So’E atau SoE atau Soe atau apapun cara penulisannya (lain tempat, lain pula penulisan nama kota ini) adalah ibukota Timor Tengah Selatan. Berbeda dengan daerah lainnya, wilayah ini dihuni oleh gunung-gunung tinggi seperti Gunung Mutis, gunung tertinggi di Timor Barat dan Gunung Molo yang letaknya lebih dekat dengan kota So’E daripada Gunung Mutis. Secara geografis,
So’E adalah kota terbesar ketiga di Timor Barat setelah Kupang dan Atambua. Walaupun kota terbesar ketiga di Timor Barat, mengelilingi kota ini bisa dilakukan dalam waktu sehari dengan berjalan kaki. Karena memiliki iklim yang dingin, So’E pernah berjaya dengan apelnya. Sayang, beberapa tahun lalu, wabah tanaman ape
Dengan tiba-tiba saya meminta kenek untuk memberhentikan mobil saya di So’E karena tidak ada tanda-tanda sama sekali kenek maupun supir akan memberhentikan busnya padahal saya telah berkata bahwa saya akan turun di So’E. “Berapa?” saya tanyakan kepada sang kenek dan ia menjawab “limaribu”. Rp. 5.000 adalah tarif yang saya bayarkan untuk perjalanan dari Niki-Niki menuju So’E, baik dengan bus maupun angkot kecil. Ya, sek
Ya, saya benar. Saya benar-benar turun tepat di Jalan Diponegoro, jalan sebelum Achmad Yani ketika saya akan meninggalkan So’E menuju Kefa Menanu. Harusnya dari lokasi tempat saya berdiri ini, ada kantor informasi pariwisata So’E yang terlihat dengan jelas. Namun, beberapa kali bolak-balik dan mengelilingi area –masih dalam balutan gerimis- saya menyerah. Tidak ada lokasi atau apapun yang menunjukkan tanda-tanda sebuah kantor ada disana. Entah perasaan saya saja atau karena hujan gerimis yang turun. Saya merasa, bahwa kota ini jauh lebih sepi dibanding Kefa Menanu. Apakah saya berja
Saya memulai perjalanan saya dari Jalan Muhammad Hatta, perempatan antara Jalan Diponegoro, Jalan Achmad Yani, dan Jalan Nuri. Tujuan pertama saya adalah mencari tempat makan! Saya lapar. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan saya belum mengisi perut saya dengan suatu apapun. Saya tidak yakin apabila mengisi perut di Niki-Niki, makanan tersebut bisa terbawa dengan selamat sampai di perut saya sesampainya di So’E. Menghindari buang-buang makanan dan uang tentunya, saya memilih untuk menunda makan dan baru makan sesampainya di So’E. Lagipula, saya juga tidak yakin masakan Padang yang berminyak dan bersantan akan cocok menemani perjalanan saya.
0 komentar:
Post a Comment