Mau Ke Rengasdengklok, Nggak?

Seorang teman saya tiba-tiba mengirimkan pesan singkat ke handphone saya. “Mau ke Rengasdengklok nggak? Melihat peninggalan sejarah kemerdekaan Bangsa Indonesia, napak tilas perjalanan Bung Karno”, begitu katanya. Perjalanan tersebut hanya memakan waktu satu hari saja. Tanpa pikir panjang saya pun berkata “iya” dan mulailah kami merencanakan untuk pergi mengunjungi Rengasdengklok, mulai dengan mengumpulkan peserta dan menyewa kendaraan. Maklum, mau banyak tujuan tapi nggak mau terjebak di angkot seharian. Sewa mobil adalah pilihan yang tepat.
Rengasdengklok, secara administratif berada di Kabupaten Karawang. Terletak di dataran rendah, Rengasdengklok secara umum, mmmm, panas. Mirip-mirip Jakarta lah. Pertama kali saya mendengar nama Rengasdengklok adalah ketika saya duduk di bangku sekolah dasar. Namanya unik : Rengasdengklok. Ternyata, nama tersebut juga memberikan kerinduan kepada saya untuk mengunjunginya. Hehehe. Saya suka pergi ke tempat-tempat bernama unik dan tentu saja, berfoto bersama plang tempat tersebut. Yah, kembali lagi ke blog, Rengasdengklok sangat identik dengan kisah perjuangan Bangsa Indonesia. Sebab, di tempat inilah Bung Karno dan Bung Hatta diculik oleh sekelompok pemuda pimpinan Soekarni (Soekarni ini laki-laki loch yaaa), guna merumuskan naskah proklamasi dan mendeklarasikan Kemerdekaan Indonesia pada hari yang kita semua tahu, yakni 17 Agustus tahun 1945. Menjelang hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, secara kolektif ingatan bangsa ini akan menuju ke kota kecil ini.
Nggak mungkin juga kami akan seharian berada di rumah pengungsian Bung Karno dan Bung Hatta. Kami mencari beberapa lokasi menarik yang sekiranya bisa dikunjungi di sekitar Rengasdengklok dan Karawang. Nggak hanya sejarah perjuangan Bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan saja, ternyata Rengasdengklok memiliki sejumlah situs candi Buddha. Sebut saja Situs Cibuaya dan Situs Batujaya di Desa Batujaya dengan Candi Jiwa dan Candi Blandongan-nya. Tidak disangka, ternyata Rengasdengklok memiliki nilai sejarah yang lebih tua dari masa kemerdekaan Bangsa Indonesia. Konon, candi-candi di situs ini berasal dari abad ke 2 Masehi, jauh mengalahkan candi-candi di Jawa bagian tengah dan timur yang rata-rata dibangun pada abad ke 8 dan seterusnya. Selain dua candi tersebut, masih banyak candi-candi lainnya yang terkubur dan belum sempat dipugar oleh para ahli arkeologis. Menarik sekali ya? Ada apa lagi sich di Rengasdengklok dan sekitarnya?
Rasanya, saya akan menutup perjalanan ini dengan berkunjung ke wilayah tepian Karawang di sebelah utara, yakni Pakis Jaya. Menurut info, di tempat ini ada pantai yang cukup bersih. Agak mengejutkan memang ketika melihat posisi Karawang di peta, jarak garis lurus yang ditarik dari Jakarta hanya sekitar 40 KM-an saja. Ternyata, Karawang cukup dekat dengan Kota Jakarta. Namun, tampaknya Karawang bukan alternatif lokasi wisata yang menarik untuk warga Jakarta dan sekitarnya. Daya tarik Puncak dan Bandung masih jauh lebih besar daripada tempat ini. Ada apa gerangan? Sederhana saja, belum banyak warga masyarakat tahu akan potensi dan keunikan yang dimiliki oleh Karawang dan Rengasdengklok. Mau lebih banyak tahu tentang tetangga Jakarta ini? Yah, mari, ikuti perjalanan saya menuju wilayah timur laut Jakarta dan merasakan Karawang dan Rengasdengklok yang sebenarnya.

0 komentar:

Post a Comment