Wisma Maria I, Pilihan Saya Di Rantepao

Pertama-tama, sebelum sampai di Tana Toraja, saya membayangkan Toraja adalah sebuah desa yang terletak di ketinggian bukit. Kendaraan, sepi berlalu lalang. Pelintas pun hanya sesekali melewati tempat ini. Sempat jiper juga saya memikirkan harus bermalam di Toraja. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan usut punya usut, saya menemukan beberapa hotel mewah bahkan berbintang-bintang terdapat di Toraja. Desa seperti apakah yang memiliki hotel berbintang bahkan hingga lima? Foto-foto sepi dan agak berhutan yang mewakili Toraja cukup menipu bayang pikiran saya. Seperti apakah Toraja itu?
Walaupun memang tersedia hotel mewah berbintang lima, namun karena terbatasi oleh budget, maka saya mencari tempat yang lebih ekonomis dimana saya bisa melewatkan malam dengan nyaman. Beberapa tempat menjadi rekomendasi, termasuk salah satunya adalah Wisma Maria I yang ternyata terletak hanya sepelemparan batu dari pusat kota alias Pasar Rantepao. Dalam mencari tempat menginap, saya memang selalu lebih menyukai lokasi yang cenderung ramai dibanding sepi. Mungkin berbeda dengan wisatawan asing yang menyukai kesunyian karena mereka pada dasarnya memang berlibur untuk mengasingkan diri. Untuk saya, saya lebih menyukai keramaian. Saya malah tidak bisa tidur kalau terlalu sepi. Rasa takut malah menghampiri saya. Untungnya pula, Wisma Maria yang terletak tidak terlalu jauh dari pasar, memiliki suasana yang cukup, tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi.
Wisma ini cukup mudah dicapai. Dari Pasar Rantepao yang ada Monumen Pongtikunya, berjalanlah lurus ke arah selatan, tempat kedatangan anda bermula. Pada belokan pertama, ambilah arah kanan. Anda seharusnya melewati lapangan bola yang cukup besar dimana terdapat beberapa buah bus diparkir disana. Setelah mentok, berbeloklah lagi ke kanan, ke jalan yang terdapat sebuah Gereja Toraja, huruf A besar berada di depan gedung gereja tersebut. Anda seharusnya melihatnya, Wisma Maria I berada di sisi kanan anda tak jauh dari gereja tersebut. Yang mengejutkan, di depan wisma ini terdapat minimarket, warnet dan restoran. Di sisi belakang terdapat sebuah salon. Tidak ada alasan lagi untuk membenarkan pandangan saya. Buyar sudah pikiran saya akan Toraja yang sepi. Toraja ternyata cukup ramai dan berkembang.
Sebersit keraguan sempat hinggap di dalam pikiran saya. Umumnya, hotel selalu memulai waktu check in selepas pukul 12 siang. Namun, saya tiba di Rantepao pada pukul 6 pagi. Saya yakin, nggak ada bus yang sampai di Toraja pada tengah hari bolong kalau anda berangkat dari Makassar. Jadi bagaimana sistem pembayarannya nanti? Masuk ke hotel, (saya sebelumnya memang telah menelepon melakukan reservasi) saya disambut dengan cukup baik, menurut saya. Bapak yang berjaga (sayang, saya nggak tanya namanya), walaupun agak lugas dan tanpa basa-basi (dan sedikit senyum), meminta saya agar segera meletakkan barang-barang di kamar dan bersiap menuju meja makan. Saya pasti lapar, begitu kata beliau. Wow, saya sudah terkesan dari kilas pertama. Walau tanpa basa-basi, bapak ini cukup baik dengan membiarkan saya check in terlebih dahulu dan mempersiapkan makan pagi saya. Saya langsung menyukai Wisma Maria! (saya tidak menemukan adanya Wisma Maria II di sekitar sini....hmmm...aneh...).
Walaupun tidak terlalu luas, Wisma Maria adalah tempat yang hangat terutama kehangatan para staffnya. Tanpa mandi, saya langsung berganti pakaian dan menuju meja makan (Airnya dingin sehingga saya memilih tidak mandi). Ruang makan terletak di bagian tengah areal hotel, berdempetan dengan lobby dan meja resepsionis. Jangan bayangkan Wisma Maria adalah hotel yang besar yach. Wisma ini tak ubahnya sebuah rumah yang dikonversi menjadi sebuah hotel. Jadi, yang disebut dengan meja resepsionis adalah ruang tamu rumah tersebut. Kamar-kamar hotel terletak di bagian belakang ruang makan. Bentuknya agak memanjang dan beberapa ada yang hingga berlantai dua. Kamar saya adalah kamar single seharga Rp. 50.000 semalam (tepatnya jam 6 pagi hingga jam 8 keesokan harinya) yang terletak di bagian pojok taman. Kalau dua orang, harga kamar berubah menjadi Rp. 80.000. Masih murah meriah dan menyenangkan menurut saya. Oh yah, saat melakukan check in, seperti biasa anda akan dimintai KTP dan menulis data diri.
Kamar saya sendiri terdiri atas sebuah tempat tidur single, lengkap dengan washtafel, cermin, handuk dan sabun, kamar mandi dalam, beranda dan dua buah kursi serta sarapan pagi. Pada kasus saya, berhubung saya tiba pagi hari dan baru berangkat keesokan paginya lagi pukul 8, saya mendapat dua kali sarapan di hari yang berbeda. Sungguh, ini adalah penawaran terbaik yang pernah saya alami sepanjang perjalanan saya selama ini. Mana ada hotel yang menerapkan aturan seperti ini? Saya kagum lagi-lagi.
Mayoritas penghuni hotel ini adalah wisatawan asing. Mungkin karena waktu kunjungan saya bertepatan dengan bulan Agustus, bulan dimana kunjungan wisatawan sedang tinggi-tingginya. Untuk foto pertama, anda bisa mencoba berfoto dengan Tongkonan yang terletak di tengah-tengah taman di dalam hotel ini. Tongkonan yang ada di halaman ini adalah representasi lumbung padi, lengkap dengan aneka macam ukiran dan tengkorak kepala hewan (saya nggak yakin itu kepala kerbau karena ukurannya agak kecil). Untuk mulai bertualang, mintalah peta jelajah Tana Toraja kepada resepsionis, dijamin mereka akan dengan senang hati membagikan informasi yang kita butuhkan. Saya yakin, kalau suatu saat saya kembali ke Toraja, saya akan menginap kembali di Wisma Maria I ini. Kehangatan dan cocoknya dengan kondisi dompet saya membuat pilihan saya tak bisa dielakkan lagi. Selamat Datang Di Wisma Maria! Selamat Datang Di Rantepao! Selamat Datang Di Tana Toraja!

1 komentar:

  1. Salam kenal Lomar.
    Ternyata kita bertetangga ya... sy tinggal di sekitar Ciledug.
    Boleh dong bagi no kontaknya buat saya. Pengen ke Makassar dan Toraja juga.

    ReplyDelete