Makan Malam Pertama Karimunjawa


Makan apa yach di Karimunjawa? Secara, tempat ini merupakan gugusan kepulauan, jadi yang terpikir oleh saya hanya satu : hasil laut! Yeah, seafood adalah pilihan tepat ketika saya berada disini (Saya sich nggak yakin akan mengatakan hal yang sama ketika sudah 4 hari lebih atau lebih dari seminggu berada disini).
Jadi, disinilah saya, malam hari, menantikan makan malam yang tepat untuk saya. Setelah semangkuk bakso kuah meluncur mengisi rongga lambung saya sore tadi (maaf saja, rasa baksonya tidak spesial dan rata-rata, hampir sama sepeti daerah manapun di Jawa yang pernah menjual bakso), akhirnya saya memesan ikan bakar di salah satu kedai makan di alun-alun Karimunjawa yang ramai pada malam itu. Karena kebetulan malam itu adalah malam minggu, maka berhasillah saya mencoba mencicipi menu makanan di alun-alun. Maklum, kalau bukan malam minggu biasanya akan sukar ditemui aneka penjual makanan di alun-alun. Menu makanan yang tersedia malam itu sebenarnya bukan hanya ikan sih, namun ada juga pilihan lain misalnya ayam. Tapi, h-e-l-l-o, kita sedang berada di Karimunjawa! Harusnya, kita mencoba setidaknya ikan atau hasil laut lainnya donk! Kebetulan, warung si ibu tidak menyediakan hasil laut lain untuk tangkapan pada malam itu. Jadilah, kami memesan satu dari sekian ikan yang paling terlihat menggiurkan dan jelas (walaupun namanya saya lupa sama sekali hahaha).
Sekali lagi, entah karena diolah dengan terlalu tradisional, atau faktor lain saya tidak tahu, rasa ikannya enak, tapi tidak membuat saya untuk terus mengingatnya kembali. Enak rasa ikannya standard untuk ikan perairan laut bebas di sekitar kepulauan. Sambalnya lumayan karena agak pedas namun tidak terlalu memberikan kesan yang mendalam untuk saya. Padahal, proses membakarnya cukup lama loch, sampai menimbulkan asap tebal di sekitar tenda. Para pembeli lain malam itu cukup cerdas dengan menggelar tikar atau duduk begitu saja di area kosong di tengah alun-alun. Eruntung, mereka nggak perlu makan asap dulu sebelum menikmati ikan yang sesungguhnya. Hahaha. Eits, jangan bayangkan malam itu kami makan ikan sambil gelap-gelapan yah. Alun-alun pada malam itu ternyata –secara mengejutkan- cukup terang, diterangi oleh cahaya lampu lapangan. Untuk malam malam sederhana (1 ikan dimakan dengan 2 piring nasi untuk 2 orang) tersebut dihargai 18.000 rupiah. Makan malam tersebut sudah termasuk dua gelas air jeruk nipis hangat yang sangat-sangat menyegarkan. Yah, bersyukurlah anda yang kebetulan ‘terdampar’ di Karimunjawa pada akhir pekan. Anda bisa memuaskan hasrat kuliner anda dengan menikmati aneka macam makanan yang mungkin hanya akan anda temui pada akhir pekan saja. Selamat makan!

3 komentar:

  1. yeay akhirnya Lomie posting lagi :D
    wah kok kesannya terhadap kuliner Karimunjawa semua standar ya? kalo gitu apa dong makanan khas dari sana?

    ReplyDelete
  2. @Anno : maklum, sindrom males postingnya lagi merajai...:p

    @Oom Brad : hihihihi....iyah, sindrom rajinnya cuma muncul sesaat :p actually, nggak ada makanan khas dari Karimunjawa. Karena wilayah mereka cukup terisolasi, maka mereka nggak memiliki makanan khas. Yang paling istimewa sih ikan yang ditangkap di laut pake tombak tradisional dan langsung dibakar saat itu juga ^^ ikan ikannya eksotis dan jarang terlihat di pasaran ^^

    tunggu postingan berikut yaaa :p

    ReplyDelete