Anak-anak Sibolga dan Nias di Atas KMP Tanjung Burang

Pikiran saya kembali melayang saat tiket saya diperiksa oleh sejumlah petugas dan kaki saya melangkah menaiki KMP Tanjung Burang. Pikiran saya terbang ke masa setahun lalu, saat saya mabuk tak henti saat menaiki KMP Muria yang berlabuh dari Pelabuhan Kartini di Jepara menuju Karimunjawa. Duh, sejujurnya saya takut apakah peristiwa pahit (dan agak masam tersebut) akan terulang kembali? Terlebih, malam ini saya melintasi Samudera Hindia, sudah barang tentu, Laut Jawa nggak ada apa-apanya donk? Duh, saya sudah mempersiapkan segalanya termasuk menu makan malam darurat, minyak angin, tolak angin dan kantung plastik yang banyak.
Pak Daniel Lömbu mengantarkan saya hingga ke kelas bisnis. Kelas bisnis adalah kelas tertinggi yang ada di KMP ini. Pertimbangan mengambil kelas bisnis adalah karena lamanya perjalanan. Sibolga – Gunungsitoli ditempuh dalam 8 jam perjalanan. Perjalanan ini melintasi malam. Tidak ada yang bisa dilihat di perjalanan selain langit malam dan laut yang menghitam. Sudah barang tentu, tidur menjadi pilihan utama bukan? Yah...hitung-hitung sebagai penginapan saja lah. Bedanya, penginapan yang ini bisa berjalan melintasi kota. Hehehe. Saya seneng sich sama perjalanan tipe ini karena hemat waktu dan uang. Kalau bisa, semua kota-kota di Indonesia memiliki angkutan malam untuk jarak tempuh yang panjang, jadi para petualang seperti saya nggak membuang-buang waktunya di jalan. Amin 
Suasana di dalam kabin kelas bisnis bukanlah seperti hotel mewah berbintang lima. Namun, dibandingkan dengan kelas ekonomi, kabin ini jauh lebih manusiawi karena memiliki deretan-deretan sofa yang nantinya bisa dipergunakan untuk para penumpang yang ingin tidur. Ya, saya bahkan bisa melihat sejumlah penumpang telah mempersiapkan ritual malam hari mereka ini dengan sangat baik. rata-rata, semua pengunjung mempersiapkan selimut, sarung, dan baju agak hangat hingga ada pula yang membawa bantal! Maklum, pendingin udara di ruangan ini bekerja cukup baik. Tanpa adanya aktifitas berlebihan dari manusia di dalamnya, saya yakin ruangan ini akan menjadi dingin pada malam hari. Untung juga, sofa-sofa yang tersedia cukup nyaman dan empuk untuk teman tidur selama perjalanan. Akan mabukkah saya?
Seiring dengan perjalanan saya masuk ke dalam KMP Tanjung Burang, beberapa anak-anak yang membawa barang dagangan mulai dari air mineral, makanan ringan, hingga buah-buahan lokal seperti manggis dengan riang membantu menunjukkan jalan menuju tempat duduk saya. Pertama-tama sich mereka memang ingin melihat lokasi tempat duduk saya (iya, kursi kelas bisnis di KMP ini menggunakan nomor lho). Setelah itu, mereka berebutan untuk mengantarkan saya menuju tempat duduk saya. Hmmm...ada apa gerangan sich? Ternyata, seusai saya duduk, mereka langsung menawarkan barang-barang dagangan mereka. Aneka macam dagangan seperti air mineral, minuman, makanan ringan, dan buah-buahan pun tersedia. Bahkan, mereka juga menjual surat kabar walaupun surat kabarnya nggak meyakinkan karena terlihat tua dan sudah menguning. Apakah itu surat kabar baru? Di luar dari surat kabar, ternyata mereka adalah penjual yang baik. Harga makanan dan minuman yang mereka tawarkan tidaklah mahal. Air mineral botol kecil (air mineral bermerek lhooo) dijual seharga Rp. 3.000 dan botol besar Rp. 5.000. Nggak jauh beda sama warung khan? Saya bahkan yakin beberapa warung ada yang menjual di atas harga tersebut. Untuk manggis, harganya bervariasi mulai dari Rp. 2.000 – Rp. 3.000. Rasanya? Manis! Untuk Lasi (bahasa Nias untuk Langsat) dijual hanya Rp. 5.000 sekilo! Penasaran dan pengen borong nggak sich? Yah, akhirnya saya membeli sejumlah makanan ringan dan air mineral untuk menemani saya di perjalanan. Kalau temen-temen naik kapal yang bertolak menuju Nias, jangan sungkan-sungkan untuk membeli produk dagangan mereka yach!

2 komentar:

  1. interior consultantJuly 7, 2012 at 8:49 AM

    salam kenal slalu ya

    ReplyDelete
  2. salam kenal juga. terima kasih sudah datang :D

    ReplyDelete