Makan Siang Kilat Di Pagar Batu, Soposurung

Inang itu membetulkan posisi mukena yang ia kenakan ketika saya memasuki rumah makan sederhananya yang berada di Soposurung, pintu masuk Objek Wisata Pagar Batu yang berisi Makam Raja Sisingamangaraja XII dan T.B. Silalahi Center. Dengan gaya khas Batak dan raut wajah yang keras, Inang itu menyapa saya, bertanya ingin makan apa. Ya, saya menyudahi kunjungan saya di Balige dan bersiap menuju Sibolga sore nanti. Saat ini, waktu adalah sangat berharga. Saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu karena berimbas pada keberangkatan kapal yang akan saya tumpangi menuju Gunungsitoli nanti malam. Ada sich, perasaan ingin mampir ke pusat Kota Balige. Namun, saya lebih takut ketinggalan kapal. Akhirnya, saya makan di warung Inang ini.
Makanan yang disediakan pun a la kadarnya dan tidak terlalu istimewa. Saya memesan bihun goreng dan segelas jus terong Belanda (Kayaknya, mumpung berada di wilayah Sumatera Utara, harus sering-sering minum ini dech. hehehe). Rasa makanannya pun biasa saja, khas masakan rumah. Standard khas bihun goreng, namun cukup mengenyangkan dan bumbunya oke buat saya. Harga makanan di kedai ini pun sangat bersahabat dengan kantong. Tidak mahal, walaupun kedai ini terletak sepelemparan batu saja dari pintu gerbang objek wisata Pagar Batu yang berisi dua objek wisata andalan Balige. Pada saat saya menikmati makan siang saya yang tertunda pun, serombongan konvoy motor turis asing memasuki pintu gerbang dan langsung menimbulkan suasana riuh. Pemandangan ini cukup menarik minat saya walaupun sang Inang tampak biasa-biasa saja. Tampaknya objek wisata Pagar Batu ini telah menjadi semacam komoditas unggulan bagi Balige dan Toba Samosir. Perkiraan saya, mereka datang berkonvoy naik sepeda motor dari Tuk-Tuk sana, surganya para turis asing. Walaupun masih mungkin, namun saya rasa sangat jarang turis asing tinggal di Balige dan meninggalkan pesona Tuk-Tuk sebagai lokasi pilihan favorit mereka.
Seorang pembeli datang (dengan pakaian tidur) untuk menikmati nasi goreng Sang Inang. Sambil ia duduk, sang Inang pun mengobrol dengannya, kemudian mengarah kepada saya. Sudah barang tentu, penampilan saya yang sangat bukan-warga-lokal telah memancing sang Inang untuk bertanya. Saya ceritakan saja, bahwa saya berasal dari Tarutung, menuju Balige untuk melihat makam Ompu Sisingamangaraja XII dan T.B. Silalahi Center, serta akan bertolak menuju ke Sibolga dalam rangka menuju Nias. Sang Inang terperangah lebih lanjut ketika ia tahu bahwa saya pergi seorang diri. “bisa jantungan mamak kalau anak Inang pergi-pergi seperti ini”, begitu katanya sembari mensyukuri bahwa anaknya tidak pernah pergi seliar saya. Hihihihi. “Tidak takutkah, adek?”, begitu tanyanya setelah ia berhasil mengendalikan rasa kagetnya (nampak jelas sebab beliau mengelus-elus dada dan mimiknya terperangah). Saya jelaskan bahwa saya tidak takut. Saya jelaskan lebih lanjut, justru orang jahat itu lebih banyak berada di kota besar. Dengan saya yang berasal dari Jakarta, nampaknya justru saya harus lebih takut pada lokasi kediaman saya sendiri, bukan? Saya jelaskan lagi, sepanjang perjalanan saya yang sudah mencapai 4 hari di belantara Sumatera Utara ini, saya justru menemukan orang-orang terbaik dalam hidup saya ini. Hmm...saya bisa melihat senyum tipis menghiasi wajah sang Inang yang memang keras, sangat khas Batak tersebut.
Obrolan berlanjut semakin kental antara saya, Sang Inang dan pengunjung lain. Sembari menikmati makan siang, saya mengobrol tentang berbagai kondisi di Sumatera Utara ini. Sayang, saya harus menghabiskan makanan dengan cepat dan segera meluncur ke jalan untuk mencari angkutan menuju Sibolga. Saya tidak bisa berbincang lama-lama dengan Sang Inang. Ah...andai saya memiliki waktu lebih di tempat ini. Saya menyudahi percakapan saya dengan Sang Inang dan pembeli lainnya. Untuk makanan yang saya konsumsi, saya hanya cukup membayar Rp. 16.000 saja! Harga yang sangat murah, kembali lagi mengingat Pagar Batu adalah gerbang wisata andalan Toba Samosir. Teriring dengan doa semoga Tuhan beserta saya dan agar selalu berhati-hati dari Sang Inang, saya kembali menuju ruas Balige – Tarutung.

2 komentar:

  1. Pertanyaan, "Apa nggak takut pergi sendirian?", "Ada tujuan apa datang kesini?", atau "Ada keluarga nggak di kota ini?"

    Pertanyaan seperti ini sudah sangat lumrah ya mas didengar saat kita solo traveling. Apalagi kota yang kita kunjungi cukup jauh dari daerah asal. Terkadang orang-orang lokal seperti ini memang sangat jarang bepergian. Jangankan sampai ke luar pulau seperti Jawa, pergi ke ibukota provinsi saja mungkin cukup jarang. Makanya nggak heran deh kalau mereka sering kali kaget ketika tau ada orang dari luar pulau yang datang ke tempat mereka hanya untuk liburan. Apalagi perginya seorang diri.. :)

    ReplyDelete
  2. setuju banget, Mas! apalagi penampilan kita yang solo travelling ini memang agak beda dengan penduduk lokal yah. ihihihi....terutama dengan tas besoaaarrr di punggung itu. hehehe.

    Konsep yang ada dalam pemikiran mereka mungkin adalah : travelling harus beramai-ramai, bersama keluarga, bawa rantang dan nyiapin bekal (hihihihi), trus duduk leyeh-leyeh sambil menikmati keindahan alam di suatu tempat sambil bergosip #loch. Wah, saya bisa jamuran kalau travellingnya gaya begitu (catet : saya akan melakukan liburan tipe ini kalau tempat yang dituju sudah saya sambangi berkali-kali hihihi). Bener Mas, saya juga setuju orang-orang yang mengatakan demikian adalah orang-orang yang sangat jarang bepergian, bahkan ibukota provinsi saja sangat jarang. dua jempol untuk Mas Tri :D

    ReplyDelete