Selepas dari dasar lembah karst, dengan masih di jalan setapak yang mulai hancur dan dirintangi oleh beberapa batang pohon yang tumbang, saya memasuki areal hutan. Lembah karst sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah pepohonan pakis lebat yang agak berantakan saling tumpang tindih bahkan roboh menghalangi jalan setapak. Sinar matahari menyorot dari sela-sela pepohonan tersebut. Suasana masih tetap seram apalagi keheningan yang ada semakin menambah kesan tersebut. Keramaian jauh lebih berkurang walaupun di beberapa titik ada penjual makanan ringan yang membuka lapak sederhana di tempat ini. Agak aneh buat saya, kayaknya tidak semua orang akan berkunjung sampai jauh ke lokasi ini. Apa iya dagangan mereka akan laku? Saya melihat sejumlah dagangan tersebut bahkan sudah agak berdebu.
Menjelang ujung jalan, jalan setapak mulai melebar walaupun wujudnya sudah berupa jalan tanah seutuhnya. Jalanan disini terbagi dua, satu lurus dengan sedikit tangga, satu lagi ke kanan menurun. Jalan yang lurus adalah jalan menuju Gua Batu, tempat Makam Raja Bantimurung berada. Di ujung anak tangga tersebut terdapat sebuah kios kecil yang banyak terdapat sejumlah senter besar dengan seorang pria berjaga di dalamnya. Suasana masih tetap sama, berada di dalam rerimbunan pepohonan lebat. Pria tersebut menawarkan saya untuk masuk ke dalam Gua Batu guna melihat Makam Raja Bantimurung. Melihat kegelapan dan senter yang ditawarkan, saya langsung menggeleng menolak. Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, saya tidak suka wisata kegelapan kalau masih bisa memilih. Saya tolak tawaran pria tersebut dengan halus dan saya beranjak menuju jalan ke arah kanan, menuju Danau Toakala.
Konon, beberapa tahun silam, danau ini tidak dipagari. Pengunjung bisa memasuki danau ini dengan bebas, berbeda dengan saat ini dimana pengunjung yang kebetulan berjalan bersama saya hanya bisa memandangi danau ini dari balik luar pagar besi tinggi. Danau tersebut dipagari karena ada kejadian pengunjung yang tewas tenggelam di karena berenang di danau ini. Memang, ada sebuah papan petunjuk berbahaya “Warning Dilarang mandi/berenang di areal danau Sangat berbahaya”. di bawah tulisan tersebut ada gambar tengkorak dan di bawahnya ada tulisan “Dangerous Area”. Kata pria yang tadi menawari jasa senter untuk masuk ke dalam Makam Raja Bantimurung, walaupun tenang, di bawah danau tersebut ada pusaran air maut. Itulah mengapa pengunjung yang nekad berenang bisa tewas terseret pusaran tersebut. Walau ada penjelasan ilmiah, seringkali kejadian tersebut dikaitkan dengan hal-hal mistis mengingat danau ini yang berada jauh dari keramaian dan ditutupi oleh gelapnya rerimbunan pepohonan. Hiyyyy…
Ngga banget deh berkunjung ke danau ini sesudah gelap. Saya menyarankan, sebaiknya anda membawa teman kalau nekad berkunjung ke danau ini. Bukan apa-apa, suasana lokasi yang terlampau sepi (kurang lebih 800 meter dari air terjun) mungkin agak kurang aman bagi anda. setidaknya, bergabunglah dengan pengunjung taman lain apabila ingin berkunjung ke Danau Toakala ini. Untuk anda yang menyukai keheningan dan ketenangan, mungkin disinilah tempatnya.
danau toakala mmg seram....
ReplyDeletetapi tempat itulah yg membuat sy dan tmn2 sy suka k bantimurung
Halo Lilik :D
ReplyDeleteHehehe...keseramannya malah membuat daya tarik yang luar biasa yach? :D