Sisi Lain : Berkenalan Dengan Tumeri Melalui Manggis



Kalau mengetik kata “Tumeri” di laman pencari Google, pastinya yang muncul adalah kunyit. Ya, Google menganggap kita telah melakukan kesalahan ketik “Turmeric” (kunyit dalam bahasa Inggris) sehingga, alih-alih Tumeri, hasil yang muncul adalah yang berkaitan dengan kunyit, mulai dari deskripsi kunyit, manfaat kunyit, hingga cara memasak dengan menggunakan kunyit. Hehehe. Sayangnya lagi, Tumeri juga agak sepi pemberitaan. Satu-satunya kata yang diasosiasikan dengan Tumeri hanyalah rumah adat Nias.
Tumeri adalah sebuah desa yang terletak di Nias bagian utara, konon terkenal dengan rumah adatnya yang masih terawat baik. Sayangnya, kunjungan turis nampaknya jarang menyentuh Nias bagian ini, namanya saja jarang disebut! Nah, perkenalan saya dengan desa ini justru ketika saya sedang masuk ke dalam KMP Tanjung Burang. Ketika sedang menunggu kapal berangkat, seperti umumnya, banyak sekali penjaja makanan yang hilir mudik menawarkan barang dagangannya kepada para penumpang. Barang dagangannya pun bervariasi, mulai dari roti, biskuit, air minum, hingga makanan jadi siap makan dan aneka buah-buahan. Setelah menolak beberapa penjaja, karena saya tidak berencana untuk makan dan hanya ingin tidur sepanjang malam, akhirnya muncul seorang ibu yang menawarkan salaknya kepada saya. Saya sich sebenarnya nggak terlalu berniat membeli barang di atas kapal. Dalam mindset saya, harganya pasti sudah dikerek tinggi dan nggak rasional. Namun, Ibu yang tampaknya keletihan tersebut duduk di samping saya. Ia kemudian menawarkan manggis dagangannya kepada saya. Dalam keranjang yang dibawanya, Nampak pula buah rambutan selain manggis. Ibu tersebut memohon agar saya membeli manggisnya sambil setengah mengiba. Pertama sich saya menolak. Namun, ibu itu memohon dan memohon untuk membeli barang dagangannya. Ya sudahlah yah, iseng-iseng makan manggis sambil menikmati perjalanan, hitung-hitung membantu ibu juga. Kemudian saya bertanya, “berapa harga manggis tersebut?”. Ibu tersebut menjawab “Dua ribu saja”. “Oh”, pikir saya, “dua ribu sebuah”. Lanjut ibu tersebut, “dua ribu enam” yang membuat mata saya hampir copot. “Ha? Dua ribu dapat enam bu?”, kata saya melalui mata saya. Ibu tersebut pun mengangguk-angguk. “Mau berapa pak? Dihabiskan saja yach”, sambil riang memasuk-masukkan manggis ke dalam plastik. Nah, giliran saya yang panik. “Eh, bu, jangan banyak-banyak, sedikit saja, saya coba dulu manis atau nggak. Enam saja dulu deh yah”. Seperti biasa, tawar menawar pun terjadi agar saya membeli lebih banyak, namun saya telah memutuskan bahwa saya cukup membeli 6 buah saja. Nggak kurang akal, Ibu itu menawarkan saya rambutan sebagai tambahan. Hehehe. Kegigihan Ibu itu patut diacungi jempol. Setelah transaksi selesai, dan rupiah berpindah ibu itu pun berlalu dan menawarkan dagangannya kepada calon pembeli lain. Oh ya, saya sempat bertanya, dari manakah manggis ini berasal karena sepanjang perjalanan Gunungsitoli – Teluk Dalam, rasanya sich saya nggak melihat ada kebun manggis atau penjual buah ini. Saya hanya melihat Lasi atau Langsat yang ramai dijajakan. Ibu itu menjawab dengan singkat “dari Tumeri”. Hoo…saya baru tahu ternyata ada sentra penghasil manggis di Nias. Itulah kisah pendek perkenalan saya dengan wilayah Tumeri.
Dalam menunggu, akhirnya saya memutuskan untuk memakan manggis tersebut. Saya pikir, “daripada dibawa-bawa repot, dan takut busuk karena kelupaan dimakan, mending saya makan sekarang”. Nah, mulailah saya memakan manggis yang tampaknya biasa dan kecil tersebut dan kemudian mata saya hampir copot untuk kedua kalinya! Manggis yang kecil ini luar biasa manis! Enak dan sangat segar buahnya. Dengan antusias, akhirnya saya pelan-pelan menghabiskan manggis tersebut. Eh, ketika tinggal tersisa dua buah, saya memandang berkeliling dan mencari ibu tersebut dengan maksud membeli beberapa (puluh) buah lagi untuk bekal perjalanan. Sayangnya, ibu tersebut sudah nggak ada dan penjaja yang lain tidak membawa manggis. Saya harap-harap cemas agar ibu tersebut atau siapapun dech melewati saya lagi dan menawarkan manggisnya. Sayangnya, harapan tersebut tidak menjadi nyata, bahkan hingga seluruh pedagang dan pengantar dipanggil untuk turun lantaran kapal akan segera berangkat. Ya, itulah perkenalan singkat saya dengan Manggis Tumeri yang luar biasa manis dan luar biasa murah. Saya jadi berpikir, apakah manggis ini ditanam dengan liar, ataukah memang ibu tersebut punya berton-ton manggis sehingga harganya bisa semurah itu? Langsung ide-ide mencuat di kepala saya untuk berbisnis manggis. Hahaha.

5 komentar:

  1. WOW just what I was searching for. Came here by searching for
    diarrhea remedies

    ReplyDelete
  2. Hey! This is my first visit to your blog! We are a group
    of volunteers and starting a new initiative in a community in the same niche.
    Your blog provided us useful information to work on. You
    have done a wonderful job!

    my homepage; Permanent Hair Straightening

    ReplyDelete
  3. Spot on with this write-up, I absolutely believe that this site needs a great deal more attention.
    I'll probably be returning to see more, thanks for the advice!

    My web-site ... Coconut oil for hair

    ReplyDelete
  4. Amazing issues here. I am very glad to peer your article.
    Thanks a lot and I'm looking ahead to touch you. Will you please drop me a e-mail?

    Feel free to visit my website tattoo removal cream reviews

    ReplyDelete
  5. bookmarked!!, I like your web site!

    Feel free to visit my weblog dry scalp treatments

    ReplyDelete