Dari Probolinggo Menuju Cemoro Lawang

Pastinya, anda nggak mungkin berjalan kaki dari Probolinggo hingga ke Cemoro Lawang, titik terdekat pengamatan Gunung Bromo dari arah Probolinggo. Terlau ‘gila’ kalau anda melakukan jalan kaki sejauh 40 KM dari Probolinggo ke Cemoro Lawang. Walaupun akses jalannya cukup jelas dan bagus, anda sebaiknya memilih angkutan yang tersedia, yakni bison, sewa mobil, atau ojek atau wagon. Khusus yang terakhir, akan ada pembahasan khusus mengenainya bagi orang-orang yang berada dalam kategori budget traveller.
Dalam perjalanan, anda akan melewati Desa Sukapura, Desa Ngadisari dan terakhir Desa Cemoro Lawang. Ketiga tempat ini adalah tempat yang umum dijadikan titik awal penjelajahan Gunung Bromo. Bersama dengan Probolinggo, keempat tempat ini memiliki sejumlah lokasi penginapan yang bervariasi. Tentu saja, semakin dekat ke Gunung Bromo, harga penginapan akan naik secara signifikan. Musim kunjungan wisata juga berpengaruh terhadap harga kamar. Jadi, gampangnya, harga hotel/penginapan di Probolinggo lebih murah dibanding Ngadisari. Hotel/penginapan di Sukapura lebih murah dibanding Cemoro Lawang, seperti itu walaupun ini bukan patokan umum. Tentu saja, hotel/penginapan favorit berada di Cemoro Lawang karena posisinya yang paling dekat dengan objek wisata tersebut (jalan kaki saja, nyampe loch!). Kebalikannya, suhu di Cemoro Lawang adalah yang paling anjlok dibanding dua desa lainnya. Pada musim kemarau, suhu di Cemoro Lawang bisa menjadi sangat dingin. Bagi yang nggak tahan dengan suhu teramat dingin, bisa memilih penginapan di Ngadisari atau Sukapura yang lebih ‘turun’ walaupun masih sama-sama berada di lereng gunung yang tinggi. Nah, rute perjalanan yang akan ditempuh hampir 80% menanjak. 20% datar hanya di bagian Kota Probolinggo hingga Wonomerto saja. Masih di Wonomerto, Lumbang, hingga ke atas sana, jalanan akan menanjak. Tanjakan dan liukan terparah terjadi di sebelum dan sesudah Sukapura. Ini menjelaskan mengapa sekitar 20 KM awal (selepas Wonomerto), bentang alam yang tampak hanyalah perkebunan kentang dan kubis diantara lembah dan gunung yang berkabut, jarang ada desa. Untuk yang mudah mabuk bersiap-siaplah meminum antimo.
Saya sendiri tidak begitu menikmati pemandangan karena hujan cukup deras menerpa. Tidak berapa jauh dari Kota Probolinggo, air hujan mulai rintik-rintik turun membasahi bumi. Semakin berjalan, hujan semakin deras. Saya sampai harus berlindung di bawah jas hujan dan tidak melihat apapun di sepanjang perjalanan. Sepatu dan celana yang saya kenakan basah kuyub karena saya tidak mau menunggu, saya memilih untuk menerobos hujan agar segera sampai di Bromo. Saya sampai pusing sepanjang perjalanan karena hanya meliuk mengikuti gerakan motor namun tidak bisa melihat apapun di luar sana. Untungnya, saya tidak sampai muntah disini. Perjalanan yang saya lakukan memang cukup lama. Nggak selesai-selesai rasanya. 1 jam dech rasanya saya terombang ambing dalam jalanan aspal yang berkelok-kelok namun sayangnya, tidak bisa melihat apapun karena hujan. Penduduk sekitar juga mengatakan bahwa ruas ini sangat ‘basah’ dalam artian mudah sekali diguyur hujan, walau musim kemarau sekalipun. “Usahakan untuk melewati rute ini pada pagi hari untuk menghindari hujan”, begitu katanya mereka.

2 komentar:

  1. emang di Indonesia biasanya gitu kok, lebih aman jalan sebelum tengah hari krn kemungkinan hujan turun sesudah jam 12 lebih besar :)

    ditunggu oleh2 dari sulbar kemarin :)

    ReplyDelete
  2. hihihi....kalau lewat tengah hari, ada yang saya takuti : gak dapat angkot. hehehe...di beberapa desa, angkutan umum kan banyaknya pagi2. siang sudah mulai berkurang dan malam lenyaplah sudah...hahaha

    siap! ditunggu upload fotonya :D hehehe

    ReplyDelete