Peristiwa Menyebalkan Di Bayuangga, Sebelum Ke Cemoro Lawang

Saya nggak bermaksud menjelek-jelekkan suatu pihak tertentu. Saya hanya ingin agar sesama teman-teman penjelajah tidak mengalami kejadian yang saya alami ini. Cukup satu atau dua orang (saya dan teman saya) aja yang jadi korban. Jangan sampai kalian terjerat hal yang sama.
Dalam Lonely Planet 2007, Terminal Probolinggo tercatat sebagai terminal yang nggak jujur (se-Indonesia). Anda harus secara tegas menyebutkan lokasi tujuan anda atau ada kemungkinan anda diturunkan di sembarang tempat atau tidak mendapat kepastian angkutan. Mungkin kejadian ini sebegitu buruknya menimpa penulis Lonely Planet sampai ia menuliskannya di buku. Saya paham, ini kemungkinan dilakukan oleh sejumlah oknum tertentu, tidak menggambarkan keseluruhan Terminal Bayuangga. Sayangnya dan sialnya, saya justru bertemu dengan oknum tersebut dan disinilah saya harus bercerita karena saya benar-benar mengalaminya.
Begitu turun dari bus asal Surabaya, saya segera memasuki terminal. Saya dan teman saya segera mencari kamar mandi karena bus berjalan tanpa henti selama 3 jam. Sekeluarnya saya dari toilet, saya segera menuju papan pengumuman/informasi terminal untuk melihat rute bus. Disinilah, seseorang mendekati kami berdua dan bertanya jurusan kami. Begitu kami menyebut “Cemoro Lawang”, bapak tersebut langsung mengajak saya ke sebuah travel yang terletak persis di sebelah WC. Namanya Travel R*hmat. Bapak tersebut dengan sesumbarnya mengatakan bahwa tidak ada kendaraan lagi yang menuju Cemoro Lawang (titik awal kunjungan Bromo) selain Bison. Entah Bison itu apa, namun ia mempersilahkan saya masuk ke dalam travel dan bertemu dengan seseorang yang duduk di balik meja layan. Pemuda kurus yang duduk di balik meja layan tersebut bertanya akan tujuan yang akan kami capai. Begitu menyebut “Cemoro Lawang”, ia segera menyebutkan tarif dengan lancar. Begini penjelasannya :
- Rp. 25.000/orang untuk bison reguler yang akan berangkat pukul 3 karena menunggu penuh. Kepastian berangkat diragukan karena Januari bukanlah musim kunjungan wisata. Bison akan banyak berhenti-berhenti untuk menaikkan/menurunkan penumpang.
- Rp. 50.000/orang untuk ‘travel’ yang akan berangkat pukul setengah 2, tidak mesti menunggu penuh, maksimal 8 orang, menggunakan Bison juga. Bison akan berjalan nonstop tanpa menaikkan/menurunkan penumpang.
- Rp. 85.000/orang untuk ojek yang bisa berangkat kapan saja.
- Rp. 300.000/taxi kalau ingin menyewa mobil sendiri untuk menuju ke Cemoro Lawang.
Jelas, dua opsi terakhir langsung kami tolak. Kami memutuskan untuk naik ‘travel’ yang akan berangkat pukul setengah 2 agar kami masih memiliki banyak sisa waktu di Bromo. Kami sempat mencoba menawar tapi pemuda tersebut tidak memberikan. Singkat kata, uang pun berpindah tangan dan pemuda tersebut bergegas keluar dengan penjelasan “Mau mengecek bison di depan terminal”. Saya tahan pemuda itu sebentar karena saya menginginkan tanda terima pembayaran. Seusai tanda terima dibuat (tanda terima reguler, nggak ada cap travelnya), ia bergegas keluar. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk berangkat. Saya pun menyempatkan diri untuk berfoto-foto sejenak.
Hampir jam setengah 2, saya segera kembali ke travel yang sepi tersebut. Teman saya masih menunggu di travel tersebut. Tiba-tiba datang seorang pria bule besar, yang entah dibantu oleh seorang pemandu wisatanya, marah-marah sambil menunjuk-nunjuk travel ini. Bule ini adalah bule yang tadi saya lihat di depan papan informasi dan tampaknya sedang gusar. Sekarang, ia bukan sekedar gusar, ia marah. Mukanya merah padam. Singkat kata, bule tersebut menjelaskan bahwa ia harusnya berangkat ke Denpasar pada pukul 10 siang. Ia telah membayar biayanya kepada orang yang duduk di Travel R*hmat ini. Ketika pemandunya mencoba membantunya dengan menanyakan, dimana orang tersebut, bule tersebut melihat berkeliling dan berkata, “ia tidak ada disini”. Ia menunjukkan kwitansi pembayarannya yang menunjukkan ia akan diangkut oleh bus/travel pukul 10 siang. Ia mengatakan ia telah bolak balik menanyakan ke travel ini perihal angkutannya dari jam 10 kemudian digeser menjadi jam 12. Hingga jam 2, ia belum juga diberangkatkan. Setiap kali ia menuju travel, ia tidak pernah lagi menjumpai orang yang sama, selalu berbeda-beda, bahkan kerap kosong. Mukanya yang merah padam menunjukkan ia betul-betul marah akan pelayanan yang ia terima. Orang yang berbeda-beda tersebut tidak pernah membantunya menyelesaikan masalah namun justru berpura-pura mencarikan angkutan baginya namun tidak pernah kembali lagi. Wajar tampaknya kalau ia sedemikian kesalnya.
Saya tiba-tiba jadi deg-degan. Dari jam satu tadi sampai sekarang, saya memang belum pernah melihat penjual tiket yang pertama tadi. Apa jangan-jangan, hal inilah yang dibahas dalam Lonely Planet 2007? Saya jadi takut, maklum, budget traveller kan budgetnya rendah. Pengalaman ditipu jelas tidak masuk dalam rencana anggaran perjalanan. Saya mulai iseng-iseng memutari terminal untuk mencari pemuda tersebut dan tidak menemukannya. Di saat ini, sangat sukar sekali untuk berpandangan positif terhadap hal yang terjadi. Kemudian, datangnya seorang yang lain, agak gemuk, mengenakan jaket parasut. Ia tidak bertanya apapun walau ada kami berdua yang duduk di travel tersebut. Ia asik membuka-buka buku catatannya sampai kemudian ia baru bertanya kemana arah tujuan kami. Saya ceritakanlah semuanya, termasuk soal pemuda yang menjual tiket travel yang akan berangkat pukul setengah 2 tadi (saat itu sudah pukul setengah 2 lewat!). Bapak tersebut malah berkata, tidak ada bison lagi yang akan berangkat hari ini. Bison harus menunggu penuh dan kemungkinannya sangat tipis untuk bisa penuh karena bukan musim wisata kecuali kami mau membayar sewa sisanya. Wow, terus terang kekuatiran saya yang tadi ada,malah menjadi kejengkelan. Saya tunjukkan kwitansi pembayaran yang telah kami lakukan dan memaksa bapak tersebut untuk segera bertanggung jawab dan mengangkut kami. Bapak tersebut hanya mengangguk-angguk saja dan berkata akan mencarikan bison untuk kami. Ia pun segera keluar dan kami ditinggalkan lagi.
Di saat kejengkelan kami sudah mulai menggelegak, bapak tersebut kembali dan mengatakan tidak ada bison sama sekali. Opsi satu-satunya hanyalah ojek kalau kami tidak mau menyewa kendaraan. Pembaca sudah jengkel belum? Karena sudah kepalang basah membayar Rp. 100.000/2 orang, akhirnya kami pun menerima saja tawaran tersebut agar cepat sampai ke Bromo. Tarif Rp. 85.000/orang kami tawar menjadi Rp. 150.000/2 orang. Begitu menerima uang, ia segera keluar dan berkata akan mencarikan ojek. Sialnya, entah kami yang bodoh atau bagaimana, bapak tersebut hilang lagi. Wih....udah keluar asap nich di ubun-ubun. Saya nggak ngerti dech. Apa jangan-jangan ujung-ujungnya kita diminta untuk carter taksi? Mereka nggak mau melakukan servis kalau biayanya murah? Wah, benar-benar preseden buruk di kota ini.
Entah sekitar 15 menit kemudian, datanglah seorang bapak-bapak tua (berbeda dengan dua sebelumnya), datang dan duduk di meja layan tersebut. Ia pertama-tama berlagak membereskan meja. Kemudian, ia mengambil buku catatan dan mengambil kwitansi saya yang tadi saya berikan sebagai bukti bahwa saya harus diangkut pukul setengah dua. Bapak tersebut melipat kwitansi tersebut dan memasukkannya ke dalam sakunya lalu keluar. Nggak mau kecolongan, saya langsung berseru, “pak, itu kwitansi saya!”. Entah belagak bodoh atau bagaimana, bapak tersebut Cuma menjawab dengan erangan saja dan tetap bergegas. Saya serukan sekali lagi, “Pak, itu kwitansi saya!” dan bapak tersebut justru malah jadi semakin cuek. Waduh, jangan membangunkan macan tidur donk Pak! Saya langsung ikuti bapak yang aneh tersebut (saya bermaksud untuk memfotonya!). Anehnya, bapak tersebut berhenti di ujung dekat dengan terminal kedatangan kemudian mengeluarkan kwitansi tersebut dan mengamatinya. Kayaknya bapak tersebut tahu saya mengamatinya sehingga ia nggak jadi melanjutkan usahanya untuk kabur. Habis dech saya kalau kwitansi tersebut hilang. Bisa-bisa nggak keangkut sampai malam plus duit amblas.
Entah beruntung atau masih ditolong oleh Tuhan, saya melihat bapak yang kedua tadi (agak gemuk, memakai jaket parasut) berdiri di dekat bapak tua tersebut. Saya langsung menghampiri dan bertanya (dengan ketus tentunya), “mana ojek saya?”. Saat itu sudah pukul 2 dan saya sudah naik pitam. Tanpa sepengetahuan bapak tersebut, saya foto-foto wajah mereka agar kalau misalnya saya sampai ditipu, mereka tidak akan lolos dari saya. Melihat tampang saya yang sudah nggak ramah lagi dan siap ngamuk, bapak tersebut langsung berkata “ojeknya sedang datang kesini”. Konyol. Benar-benar konyol! Nggak lama setelah itu, ia justru menunjuk kedua motor yang sudah ada dari tadi disitu, untuk digunakan sebagai ojek. Lah? Tadi katanya sedang dalam perjalanan? Kenapa tiba-tiba jadi pakai motor disini? Benar-benar aneh. Supir ojek yang katanya masih menuju kesini pun ternyata adalah dua orang yang (tampaknya) dari tadi cuma nongkrong-nongkrong di dekat terminal kedatangan. Entah apa maksudnya dengan semua permainan ini. Entah dia takut karena saya mulai menunjukkan taring atau enggak tahu lagi mau menipu dengan model apa kali yach? Saya nggak mau basa-basi lagi, segera saja saya naiki ojek-ojek tersebut. Ojek pun berjalan menembus ruas Probolinggo-Bromo.

Ceritanya belum selesai sampai disini. Dalam perjalanan, supir ojek tersebut bertanya kepada saya, “berapa tarif yang saya bayar untuk ojek ini?”. Saya menjawabnya, “Rp. 150.000/2 orang, Pak”. Eh, bapak tersebut malah balik menjawab, “wah, biasanya Rp. 150.000 tuh untuk satu orang loch. Perjalanannya susah, bensinnya boros”. Pertama, saya diamkan saja karena saya sudah bener-bener malas sama orang-orang ini. Eh, dia nanya sekali lagi dalam perjalanan tersebut. Wah, langsung saya sembur saja, “Kenapa bapak yang tadi di terminal mau-mau aja kasih tarif segitu kalau ternyata rugi, Pak? Tarifnya aja tadi awalnya Rp. 85.000! Kalau mau protes, protes aja sama bapak yang tadi!”. Dalam hati sich saya mikir, kalau mau macem-macem, saya punya fotonya. Hati-hati saja! Disembur dengan jawaban begitu, bapak tersebut diam dan tidak melanjutkan pertanyaan lagi. Selesai? Belum! Sesampainya di Cemoro Lawang, mereka meminta tambah-tambahan (tampaknya ini dilakukan setelah usaha naik harganya gagal). Wuhhh...bener-bener semakin menambah jelek saja penilaian saya akan orang-orang ini. Mata Duitan semuanya! Apakah mereka pikir orang-orang yang berkunjung ke Bromo adalah orang kaya semua? Tanpa ba-bi-bu, saya berikan Rp. 20.000 dan segera bergegas pergi sebelum mereka minta yang aneh-aneh lagi. Entah karena mereka sedang kurang turis atau bagaimana sehingga mereka melakukan cara ini. Tapi yang jelas, saya benar-benar marah atas perbuatan yang mencoreng pariwisata Indonesia ini. Jelas, turis akan berpikir dua ribu sepuluh kali untuk mengunjungi Bromo kalau oknum-oknum tersebut berbuat demi keuntungan instan jangka pendek saja. Terus terang, saya sendiri jadi malas berurusan dengan mereka ini, lagi, kalau saya berkunjung ke Bromo lagi. Segala omongan mengenai bensin boros segala macam juga tidak terbukti. Pada waktu naik, mereka mengisi penuh bensin motor mereka (jangan mau kalau anda dimintai uang bensin lagi! Itu sudah merupakan tanggungan mereka!). Motor yang mereka gunakan adalah motor bebek sehingga anda bisa memprediksi besaran tangki mereka yakni maksimal 4 liter (Rp. 4.500 x 4 liter = Rp. 18.000). Perjalanan Probolinggo – Cemoro Lawang dapat ditempuh dalam waktu 1 jam (sekitar 40 kilometer) dengan medan jalanan aspal menanjak terus. Ketika sampai di atas, saya memperhatikan jarum penunjuk bensin yang tadi awalnya di huruf F (full), hanya bergeser sedikit agak ke bawah huruf F. Siapa yang bilang perjalanan ke atas boros?

6 komentar:

  1. Ooo jadi begini toh tragedinya? Waduh untung saya gak luluh sama travel agent gadungan itu. Saya kebetulan mesti nunggu teman selama 2 jam di terminal; dia datang dari arah Banyuwangi. Dan saya udah kenyang didatangin calo. Tapi berkat info seorang blogger yg saya baca sebelum berangkat, saya selamat. So saran saya: jangan hanya percaya Lonely Planet aja. Search tulisan2 di blog dari org Indonesia. :)

    ReplyDelete
  2. bener...pesan moral yang didapat : Jangan percaya Lonely Planet seutuhnya. Pengalaman Bule berbeda dengan pengalaman orang lokal *terutama dalam urusan kantong juga* hihihi.kalau mereka, bayar 300.000/carter mobil mungkin gak kenapa2.Lah saya? kan backpacker yang kantong cekak...mana bisa foya2 begitu....hihihi. iya nich, kurang risetnya :)

    ReplyDelete
  3. Tambahan: hati2 untuk yang ke bromo malam hari,apabila berangkat dengan mobil carteran/pribadi dari rumah, ketika -+ 1 km sebelum parkiran kendaraan,ada sekelompok orang yang menyetop kendaraan kita berpura-pura tempat itu adalah pemberhentian terakhir sambil menawarkan carter jeep bak seorang petugas resmi Bromo.banyak yang ketipu dan terpaksa mencarternya. Jangan sampai terjebak...karena korbannya sudah banyak, waspadalah waspadalah!!!
    pemkab Probolinggo/Dinas Pariwisata bagaimana koment/tanggapan/respons anda ?!?!?

    ReplyDelete
  4. Halo Mr Anonim,

    terima kasih sekali untuk informasinya yach :)
    apakah ini berdasarkan pengalaman anda sendiri? Terima kasih sekali yach untuk bantuannya menginformasikan hal ini kepada pembaca semua. Kiranya, pembaca dan petualang menjadi sadar dan tidak terjebak oleh hal hal semacam ini. Memang, sangat disayangkan bahwa pelaku industri pariwisata kita ada yang berbuat demikian demi mengeruk keuntungan yang tidak seberapa, namun menghancurkan kredibilitas mereka. Sayang sekali keindahan Bromo harus ternoda oleh perbuatan semacam ini...

    Ya, saya sangat setuju. Hendaknya PemKab dan DepParBud Probolinggo dan Pasuruan harus berbuat banyak dan mencegah hal semacam ini terjadi. Preseden buruk suatu tempat wisata akan menyebar kemana-mana dengan cepat. Bukan hanya semata dari blog ini saja, namun bahkan sudah masuk dalam buku Lonely Planet yang beredar di seluruh dunia. Apa kalian nggak malu?

    ReplyDelete
  5. Hallo Lomar,
    sebelumnya saya mau bilang terima kasih untuk semua info perjalanan yg anda tuliskan disini. Benar2 menolong krn sangat informatif.

    Kembali ke cerita anda ttg oknum2 yg gak bertanggung jwb di terminal Probolinggo. Saya setuju dengan anda, orang2 ini sudah mencoreng pariwisata Indonesia. Mencari nafkah dengan cara menipu spt itu, naudzubillah mindzalik. Semoga aparat bisa menertibkan orang2 ini atau mudah2an suatu hari nanti mereka kena batunya.

    ReplyDelete
  6. Hallo Tira :)

    Terima kasih kembali dan saya senang kalau info disini bisa membantu anda :)

    Saya sich lebih berharap mereka akan sadar sendiri. Toh mereka pelaku pariwisata lokal di tempat mereka sendiri toh? Yang mereka lakukan itu akan merugikan mereka sendiri. Contohnya dengan tulisan saya, ini sudah menjadi preseden buruk dan sudah menyebar ke sekian pembaca. Bagaimana kalau pembaca lainnya turut menyebarkan cerita ini? Saya berharap semoga mereka mengubah perilaku buruk mereka yang pastinya akan membuat para wisatawan kabur.

    Salam kenal :)

    ReplyDelete