Naik Kuda Ke Puncak Bromo

Entah bisa disebut menyebalkan atau ngga, tapi yang jelas begitu anda turun di batas antara hardtop dan pejalan kaki, anda harus siap-siap digempur oleh penawaran tak terbendung. Ditawarin apa sich?
Jarak sekitar 1 kilometer antara pintu masuk dengan Gunung Bromo tersebut memang harus ditempuh dengan berjalan kaki. Untuk saya, jarak segitu nggak terlalu jauh. Menyenangkan, malahan, untuk dijelajahi. Terlebih, saya bisa foto foto dengan bebas sepanjang perjalanan. Maklum, sepanjang perjalan tuh banyak sekali objek menarik yang bisa dijelajahi mulai dari Pura, Gunung Batok dan Gunung Bromo. Waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dan matahari sudah lumayan terasa panas menyengat di lautan pasir ini. Saya nggak bisa santai-santai juga jadinya.
Buat yang malas jalan, banyak sekali penyewaan kuda berjejer di seluruh area lautan pasir ini. Harganya bervariasi sekitar Rp. 75.000 (lokal) – Rp. 150.000 (asing) kalau dibeli di stand resmi. Harga tersebut bisa dinego kalau ditransaksikan agak jauh dari stand resmi dan langsung ke penunggangnya. Masalahnya, saya nggak niat naik kuda. Saya lebih suka jalan kaki. Kenyataannya, penunggang kuda tersebut terus saja memepet saya dan terus menerus menawarkan kudanya. Walaupun sudah saya tolak berkali-kali, mereka terus saja nempel kayak perangko. Kemudian saya tolak mereka dalam bahasa Jawa (entah bener entah nggak) dan mereka masih tetap saja menempel. Ya sudah, selanjutnya saya cuekin saja dech. Saya asyik foto-foto sambil terus berjalan. Tidak terasa, sampai juga saya di Pura. Sampai di Pura pun saya tetap dikuntit dan mereka tak henti-hentinya menawar. Entah karena bukan musim kunjungan wisatawan atau apa yach sehingga jumlah wisatawan berkurang. Tapi jujur, saya nggak suka ditempeli terus begini. Ya, saya sich ngerti ini mata pencaharian mereka satu-satunya dan inilah harapan penghidupan mereka. Tapi, saya sudah bilang cukup jelas bahwa saya ingin berjalan kaki saja alih-alih naik kuda. Nanti kalau saya ingin naik kuda, saya juga bisa manggil koq, Pak.
Usai berfoto di depan pura (sayang, puranya ditutup), saya melanjutkan perjalanan. Matahari semakin meninggi dan suhu semakin meningkat. Dari lautan pasir, saya mulai masuk ke area batu-batu. Saya kaget, ternyata saya baru mencapai setengah perjalanan. Tangga menuju puncak Bromo tampak di ujung sana dalam ukuran kecil. Medan yang harus saya tempuh adalah berbatu-batu dan tanjakan terus. Waduh, saya jadi goyah karenanya. Saya berpikir dengan cepat dan akhirnya berunding dengan rekan saya. Hasilnya, akhirnya kami berdua naik kuda! *akhirnya!* hahaha...kuda-kuda tersebut ditawar seharga Rp. 25.000/kuda/sekali jalan dengan alasan kami sudah setengah perjalanan. Setelah sedikit berdebat alot, akhirnya bapak penunggang tersebut setuju. Mereka bahkan menawarakan diri untuk memfoto saya ketika ada di atas kuda. Wah, terima kasih yach Pak. Hihihi...
Ternyata, medan yang saya tempuh memang sulit. Beberapa orang yang juga teguh seperti kami akhirnya menyerah juga dan harus menaiki kuda di batu-batu tanjakan lereng Bromo ini. Bapak penunggang tersebut yang asli Orang Tengger menawarkan saya untuk difoto beberapa kali dengan latar Gunung Batok, Gunung Bromo dan sedang naik kuda. Wah, bapaknya canggih, tau aja spot-spot menarik untuk difoto. Hohoho...
Akhirnya, setelah melewati deretan batu-batu besar dan tajam, sampai juga saya di dekat tangga Bromo. Bapak tersebut menuntun kudanya sambil berjalan kaki di depan saya. Mungkin sudah biasa bolak balik kali yach? Bagian tangga ini dipenuhi oleh banyak sekali wisatawan dan para penjual makanan dan minuman ringan.Saya turun dari kuda di tempat ini. Ternyata, pengalaman naik kuda ternyata suatu hal yang sulit kalau tidak biasa. Kebalikannya, turun dari kudapun memerlukan teknik tertentu agar kita tidak terbalik atau terjatuh. Bapak penunggang tersebut membantu saya untuk naik dan turun dari kuda. Di bagian puncak ini, banyak sekali kuda-kuda dijejerkan. Kuda-kuda tersebut beraneka warna, putih, abu-abu dan hitam. Kuda-kuda ini menunggu di puncak untuk angkutan turun para wisatawan yang sudah selesai. Mereka umumnya tidak akan menghiraukan wisatawan yang baru saja tiba. Hehehe...

4 komentar:

  1. hmm.... menarik juga wisata gunung bromo ini ya. jadi pengen coba nih.

    ReplyDelete
  2. yup. anda harus coba. hehehe...
    Walaupun budgetnya cukup lumayan, wajib banged deh tuh mengunjungi salah satu Taman Nasional Indonesia yang paling dikenal di Indonesia ini :)
    thanks udah berkunjung :)

    ReplyDelete
  3. seru banget emang kalau ke bromo yaaaah ..

    ReplyDelete
  4. hehehehe...terlalu sebentar padahal banyak hal bisa dieksplorasi di Bromo :)

    ReplyDelete