Sisi Lain : Tarutung, Nggak Hanya Gereja

Tarutung dikenal sebagai pusatnya HKBP, atau bahkan tempat kelahiran HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Karena ini, nggak heran, ibukota Tapanuli Utara ini dikenal dengan ciri khas kristen-nya. Nggak urung, perayaan natal terbesar di Indonesia pun salah satunya dipusatkan di Kota Tarutung, selain Jakarta dan Manado tentunya. Pemandangan umum di Tarutung pun biasanya didominasi dengan segala macam bentuk gereja. Uniknya, gereja-gereja tersebut bahkan tidak berjarak jauh, ada yang bisa dicapai dalam 5 menit perjalanan kaki, atau bahkan berseberangan jalan, hingga berdempetan kiri kanan dan depan belakang. Gereja semuanya! Pemandangan sehari-hari di sekitar Tarutung memang gereja. Nggak Cuma Gereja HKBP, namun ada juga gereja lainnya seperti GKPI (Gereja Kristen Protestan Indonesia), GBI (Gereja Bethel indonesia), Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh, hingga Gereja Katolik. Mungkin teman-teman yang muslim akan sedikit bertanya-tanya kali yach, apakah ada masjid di Tarutung, plus makan makanan halal?
Jawabannya sangat memuaskan tentunya. Selain citra “Kota Wisata Rohani” yang memang kuat, Tarutung terkenal dengan kerukunan umat beragamanya. Suasana adem dan sejuk serta ritme yang santai, membuat siapa saja ingin menikmati Kota Tarutung. Plus, penduduk kota-nya yang luar biasa ramah, semakin membuat saya jatuh cinta dengan kota ini. Di tepian Sungai Sigeaon yang cantik, berdirilah sebuah Masjid Raya Tarutung! Wow, Masjid Raya ini berukuran besar dan biasanya kegiatan Hari Raya Idul Fitri atau Idul Qurban di Kota Tarutung dipusatkan di masjid ini. Nggak cuma itu, saya melihat ada sejumlah masjid yang berdiri tegak di jalan-jalan raya di Tarutung, salah satunya adalah yang berada di Jalan Raja Johannes Hutabarat yang menuju ke kaki Bukit Siatas Barita, wilayah Hutabarat. Soal makanan? Nggak usah terlalu kuatir! Sejumlah rumah makan khas Batak pun membuka usaha mereka di tempat ini. Errr...rumah makan khas Batak? Lapo-lapo dan sejenisnya kah? Eits, jangan salah. Batak tidak melulu diasosiasikan dengan kristen. Kalau teman-teman bermain-main ke Tapanuli Tengah hingga Tapanuli Selatan, pasti teman-teman akan banyak berjumpa dan mengetahui bahwa suku Batak banyak juga yang muslim. Salah satu rumah makan yang menyediakan menu makanan muslim adalah Kedai Nasi Islam A.R. Panggabean di Jalan D.I. Pandjaitan yang mengarah ke Hutabarat. Tarutung sebagai kota yang heterogen pun memiliki sejumlah pilihan rumah makan lain seperti misalnya Rumah Makan Putri Minang Islam dengan masakan khasnya nasi campur. Nah, nggak ada alasan lagi khan untuk nggak menyambangi Tarutung? Hmm...saya nggak dibayar untuk mengiklankan Tarutung oleh PemKab Tapanuli Utara loch. Saya yang merasa bahwa kota ini tenang dan menyenangkan, cocok banget untuk lokasi wisata, sangat merekomendasikan teman-teman untuk berkunjung kemari.

4 komentar:

  1. Sekarang Lomie tahu kan perasaan saya saat dengan berkobar-kobar memberitakan hal-hal baik tentang Manado. Saya juga nggak mendapatkan sepeserpun dari pemerintah daerah sana, lho. Plakat dan sertifikat juga enggak. Kalau kita sudah terpesona dengan suatu tempat dan atau sekelompok manusia, terutama yang berada dalam wilayah negara yang sama, maka kita akan melakukan apapun untuk membuat orang lain juga tahu tentang tempat-tempat dan manusia-manusia mempesona tersebut. Terpujilah Tuhan yang menganugerahkan segala keindahan bagi tanah air kita.

    ReplyDelete
  2. semoga Mbak Yuanita dan saya didengar oleh Pemkot Manado dan Pemkab Taput, mudah-mudahan dapat tiket gratis, kalau perlu rumah disana...wekekekek...amiiiiinnn

    tapi serius mbak, karena Mbak May juga, saya jadi kebelet neh pengen bakunjung ke Manado...hehehe. Terpujilah Tuhan karena menganugerahkan Indonesia yang begitu indah ini :)

    ReplyDelete
  3. indah sekali nampaknya kerukunan umat di Tarutung

    ReplyDelete
  4. pasti senang berada di sebuah daerah yang aman tenteram dan rukun antar umat beragamanya...

    mudah2an kedamaian seperti ini tidak pergi dari Indonesia

    ReplyDelete