Seperti yang saya sudah ungkap sebelumnya, Kota Makale tidak terlalu luas. Pusat kotanya hanyalah sebuah kolam buatan berukuran besar yang dihiasi oleh patung besar Pongtiku dan sebuah gereja serta balai kota di sebelahnya. Balai kota ini menjadi semacam titik pusat kegiatan masyarakat yang pada waktu itu diramaikan oleh anak-anak sekolahan tadi. Saya mulai berputar berkeliling kota beberapa kali hingga agak ke pinggir. Hasilnya nihil. Saya bahkan telah melewati Pasar Makale, bahkan hingga ruas jalan alternatif yang mengarah ke Enrekang. Setelah cukup lama mengemudi, saya akhirnya pasrah dan bertanya, apakah ini ruas ke Rantepao? Untung saja saya bertanya. Kalau tidak, mungkin saya bablas sampai Enrekang dan saya tidak jadi makan siang. Hahaha...Oleh penduduk yang baik hati (terima kasih yach, Bu!) saya ditunjukkan arah balik menuju Rantepao. Ketika kembali, saya pun tidak mendapatkan sama sekali restoran atau rumah makan yang dapat menyelamatkan (perut) saya. Apa boleh buat. Mungkin jawabannya ada di Rantepao, begitu pikir saya. Saya mengarahkan kembali motor saya ke Rantepao. Rasanya sudah satu jam saya berkeliling mencari makan. Sampai lemas badan saya dibuatnya. Walaupun berhawa sejuk, namun sengatan matahari di Makale tidak boleh dianggap enteng. Lama kelamaan juga bisa membuat saya menjadi pusing apabila terlalu lama berada di bawah terik matahari. Saya sudah ingin berteduh saja rasanya. Tidak ingin mencari makanan, ingin segera kembali ke kamar dan berteduh. Entah tiba-tiba darimana saya melihat, terlintas di sebelah kiri saya ada sebuah rumah makan yang agak tertutup. Beberapa motor terlihat diparkir di rumah makan tersebut. Akhirnya, sebuah rumah makan!
Saya masuk ke dalam sebuah rumah yang difungsikan menjadi rumah makan. Beberapa bangku dan meja ditata di tengah ruangan. Beberapa anak kecil bermain-main di ruangan sebelah. Saya duduk di sebuah meja dengan pemandangan sebuah sawah di Makale. Lumayan, pikir saya. Angin sejuk berhembus menyegarkan saya yang sudah kelelahan mencari rumah makan. Saya mengambil menu yang dilaminating. Tampak jelas tertera di menu bahwa rumah makan ini adalah rumah makan makanan Jawa. Menu-menu seperti nasi goreng, mi goreng, ayam goreng terpampang jelas di kertas menu. Saya jadi bingung mau pesan apa. Sayang juga jauh-jauh ke Makale namun makanan yang dipilih adalah makanan a la Jawa. Sayangnya, saya sudah tidak memiliki banyak kesempatan untuk memilih lagi. Banyak makanan yang sebenarnya ingin saya coba, namun si mbak berkata habis berkali-kali setiap saya memilih salah satu menu yang terdengar eksotis maupun unik. Akhirnya, dengan letih, pilihan jatuh ke nasi goreng. Si mbak yang menerima pesanan saya berkata nasi gorengnya merah, mungkin sesuatu yang unik, begitu pikir saya.
Ruang makan rumah tersebut biasa saja dan sederhana. Yang menarik untuk saya hanyalah pemandangan sawah yang saya dapat begitu duduk di dalam rumah makan tersebut. Di sisi seberang, ruangan ini memiliki televisi yang menyajikan berita-berita terkini pada siang hari. Tidak tampak adanya wisatawan asing makan siang di rumah makan tersebut. Pengunjung yang datang hanyalah warga lokal saja.
Menyudahi kunjungan saya, saya bergeras ke kasir dan diterima oleh mbak belia tadi. Harga makanan yang saya makan Rp. 12.000. Cukup murah menurut saya terlebih hitungan saya harusnya masuk ke dalam kategori turis. Uang kembalian saya sebesar Rp. 8.000 dicari lama sekali. Agak kurang siang mengantisipasi pengunjung datang nich menurut saya. Tak bisa terlalu lama, saya segera mengarahkan kendaraan saya menuju utara, kembali ke Rantepao.
Manggasa Guest House adalah penginapan keluarga di Makale Tana Toraja ( http://manggasaguesthouse.blogspot.com )
ReplyDelete