Tiada Pengalaman Dan Rasa Yang Sama Di Sulawesi Selatan


Beberapa kali berkunjung ke Sulawesi Selatan, ternyata saya ingin kembali datang, lagi, lagi dan lagi. Inilah keunikan Sulawesi Selatan, hampir setiap kota dan kabupatennya, memiliki destinasi wisata unggulan yang unik dan wajib sekali dikunjungi. Sehingga, setaip kali anda berkunjung ke Sulawesi Selatan, anda tidak akan pernah mendapatkan rasa Sulawesi Selatan yang sama, selalu ada rasa yang berbeda. Kali ini, saya ingin berkunjung ke Sulawesi Selatan bagian tengah, negerinya Orang Bugis.
Walaupun menjadi primadona destinasi wisata di Indonesia dengan segala keunikan budaya dan alamnya, namun saya menjumpai bahwa banyak masyarakat di Sulawesi Selatan masih merasa asing akan kehadiran turis. Saya mengalami hal ini sendiri dalam suatu kijang –kendaraan antar kota dan kabupaten, bukan bus atau pete-pete- yang membawa saya dari Maros menuju Watansoppeng. Terus terang, jalanannya sich parah, terlebih selepas bukit-bukit di Camba sebelum tiba di Kabupaten Bone. Namun, justru disinilah saya bisa merasa dekat kepada setiap penumpang yang ada di dalam kijang tersebut. Pemandangan yang luar biasa indah di Camba begitu saya nikmati hingga lama kelamaan, saya akhirnya mabuk karena pengapnya udara di dalam kijang dan ditambah kondisi jalan yang buruk. Wah, saya terharu karena mereka membantu saya dalam melewati masa-masa mabuk ini. Satu hal yang saya sadari, mereka bertanya apa profesi saya dan apa yang saya lakukan di sana. Ketika saya jawab bahwa saya sedang berjalan-jalan dan berniat untuk melihat kelelawar di Watansoppeng, mereka terlihat bertanya-tanya dan menampilkan mimik agak terheran dengan jawaban saya. Ya, mereka masih menganggap bahwa konsep turis yang berjejalan ria di kendaraan antar kabupaten adalah sesuatu yang asing. Turis itu harusnya pergi beramai-ramai dan naik kendaraan carteran, begitu kata mereka. Namun, saya terharu akan kebaikan mereka seusai membantu saya melewati masa mabuk darat. Mereka dengan gencar dan senang hati mempromosikan destinasi wisata menarik yang ada di kabupaten mereka, termasuk misalnya pemandian air panas Lejja dan pemandian air dingin Ompo. Nggak tua, nggak muda, nggak laki-laki, nggak perempuan, semuanya berlomba mempromosikan titik-titik pariwisata di seputaran Bone dan Soppeng. Begitu memasuki wilayah Soppeng pun, mereka dengan celoteh riangnya memberitahukan bahwa saya sudah tiba di Kabupaten Soppeng. Kebaikan mereka yang terakhir ialah memberitahukan saya arah jalan untuk menikmati kelelawar yang saya cari-cari ketika saya turun di Terminal Soppeng. Sungguh, kami memang saudara, se-Bangsa Indonesia.
Memang sich, Soppeng, Wajo, Sidenreng Rappang dan Pinrang tampaknya terletak di luar jalur wisata utama Sulawesi Selatan. Namun demikian, masing-masing kabupaten yang saya katakan tadi tetap memiliki pesonanya masing-masing dan layak dikunjungi turis. Pada saat saya menyambangi tempat ini, ternyata keberadaan turis asing, bahkan toko kelontong yang buka hingga 24 jam sudah lumrah. Terlihat sekali kesiapan sejumlah kabupaten ini dalam menerima wisatawan, baik lokal maupun asing. Uniknya, masyarakat lokal masih dengan kepolosan dan lugunya selalu minta difoto apabila saya berjalan mengelilingi kota atau daerah dengan membawa kamera. Satu hal yang paling saya ingat adalah perkataan mereka, “shooting, shooting!”. Loch? Padahal saya hanya membawa kamera saku biasa, bukan kamera video besar untuk keperluan shooting loch. Namun mereka tetap dengan antusiasnya meminta saya untuk memfoto mereka.
Peristiwa lebih menarik lagi saya dapatkan di jalan setapak yang menuju ke jantung Danau Tempe. Di jalan setapak yang konon selalu banjir setiap tahun akibat luapan air Danau Tempe ini, rumah-rumahnya dibuat dengan gaya panggung dan sebuah ketinting atau perahu khas Danau Tempe berada di bawahnya. Syukurlah, pada saat kunjungan saya, Danau Tempe sedang tidak meluap sehingga becak yang saya tumpangi bisa masuk jauh ke dalam pedalaman dusun yang berada di tepi Danau Tempe. Disini, anak-anak menyambut saya dengan semangat dan memanggil-manggil “Hello Mister” berulang-ulang padahal jelas-jelas saya bukan mister! Sesampainya saya di tepi setapak, saya dikerubungi oleh anak-anak yang ingin difoto. Ibu maupun ayah mereka umumnya berada di teras rumah panggung dan tersenyum saja melihat ulah dan keceriaan anak-anak kecil tersebut. Walau masih sangat polos dan lugu, namun saya takjub juga melihat beberapa diantara mereka telah mampu mendayung ketinting untuk berlayar menuju ke tengah danau. Walaupun memang masih dinahkodai oleh pemuda yang lebih besar, namun anak-anak tersebut sudah mampu untuk membantu, entah mungkin, kakaknya dalam menavigasi arah dari perahu tersebut. Nah, walaupun Danau Tempe sebaiknya dikunjungi pada pagi hari untuk pengamatan burung-burung air, namun pemandangan pada senja hari ternyata luar biasa indahnya. Rona lembayung memenuhi langit yang semakin lama semakin temaram. Uniknya, justru di saat langit semakin temaram tersebut, saya justru menjumpai sejumlah perahu yang baru mulai berlayar menuju jantung danau. Aktifitas nelayan pada senja hari pun dimulai dan berakhir pada dini hari nanti. Tidak ada waktu kunjungan yang pas di Danau Tempe ini. Semua waktu kunjungan adalah pas, dan anda tidak akan pernah menjumpai rasa yang sama sekali lagi, sama halnya ketika anda berkunjung ke Sulawesi Selatan. Tidak ada rasa Sulawesi Selatan yang sama yang akan anda dapatkan walaupun anda berkunjung untuk kali kedua, ketiga, atau seterusnya. Sungguh, keramahan penduduk, keindahan alam serta keunikan budaya telah membuat saya jatuh cinta kepada Sulawesi Selatan, sedalam-dalamnya. Bagi teman-teman yang belum pernah mencicipi jalur tengah ini, cobalah! Dan bersiap akan jatuh cinta karenanya!

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Blog Promosi Wisata Sulawesi Selatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan CV.Mandasini Putra Utama. Kegiatan ini juga menggandeng Komunitas Blogger Makassar Anging Mammiri dan KoshMediaTama sebagai partner.


0 komentar:

Post a Comment