Sayang kalau sudah sampai disini tidak sampai turun ke dermaga. Adrenalin saya sedikit diuji ketika menuruni tangga menuju dermaga. Tolong jangan bayangkan tangga yang digunakan adalah tangga besi yang dilas atau tangga perman
Ah, saya sudah sampai di Kalimantan Tengah, begitu kata saya pada diri saya sendiri ketika melihat Jembatan Kahayan dengan mata kepala saya sendiri. Selama ini, pemandangan yang hanya bisa dilihat melalui majalah, sekarang tersaji di depan mata saya plus Sungai Kahayan yang berwarna kecoklatan mengalir berkelok-kelok menuju hilir. Kehidupan di sekeliling dermaga sungguh sangat bersahaja. Segerombolan anak SMP sedang berbincang-bincang dalam bahasa lokal, sekeluarga sedang menonton tv di salah satu rumah, ada keluarga yang lain sedang bersiap-siap berangkat naik kapal yang ditambatkan ke sisi dermaga kecil ini. Apabila anda penasaran bagaimana rupa rumah panggung yang sesungguhnya, disinilah rumah panggung tersaji dengan gamblang dan jelas. Semua rumah yang terbangun di sisi Sungai Kahayan merupakan rumah panggung dengan tinggi pasak kayu yang berbeda. Ada yang dekat dengan permukaan sungai, ada yang dibangun tinggi sekali dan sebilah kayu yang dibentuk menjadi tangga yang digunakan untuk menghubungkan rumah dengan sungai. Bubu terpasang di pinggir sungai di dekat gelondongan kayu yang tidak terlalu besar yang dihanyutkan di sungai. Sebuah bilik kecil bertuliskan WC terbangun di atas dermaga persis di atas Sungai Kahayan. Mungkin anda tidak akan tertarik untuk mencobanya.
Dari sini, saya bisa menyaksikan pemandangan di seberang sungai yang sangat kontras dengan sisi tempat saya berdiri. Di seberang sana, rumah
Namun, kenyataannya, masih banyak objek menarik yang harus saya kelilingi, saya beranjak dari dermaga dan beralih kembali ke pusat kota. Kalau anda perhatikan, di sisi kanan dan kiri taman panorama Jembatan Kahayan ini terdapat pedesaan di tepi sungai yang masih cukup tradidional kalau saya bilang. Jejeran kayu ulin yang membentuk jembatan maupun jalan setapak tampak terbangun di atas desa tersebut. Beberapa pria sedang berbincang-bincang di atas jalan tersebut sambil duduk duduk santai. Disela-sela jalan tersebut, saya mendapati rumah-rumah kayu khas Kalimantan hingga kandang ternak seperti babi. Ah, eksotisme Kalimantan Tengah. Apalagi yang kurang coba?
0 komentar:
Post a Comment