Tinggal Di Tarutung?


Tarutung, ibukota dari Tapanuli Utara adalah kota yang menyenangkan. Maka dari itu, saya akhirnya memilih untuk bermalam di kota ini. Seturut dengan semakin jauhnya wilayah jelajah saya dari objek-objek wisata standar, semakin sedikit pulalah penginapan komersil yang bisa dipilih sebagai tempat bermalam saya. Pada situasi seperti ini, saya memilih untuk menginap di ibukota Kabupaten dengan pertimbangan masih ada sejumlah penginapan yang dapat dijadikan pilihan. Situasi pada malam hari pun biasanya nggak sepi-sepi amat karena namanya juga kota. Hehehe. Walaupun nggak bisa dibandingkan dengan Medan atau Pematang Siantar, namun Tarutung yang dibelah oleh Sungai Sigeaon ini sudah memiliki jalur satu arah yang memutari pusat kota, yakni Jalan S.M. Raja yang menuju Sibolga dan Jalan F.L.Tobing yang menuju Balige. Angkutan kotanya cukup tertib walaupun yang namanya ngetem tuh ada dimana-mana yach. Pinggir kanan dan kiri Sungai Sigeaon pun sudah tertata rapih dan terdapat trotoar untuk pejalan kaki. Salah satu kota yang ramah terhadap pejalan kaki, menurut saya. Rasanya, saya kuat berjalan kaki dari pintu masuk Tarutung di Sipoholon sampai Siatas Barita di Hutabarat. Penduduk asli Tarutung pasti geleng-geleng kepala kalau melihat kelakuan saya. "Dasar orang Jakarta!", mungkin begitu pikir mereka. Hahaha. Aura Batak muncul lagi di tempat ini terutama dengan deretan bangunan Ruma dan Sopo Bolon besar yang merupakan Kantor DPRD Tapanuli Utara, Gedung Kesenian dan Kebudayaan serba guna Sopo Partungkoan, dan Kantor Bupati Tapanuli Utara menghiasi tepian sungai. Di sejumlah sudut kota, banyak pedagang Ulos membuka tokonya. Soal makan, rasanya nggak sulit yah mencari makanan di tempat ini. Yang sulit justru memilih, makanan mana yang mau dicoba (semuanya terlihat menggiurkan), mengingat sempitnya waktu di Tarutung.
Berjalan dan menikmati Tarutung, saya merasa bahwa saya harus melambat dan menikmati setiap inci denyut kehidupan saya di kota ini. Dengan jarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Kota Medan (288KM), walau dilintasi oleh lintas tengah Sumatera, Tarutung jauh dari kesan sibuk dan terburu-buru. Penduduk kota ini luar biasa ramah. Sembari berjalan-jalan, mereka menyapa saya dan memberikan sinyal bahwa mereka ingin difoto. Yah, saya mencoba mengambil foto mereka dalam beberapa pose dan mereka senang lhooo... Hehehe. Mereka tahu bahwa saya orang luar dan mereka tidak segan-segan menyapa, bahkan memberitahukan objek apa saja yang menarik untuk difoto atau dikunjungi di Tarutung. Dalam perjalanan, saya bahkan diberi sejumlah tips oleh sesama penumpang kendaraan, bahkan hingga urusan tawar menawar harga! Saya merasa terbantu sekali. Saya bahkan disapa oleh seorang pria yang bertanya bagaimana kabar saya dan bagaimana hasil fotonya. Sebelum saya bingung, ia melanjutkan bahwa ia sudah sempat difoto pada hari sebelumnya. Hohoho. Mungkin karena Tarutung tidak berukuran terlalu besar, maka orang-orangnya tidak terlalu banyak dan saling kenal dan tahu satu sama lain kali yach? Secara sekilas saja, Sibolga jauh lebih besar daripada Tarutung.
Kota yang bergelar Kota Wisata Rohani ini selain terkenal dengan Salib Kasih-nya, terkenal juga dengan slogan Bona Pasogit-nya. Rasanya sering denger dech, Bona Pasogit tuh apa yach? Secara harafiah, Bona Pasogit bisa diterjemahkan menjadi asal usul. Namun, pengertian kampung halaman pun ternyata masuk dalam frase “Bona Pasogit” ini. Bahkan di tepi jalan, ada papan reklame yang mengajak warga Tapanuli Utara untuk disiplin membayar pajak sebagai bukti kecintaan terhadap Bona Pasogit, ya kurang lebih maknanya adalah kampung asal.
Ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau Tarutung itu artinya durian dalam bahasa Batak. Lucunya, saya nggak melihat ada banyak durian di Tarutung. Satu-satunya penjual durian yang saya temui selama berada di Tarutung adalah penjual durian di perempatan Jalan Ferdinand Lumban Tobing dan Jalan D.I. Pandjaitan. Konon, bukan karena Tarutung banyak ditumbuhi durian, namun karena ada sebuah pohon durian yang sering dijadikan tempat berkumpul sehingga nama Rura Silindung berubah menjadi Tarutung. Pohon durian ini kini letaknya tidak jauh dari Sopo Partungkoan di Jalan S.M. Raja. Dengan ritme yang dimilikinya, hawanya yang sejuk, dan keramahan orang-orangnya, saya mau tinggal di Tarutung di masa tua nanti. Hehehe.

7 komentar:

  1. Saya masih menanti-nanti reportase tentang makanan-makanan daerah, paling enggak foto-fotonya ( semoga Lomie dalam hati tidak berkata: EGP?, hehe). Menelusuri daerah-daerah di penjuru Indonesia sebetulnya punya sisi negatif: pada akhirnya kita akan bingung menentukan kita akan menghabiskan hari tua di mana, hehe...

    ReplyDelete
  2. hihihi...ada makanan enak lohhh di Tarutung, tinggal tunggu tanggal mainnya sahaja. hehehe.

    betul mbak May, sekarang saya sudah punya beberapa kandidat nih buat kota masa tua saya. impiannya sih, saya ada penginapan sederhana untuk backpacker yang saya kelola sendiri...wuihhhh seru banged *dengan jaringan di ratusan kota di Indonesia* #loch...tetep keluar maruknya...hahaha

    ReplyDelete
  3. durennya enak tuh mas kayaknya.. kalo murah borong deh.. ahahaha

    ReplyDelete
  4. Saya juga punya impian untuk rumah masa depan saya yang di lereng gunung dibelah oleh kali kecil nan bening dengan kolam ikan, spa mini, perpustakaan pribadi dan sebagainya. Saya juga akan menyediakan banyak kamar untuk teman-teman saya secara GRATIS. Terakhir menyediakan tempat makan dan minum yang ujung-ujungnya musti bayar (ternyata sama maruknya...)

    ReplyDelete
  5. idealis dan sekaligus realistis ya mbak. hihihi...lagian, toh dengan kemaruknya saya ini, saya kan bisa menyekolahkan banyak anak-anak terlantar dan menjadi orang tua asuh bagi mereka *amiiiiinnn*

    tapi teteup, jaringan penginapannya nggak cuma di kota-kota Kabupaten, bahkan hingga kota-kota kecamatan. kalau perlu, tiap satu RT di Indonesia pun ada satu penginapan yang saya kelola *hihihihi* aminnnn lagi deh :p

    ReplyDelete
  6. entah kenapa ya Mas Tri, kalau lagi jalan-jalan gitu saya suka males kalau beli yang berat-berat (walaupun ceritanya dimakan disana) hahahaha. saya lebih suka beli yang unik dan bisa masuk tas kayak misalnya kain tradisional. hohoho. kalau duren, hmmm...entah deh, rasanya males buat nawar walaupun saya suka banged sama durian *apalagi gratis, semakin suka* hihihihi

    ReplyDelete
  7. Nasib M. SimaremareFebruary 13, 2014 at 4:05 PM

    I Love Tarutung

    ReplyDelete