Pagi itu, sinar matahari menerobos lembut Nini’s Guest House. Suara ombak berdebur pelan dipadu dengan suara burung berkicau. Ah, siapa yang ingin beranjak dari tempat tidur saat begini? Angin pagi yang segar menerpa wajah saya ketika saya keluar dari penginapan. Keuntungan dan kelebihan dari posisi Nini’s Guest House adalah pemandangan ke segala arah yang hampir tidak terhalang serta angin yang berhembus terus. Pua Janggo terlihat cantik kehijauan dengan sinar matahari pagi yang lembut. Beberapa ekor kambing terlihat berjemur di tepi jalan. Saya malah sibuk mencari angkot atau apapun yang bisa membawa saya kembali ke Makassar. Pagi itu ternyata saya tidak menemukan adanya kijang satu pun, padahal pagi itu waktu sudah menunjukkan pukul 7. Tidak mau kecolongan, saya segera memburu satu pete-pete yang beristirahat di tepi pantai. Bapak tersebut berkata ia hanya melayani rute Tanaberru-Bira saja, nanti pada pukul 9 pagi. Beliau menambahkan, sukar mencari kijang dari Bira, lebih mudah dari Tanaberru. Terlepas dari ia berkata jujur atau tidak, ia menawarkan jasa temannya yang memiliki kijang untuk mengangkut saya dari Tanaberru ke Makassar. Ya sudahlah, saya nggak mau ambil pusing, saya iyakan saja untuk naik pete-petenya pada jam 9 nanti. Habis, pagi itu saya nggak melihat adanya kijang satu pun seperti yang dikatakan orang-orang. Entah kepagian atau apa, namun saya merasa lebih aman jika sudah memiliki pegangan.
Setelah memiliki pegangan, saya main-main sebentar donk di pantai. Rugi bener kalau langsung bersiap-siap untuk pulang. Kemarin kan saya hanya menghabiskan waktu sedikit sekali di pantai. Jadi pagi itu saya sedikit menghabiskan waktu di pantai dengan bermain air. Walaupun bukan hari libur, sudah banyak wisatawan lokal yang pagi itu sudah bermain air di pantai. Mungkin mereka datang dengan minibus yang dicarter, pikir saya. Beberapa turis asing bahkan sudah bersiap untuk berjemur di tepi pantai, lengkap dengan tikar tidur atau kursi pantai. Nggak hanya turis, geliat para pencari uang di Tanjung Bira pun sudah terasa pagi itu. Pedagang kerang dan aksesoris hingga pedagang makanan ringan sudah membuka lapak mereka pagi itu. Beberapa perahu tampak baru kembali dari melaut atau mengantarkan penumpang dari Pulau Lihukan dan Pulau Betang. Inilah suasana pagi Tanjung Bira. Seandainya saya tidak ingat pulang, pasti saya masih bermain-main di pantai. Pantai ini memiliki bagian yang terhalang bebatuan karang sehingga sinar matahari tidak langsung membakar kulit, saya bisa berteduh di bawahnya.
Saya sudah cukup lama tidak berkunjung dan menikmati indahnya panorama, serta sejuknya pasir putih dan air di pantai Bira Bulukumba. Kerinduan itu sedikit terobati dengan membaca tulisan anda. Izinkan dan maafkan saya memuat ulang tulisan ini ke blog saya dengan alamat http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2010/12/aktivitas-pagi-hari-di-bira-cari-pete.html, terima kasih
ReplyDeletehehehehe....senang rasanya bisa membantu anda dalam menemukan kembali Bira dan mengobati kerinduan anda :) Iyah, Pantai Bira memang bikin kangen. Terutama tentang pasir putihnya yang unik itu. :)
ReplyDeleteTerima kasih sudah memuat ulang tulisan saya ini. Semoga keindahan Bira semakin disebarluaskan :D