Sebenarnya, saya sudah tidak terlalu berminat lagi mengunjungi danau, terlebih waktu yang sudah beranjak sore tersebut. Namun supir becak yang menawarkan saya ternyata pantang menyerah. Ia gigih dalam memarketingkan produk ini. Ia menjelaskan, bahwa Kunjungan Ke Sengkang tidak lengkap tanpa mengunjungi danau. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa banyak wisatawan yang mengunjungi danau justru pada senja ahari lantaran ingin mengamati burung perairan tawar. Kata-kata bapak ini ada benarnya juga, di Lonely Planet disebutkan, waktu terbaik untuk mengunjungi danau ini adalah senja hari, saat langit sudah berwarna lembayung. Dan...akhirnya saya tergoda juga. Hehehe. Setelah proses tawar menawar yang cukup alot akhirnya saya meminta harga Rp. 35.000 untuk diantarkan ke Setapak 9, tempat paling umum turis naik perahu ke tengah danau. Saya belum memutuskan untuk naik perahu atau tidak. Saya hanya minta diantarkan ke bibir danau saja. Saya baru akan memutuskan ketika sudah mencapai bibir danau dan melihat kondisi sekitar saja. Terlebih waktu juga sudah cukup sore walaupun beberapa sumber justru mengatakan waktu terbaik untuk mengunjungi danau adalah senja hari. Si bapak menyerah, ia mengantarkan saya ke setapak 9, tempat paling dekat dengan bibir Danau Tempe yang masih bisa dilalui becak.
Becak motor pun segera diarahkan ke utara, menuju Danau Tempe. Dari keramaian Kota Sengkang, saya masuk ke sebuah kecamatan di pinggir kota, Kecamatan Tempe. Dari jalanan aspal, becak motor masuk ke dalam pemukiman warga dengan kondisi jalan berbatu-batu. Semua rumah di wilayah ini adalah rumah panggung dengan arsitektur Bugis. Rasanya, saya seperti memasuki pedalaman dimana kehidupan Sengkang yang bergerak cepat tiba-tiba melambat di Kecamatan Tempe ini. Rumah-rumah tersebut walau bukan rumah yang penuh berhias, namun tetap memancarkan kekuatan pesonanya berkat arsitektur Bugis yang dimilikinya. Ciri paling khas yang menegaskan identitas rumah ini adalah hiasan ukiran di pucuk atap rumah, di masing-masing ujung atap. Ada alasan mengapa jalanan di tempat ini hancur berbatu-batu dan semua rumah mengadopsi bentuk panggung. Pada Bulan November setiap tahunnya, curah air di hulu Sungai Walannae umumnya meningkat. Jalanan yang anda lihat pada saat kunjungan ini akan hilang pada penghujung tahun tersebut. Jalan tersebut hilang tertutup air. Alhasil, moda transportasi yang paling diandalkan hanyalah perahu saja. Ini juga menjelaskan mengapa di bagian kolong setiap rumah panggung terdapat sebuah perahu. Jalanan yang terendam air selama kurang lebih satu bulan lamanya tentu saja akan mudah mengalami kehancuran dibanding yang benar-benar kering. Oleh karena itulah, jalanan di tempat ini tidak pernah dipercantik namun dibiarkan apa adanya karena alam akan merendam tempat ini setahun sekali. Dari tahun ke tahun, berkat tingkat sedimentasi yang terus meningkat, terkadang banjir di Danau Tempe tidak kenal musim. Karena danau sudah terbatas daya tampungnya, sekali debit air meningkat, banjir bisa terjadi lebih sering daripada biasanya.
0 komentar:
Post a Comment