Pagi Hari Di Tepi Danau Toba

Sedikit saran untuk teman-teman yang sekiranya akan menginap di tepian Danau Toba : terserah mau tidur jam berapa, tapi sebaiknya bangun begitu matahari terbit! Yah, memang sich, matahari nggak akan bisa terlihat terbit dengan sempurna di Danau Toba ini. Jelas, di kanan kiri cuma ada perbukitan tandus khas Danau Toba, jadi matahari nggak mungkin keluar dan terlihat dengan jelas di garis cakrawala pastinya. Namun, yang Danau Toba jual bukanlah sekedar matahari terbit saja loch. Pemandangan matahari terbit dari balik perbukitan memang sesuatu banget. Namun, di kala pemandangan itu dipadu dengan aktifitas pagi di seputaran danau, nelayan-nelayan yang menangkap ikan, para penduduk mandi di tepi danau, hingga turis bule yang entah darimana asalnya tiba-tiba melepaskan pakaiannya dan tiba-tiba saja sudah “byurrrr” berenang di air Danau Toba yang pastinya dingin banget. Serius, rasanya, saya hanya ingin malas-malasan di kursi panjang di tepi danau sambil memandangi damainya alam sekitar saya.
Hampir setiap penginapan di Danau Toba akan mempunyai wilayah balkon atau bahkan pelabuhan yang berbatasan langsung dengan tepian Danau Toba. Di Bagus Bay, pelabuhannya bahkan bisa difungsikan sebagai tempat penyebrangan dari Parapat ke Tuk-Tuk Siadong, dan juga sebagai tempat untuk malas-malasan berkat kursi panjang yang berderet di tepi. Beberapa buah botol bir tergeletak di meja-meja sekitar bangku panjang. Mungkin turis-turis asing tersebut ada yang menikmati angin danau malam hari sambil pesta bir kali yach? Nah, di kursi-kursi inilah tempat saya menikmati angin pagi yang segar dari Danau Toba. Di sekitaran kami, burung-burung pagi berkeliaran mencari makan di kolam-kolam yang dipenuhi eceng gondok dan teratai.


Oleh karena terletak di perbukitan, maka walaupun Danau Toba sudah cukup terang, namun anda belum bisa melihat matahari walaupun sudah pukul 7 pagi. Matahari baru benar-benar muncul pada sekitar pukul setengah 8 dari balik rerimbunan pepohonan di bukit. Walau udara Danau Toba cukup sejuk, namun sengatan matahari paginya lumayan terasa panas juga lho. Dan, disinilah seorang pemuda dengan gaya rastafara yang semalam menawarkan penginapan, kembali mendatangi kami sambil menawarkan sepeda motornya. Saya sudah memikirkan ini sich sebelumnya. Memang paling asyik untuk berkeliling Samosir dengan menggunakan sepeda motor. Alasannya jelas, tempat-tempat wisata di Samosir tidak sepenuhnya berdekatan lokasinya (walaupun nggak jauh-jauh amat sich). Sementara itu, angkot jumlahnya terbatas dan menunggu angkot biasanya akan cukup membuang-buang waktu perjalanan selama di pulau ini. Buat yang memang fokus ingin mendapatkan banyak tempat menarik dalam waktu singkat, silahkan pertimbangkan untuk menggunakan sepeda motor. Toh, harga sewanya hanya Rp. 80.000 untuk 12 jam (saya nawar sich, tapi si Lae ini nggak ngasih. Huh!). Biasanya sich bensin sudah terisi penuh dan anda tidak perlu mengisi bensin lagi untuk sehari perjalanan. Yang perlu diingat adalah, biasanya motor ini dilarang untuk pergi ke tempat-tempat yang agak off-road. Saya iseng mencoba bertanya “Kalau saya mau ke Onan Runggu atau ke Danau Sidihoni, bagaimana caranya?”. Sang Lae langsung melarang saya dan tidak mengijinkan saya membawa motornya ke tempat-tempat tersebut. Sebagai informasi, Danau Sidihoni adalah danau yang ada di Pulau Samosir namun bukan terletak di jalan raya utama. Untuk masuk ke danau tersebut, ada jalan off road yang harus dilalui. Sementara itu, Onan Runggu adalah kota di Pulau Samosir yang terletak di jalan lintas selatan dengan kondisi jalan yang kurang baik. Sudah jelas donk, mengapa si Lae melarang saya untuk membawa motornya ke tempat-tempat seperti itu? Untungnya, ia masih mengijinkan saya untuk berkunjung ke Pangururan, Kota utama Samosir yang terletak di pantai barat pulau ini. Walaupun cukup jauh (sekitar 40 KM), namun Pangururan memiliki akses yang mudah dari arah Tomok sini. Yah, dengan kesepakatan tersebut, saya akhirnya menyewa kereta (alias motor) untuk dipergunakan berkeliling Pulau Samosir. Lae tersebut pergi untuk mengisi bahan bakar terlebih dahulu dan kami diminta untuk menunggu saja.

4 komentar:

  1. wah menarik sekali,,
    tapi sayangnya matahari saat pagi dan terbenam agak kurang terlihat,,
    tapi bisa melihat perbukitan yang elok dan indah,,
    sesuatu bangett,,
    hehhe

    ReplyDelete
  2. iya. hehehe. ketutupan sama bukit bukit baik terbit maupun terbenamnya :D hehehe

    ReplyDelete
  3. om Lomar, lae tuh apa sih artinya ?

    ReplyDelete
  4. kalau di Jawa tuh sejenis Mas atau di Jawa Barat kayak"Kang" hehehehe

    ReplyDelete