, tidak ada tari-tarian adat atau bunyi-bunyian.
Saya menyudahi kunjungan setelah melihat penyembelihan dan tidak ada perkembangan lebih lanjut dari acara Rambu Solo ini. Pemuda yang tadi membantu saya sedikit banyak bercerita tentang ritual kematian Toraja. Ia banyak bercerita tentang benda-benda pelengkap upacara, istilah, bahasa Toraja, ritual yang berlangsung dan hal-hal lainnya. Menyenangkan sekali mendengar ceritanya. Walaupun sibuk, ia baik sekali mau mendampingi saya yang jelas-jelas turis dan tidak memiliki pemahaman apapun akan Rambu Solo. Pemuda ini menjelaskan saya banyak hal akan kebudayaan Toraja. Hebat! Sayang, saya harus bergegas pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore dan awan gelap berarak memenuhi Kampung Balusu. Saya segera berpamitan kepada ibu istri almarhum namun ditawari daging untuk dibawa pulang. Saya terheran-heran. Saya menolak dengan halus karena harus menempuh perjalanan cukup jauh. Namun, ibu itu memaksa. Waduh. Gimana nich? Hehehe. Membawa daging ke Rantepao kayaknya bukan ide baik. Saya nggak bisa mengolahnya dan lagipula bukankah akan berguna lebih banyak kalau diberikan pada tamu lain yang lebih membutuhkan daripada saya. Memang sich maksud ibu tersebut baik, namun akhirnya saya harus menolak dengan tegas dan mengatakan alasannya kepada beliau. Beliau bisa mengerti dan mengijinkan saya pulang. Saya sangat berterima kasih atas tawaran ibu tersebut yang sangat murah hati.
mungkin ibu itu bingung dan heran, lalu bertanya tentang silsilah dan hubungan kerabat karena mas lomar berbeda sendiri dengan orang-orang lain yang datang. hehe..
ReplyDeletehmm... jadi dugaan mas lomar tentang banyaknya turis yang datang itu salah ya? ternyata memang hanya acara keluarga saja..
oh ya, mayatnya sudah seminggu meninggalnya, apakah sudah diawetkan atau bagaimana? kalau belum diawetkan pastinya sudah membusuk. lha orang meninggal udah 2 hari aja baunya udah anyir..
hehehehe...iya, bisa jadi juga tuh. "Nich orang Jepang darimana nich?", gitu kali yach pikir si ibu...hahahaha...ngarep :P
ReplyDeleteIya, saya agak terkejut dengan tidak adanya turis di Balusu. Untung, saya nggak mati gaya. Sok kenalan saja dan untungnya Orang Toraja cukup welcome terhadap tamu untuk Rambu Solo ini :) Jadinya, saya diterima dengan baik dech :)
Hmm...soal mayat itu, itu yang saya nggak tahu dan nggak bertanya. Mungkin ada semacam cara untuk mengawetkan atau bagaimana kali yach, seperti di Trunyan, dimana mayat yang diletakkan di bawah pohon taru menyan tidak berbau busuk sama sekali, namun terurai secara alami oleh alam. Mungkin ada rekan-rekan dari Toraja yang bisa membantu? :)