Jauh sebelum kami memasuki Parapat, di atas

Kota Parapat sendiri tampak seperti kota kota di belahan bumi lainnya, cenderung mirip area timur tengah bahkan palestina di beberapa sudutnya. Hal ini semakin jelas dengan tembok tembok batu besar yang menglilingi beberapa ruas jalan sehingga tampak seperti di dalam lorong batu. Patung besar manusia dengan pakaian adat Sumatera Utara tampak menyambut kami di bibir pantai.
Dengan harga tiket masuk 5000 rupiah per mobil, kami memasuki kota wisata tersebut. Jalan utamanya bukan jalanan yang lebar dan d

Parapat sendiri merupakan lokasi terbaik bagi para turis untuk menikmati alam Danau Toba maupun sebagai lokasi penyebrangan menuju Samosir. Segala macam bentuk dukungan wisata mulai dari restoran hingga penginapan tersedia disini dengan rentang harga murah hingga berkelas sekalipun. Salah satu hotel yang kami singgahi dan kami jadikan sebagai tempat menginap di Parapat adalah Hotel Family yang terletak di jalur utama kota tersebut. Dengan harga per malam 100.000 rupiah untuk 3 orang, kami sudah bisa menikmati tidur lumayan di kota kecil berhawa sejuk tersebut.
hal hal lain yang dapat anda nikmati di Parapat adalah segala macam bentuk rekreasi airnya, seperti berenang di Danau Toba (airnya Jernih dengan Pasir putih!), main perahu dayung, main perahu bebek, menikmati Danau Toba dari sisi dermaga dan banyak lainnya. Tak heran, beberapa muka turis asing nampak menghiasi kota ini, selain didominasi oleh orang Batak tentunya dan wajah Oriental Cina Medan. Dengan jarak tempuhy kurang lebih 4-5 jam dari Medan via Tebing Tinggi dan Siantar, kota ini layak menjadi primadona akhir pekan anda.
0 komentar:
Post a Comment