Surabaya - Bangil - Pasuruan - Probolinggo Selama 3 Jam

Rute bus yang menuju kota-kota di sebelah selatan dan timur Surabaya ternyata selalu melewati jalur yang sama. Pertama, bus akan masuk tol Surabaya – Sidoarjo – Gempol kemudian keluar di Porong. Disini, bus -bus dan truk akan memadati jalur sempit di sebelah tanggul semburan lumpur Sidoarjo. Kemacetan dan panasnya suhu lumayan membuat perjalanan ini terasa panjang. Namun, selepas jembatan Gempol, kemacetan mulai terurai sebab jalur mulai terpisah-pisah disini. Bus-bus yang menuju Malang akan berjalan lurus ke arah selatan, melewati Pandaan dan Prigen, mengelilingi sisi lereng Gunung Penanggungan. Sementara itu, bus yang menuju timur akan berbelok ke kanan, melewati Bangil, Pasuruan. Bangil tampak seperti kota-kota yang berada di wilayah pesisiran Jawa. Sisa-sisa kolonialisme jaman dahulu masih tampak nyata di kota ini. Bangunan-bangunan dengan desain arsitektur Belanda dan campuran Jawa masih berdiri dan terawat rapih di beberapa sudut kota. Bangil adalah kota yang cukup besar dan lebar. Rasanya Bangil nggak habis-habis untuk dilewati dalam perjalanan ini. Bangil memiliki keramaian, pasar dan aneka macam rumah makan. Namun, bus nggak berhenti disini karena baru sepertiga perjalanan.
Satu jam kemudian, bus baru mencapai Kota Pasuruan. Berbeda dengan Bangil, tidak banyak hal yang saya bisa ingat tentang kota ini. Saya hanya ingat akan satu terminalnya, Untung Surapati namun tidak dimasuki oleh bus yang saya naiki. Bus hanya melintas saja di Kota Pasuruan ini. Selepas Pasuruan, praktis tidak ada kota besar lagi yang akan ditemui hingga Probolinggo. Beberapa wilayah seperti Grati dan Tongas menampilkan wajah Jawa yang masih ‘liar’. Pemandangan alam berupa kebun dan sawah menjadi biasa di tempat ini. Beberapa kali saya melihat perkebunan unik yang jarang ditemui seperti kebun anggur dan tanaman unik lainnya di samping sawah. Mungkin iklim di tempat ini kering dan berbeda dengan tempat-tempat lainnya di Jawa kali yach sehingga memungkinkan tanaman yang jarang ditemui di tempat saya, bisa umum disini. Keramaian hanya muncul sesekali di wilayah pusat kecamatan namun selepas itu, anda hanya akan melihat hijau-hijauan saja. Kalau sudah bosan melihat sawah dan hijau-hijau, ya tidur saja. Jalanan dari Pasuruan menuju Probolinggo benar-benar murni lurus saja. Dijamin bisa tidur enak disini apalagi dengan AC yang bikin suhu udara jadi adem.

4 komentar:

  1. Perasaan selepas lumpur itu namanya Jembatan Porong deh, dan bus yg ke timur beloknya ke kiri, bukan ke kanan. hmmm, apa saya yg salah ya? :)

    ReplyDelete
  2. hmm...belok ke kanannya dilihat dari arah selatan *ngeles* wakakakak...iya nich...duh, maap salah tulis. hihi...yang bener belok kiri *udah error ga bisa bedain kanan dan kiri*

    btw, itu Jembatan Gempol koq Brad...:) kelurahannya kan sudah berbeda :D

    ReplyDelete
  3. kadang disebut Jembatan Porong karena memang melintasi Sungai Porong *teuteup gak mo kalah* :))

    ReplyDelete