Juanda Dam Lake a.k.a Jatiluhur

Waduk dengan nama asli bendungan Juanda ini terletak di kecamatan Jatiluhur, kabupaten Purwakarta, propinsi Jawa Barat. Berhubung memang terletak di Jatiluhur, maka waduk ini lebih terkenal dengan nama waduk Jatiluhur. Akses yang mudah (via Cipularang-Purbaleunyi) atau Jalan Raya Purwakarta dan mulus (jalan raya-nya lebih mulus dari beberapa jalan raya di Jakarta) tidak serta merta membuat lokasi wisata ini ramai. Lokasinya yang dekat dengan Bandung dan suhu udara yang tidak terlampau dingin mungkin bisa menjadi penyebab hal tersebut.

Dengan harga Rp. 7.500 per orang dan Rp. 8.000 untuk mobil, anda sudah dapat memasuki wilayah Grama Tirta Bendung Jatiluhur. Di lokasi ini terdapat sejumlah atraksi wisata yang ditonjolkan seperti wisata hutan, hotel, pintu air Jatiluhur, restoran, tempat pemancingan, rumah makan, water park, dan tentu saja objek wisata utamanya yakni Waduk Jatiluhur itu sendiri.

Sebagai informasi, di daerah Jawa Barat terdapat tiga buah waduk besar alias danau buatan. Yang pertama adalah Waduk Saguling yang berada di wilayah Bandung, dan lainnya adalah Waduk Cirata dan Waduk Jatiluhur yang berada di wilayah Purwakarta. Mata air utama berada di Saguling, kemudian limpasannya dialirkan ke Cirata. Kemudian, sisa dari Cirata dibuang ke Jatiluhur. Dari Jatiluhur, air waduk mengalir dalam bentuk sungai yang akan mengalir ke luar Pulau Jawa. Walaupun bernama waduk, namun jangan membayangkan bahwa waduk adalah dam besar dengan beton di sisi kanan maupun kirinya (seperti waduk Jepang). Waduk yang akan anda lihat di Jatiluhur bernuansa sangat alam. Anda tidak akan merasakan beda antara danau asli maupun waduk buatan manusia. Ekosistemnya pun hampir seperti danau asli, mulai dari tumbuh-tumbuhan di seputar waduk mulai dari rerumputan, ganggang, eceng gondok, rumput air, pohon-pohon dan tumbuhan lainnya plus juga ikan-ikan dan hewan hewan air yang menghuni waduk. Untuk hal terakhir, tampaknya menjadi salah satu kegiatan yang menjadi primadona di waduk karena banyak ditemui pemancing disana sini serta restauran makanan laut (walaupun air waduk tidak asin).

Berhubung sangat luas, maka hanya sebagian dari sisi waduk yang dapat anda kunjungi. Walaupun demikian, sebagian dari sisi waduk tersebut pun sudah merupakan objek wisata yang menarik untuk ditelusuri. Tempat parkir yang luas dan rapi, pepohonan besar laksana hutan yang menutupi hampir keseluruhan areal, membuat lokasi di seputar waduk menjadi asri.

Banyak tempat di seputar waduk yang menyediakan jasa penyebrangan atau wisata keliling danau. Umumnya, sewa per perahu sekitar Rp. 60.000 untuk menuju restauran terapung / pasar ikan atau rata-rata Rp. 10.000 per kepala untuk kategori rombongan. Untuk jarak yang lebih dekat, misalnya dari parkiran menuju pintu air, hanya dikenakan sekitar Rp. 5.000 rupiah. Usahakan apabila anda ingin menyebrang, pastikanlah jumlah orang yang anda bawa cukup untuk menyebrang. Sebab, apabila jumlah orang kurang memadai, akang perahu tidak akan mau menyebrangkan dengan alasan solar mahal. Cukup realistis. Jadi, usahakan grup anda berjumlag sekitar 6 orang atau lebih. Lupakan ide untuk menunggu rombongan lain yang akan menyebrang namun mengalami masalah kekurangan orang juga. Saya menunggu cukup lama disitu dengan harapan mendapatkan rombongan lain yang kekurangan peserta juga. Hasilnya nihil. Sudah cukup lama saya menunggu namun rombongan yang datang rata-rata telah memiliki jumlah peserta yangt memadai. Mereka juga enggan mengajak orang lain dalam perahu mereka karena diyakini itu akan merusak acara kebersamaan mereka. Sekali lagi, cukup realistis. Alhasil, saya hanya bersantai di dekat dermaga, berfoto bersama perahu, tepi danau, sapi dan akang yang memancing di seputaran danau. Pemandangan danau pun tidak kalah menarik dengan kegiatan menyebrang untuk diabadikan.

Siang beranjak, saya mencari lokasi lain untuk bersantai. Adapun satu lokasi lagi, terletak lebih jauh dari parkiran, sekitar 400-500m digunakan untuk kapal pesiar. Entah apakah ada kapal pesiar yang asli atau kapal yang lebih mewah dibandingkan dengan kapal kotok yang biasa mereka gunakan. Yang jelas, di lokasi ini terdapat jalan menurun mobil hingga ke tepian dermaga, jalan landai yang telah disusun dengan rapi, dermaga khusus dengan penjual cemilan di dekatnya. Di sisi dermaga terdapat sebuah perahu dan di sebelahnya terdapat sekumpulan anak sedang bermain air waduk Jatiluhur sambil berenang-renang di dalamnya. Airnya memang cukup jernih untuk digunakan berenang. Dari posisi ini, pintu air Jatiluhur terlihat cukup jelas. Saya pun sempat duduk duduk bersantai di areal ini sambil membuka cemilan plus menikmati pemandangan di depan saya. Sayangnya, hujan yang turun langsung membuyarkan acara. Saya harus kembali ke mobil.

Pintu air Jatiluhur yang terletak di bagian depan Grama Tirta yang juga digunakan untuk PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) sebenarnya merupakan salah satu daerah tujuan wisata IPTEK yang menarik juga. Sayangnya, seiring dengan peningkatan keamanan di wilayah ini terutama karena PLTA merupakan hal vital, maka kunjungan ke PLTA ini ditiadakan. Untuk ijin saja, konon bahkan harus dibuat satu bulan sebelumnya. Itu pun hanya instansi yang terkait yang dapat melakukan kunjungan ke lokasi.

Jatiluhur yang memang berada masih di seputaran dataran rendah memang masih terasa panas. Hal ini diperjelas dengan kontur wilayahnya yang hanya berbukit sedang. Walaupun demikian, di arah selatan akan tampak beberapa pegunungan. Nampaknya, suhu udara yang panas seperti Jakarta bukanlah penyebab sepinya kunjungan ke wilayah ini. Hal lain yang menjadi pemicu utamanya adalah kurangnya promosi tempat wisata ini. Selain itu, kunjungan ke Jatiluhur dirasakan nanggung buat beberapa orang. Bandung pastinya jauh lebih menantang untuk ditelusuri apabila anda berada dari Jakarta melintasi Purbaleunyi.


0 komentar:

Post a Comment