Bertemu Dengan Orang Batak


Orang Batak mungkin adalah salah satu etnis yang populasi dan persebarannya cukup luas di tanah air kita tercinta ini. Nggak perlu cari jauh-jauh, di sekitar kita saja, pasti anda akan banyak menjumpai teman, atau bahkan saudara dengan nama belakang seperti Tobing, Limbong, Simarmata, Pangaribuan, Sinaga, Pakpahan, Manurung, Butar-Butar, Nainggolan, Sitompul, Sitanggang, Sembiring, Tarigan, Tambunan, Nasution, Silalahi, Harahap, Purba, Tampubolon, dan Marpaung. Mereka ini adalah orang-orang Batak, dengan kekayaan dan keunikan budaya, bahasa serta adat istiadatnya. Tempat tinggal asal mereka adalah di seputaran dataran tinggi Toba, tepatnya di sekeliling Danau Toba. Sementara itu, Gunung Pusuk Buhit yang berada di sebelah barat Danau Toba, dipercaya menjadi lokasi asal tempat Orang Batak turun pertama kali ke bumi dari Mula Jadi Na Bolon atau kita mengenalnya sebagai Tuhan. Siraja Batak ini nggak punya marga Batak sama sekali loh. Anak maupun keturunannya ini lah yang mendapat boru atau marga di belakang namanya. Replika Siraja Batak ini bisa dilihat salah satunya yang cukup besar berada di Desa Pagar Batu, Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir.
Masih inget nggak sich dengan pelajaran waktu sekolah dasar dahulu? Sumatera Utara dideskripsikan secara singkat dan datar. Kalau anda masih ingat, kurang lebih seperti ini : Sumatera Utara beribukota di Medan, penduduknya Orang Batak, rumah adatnya Rumah Bolon, tarian adatnya Tor-Tor, pakaian daerahnya Ulos, lagu daerahnya Rambadia, serta objek wisatanya Danau Toba. Sangat sempit sekali yah deskripsi yang dimuat pada waktu itu? Sekarang, kita tahu bahwa Sumatera Utara terdiri atas puluhan Kabupaten dan ratusan Kecamatan. Tiap kabupaten memiliki ciri khas budaya-nya masing-masing. Dalam satu kabupaten pun, identitas budaya yang dimilikinya bisa berbeda-beda, tidak datar begitu saja.
Seiring dengan perkembangannya, orang Batak pun menyebar ke seluruh nusantara. Nah, bagian ini lah yang hingga kini masih merupakan kontroversi. Menurut Museum Sejarah Batak di T.B. Silalahi Center, Etnis Batak memiliki 6 Puak Batak atau yang dikenal sebagai sub-etnis Batak. Mereka adalah Batak Toba (yang terbesar dan tinggal di seputaran Danau Toba hingga Tapanuli), Batak Simalungun (berada di wilayah Simalungun, Raya dan Siantar), Batak Karo (berada di wilayah Karo, Brastagi dan Kabanjahe), Batak Pak-Pak Dairi (berada di wilayah Pak-Pak, Dairi, Salak, dan Sidikalang), Batak Mandailing (berada di sekitar Mandailing, Natal, Padang Lawas, dan Sidempuan), dan Batak Angkola (Sipirok, Batangtoru dan Tapanuli Tengah). Di luar dari enam puak Batak yang resmi ini, sebenarnya terdapat pula klasifikasi untuk sub-etnis Batak lain seperti misalnya : Batak Singkil (di seputaran Aceh Singkil), Batak Gayo (Seputaran Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah), Batak Rao (Di Sumatera Barat), Batak Pasir Rokan (daerah Rokan, Riau), dan Batak Dalé (wilayah pesisir Sumatera Timur). Adapun klasifikasi suku-suku ini sebagai sub-etnis Batak didasarkan pada bahasa, ciri fisik dan kebudayaan yang tidak begitu terpaut jauh. Antar suku-suku ini masih bisa mengerti bahasa lawan bicaranya walaupun ada beberapa kata yang memang jelas-jelas berbeda sebagai contoh, Ulos adalah istilah untuk kain tenun penghangat tubuh di wilayah Batak Toba. Pada masyarakat Simalungun, namanya menjadi Hiou. Pada masyarakat Karo, namanya menjadi Uis. Pada masyarakat Pak-Pak Dairi, namanya menjadi Oles. Pada masyarakat Angkola dan Mandailing, namanya menjadi Abit. Walaupun berbeda, namun prinsip dasar dari kain tenun ini serupa. Yang membedakan hanyalah cara penenunannya, motifnya dan cara lipat/penggunaannya. Seperti itu.
Uniknya, hingga saat ini, banyak sekali kelompok masyarakat di Sumatera Utara yang menolak untuk dimasukkan dalam kategori sub-etnis Batak. Beberapa diantaranya menyebut mereka sebagai satu etnis atau suku yang berdiri utuh. Ini didasarkan pula dari sejarah asal muasal mereka yang berbeda dengan sejarah Batak Toba. Umumnya, mereka menolak sejarah Batak Toba dengan Gunung Pusuk Buhit dan Mula Jadi Na Bolon-nya karena ada referensi lain, misalnya dari suatu kerajaan atau migrasi dari wilayah tertentu. Anda bisa mencari referensi mengenai ini di internet. Beberapa suku seperti Karo dan Mandailing cukup tegas menyebut mereka sebagai suatu etnis yang berdiri sendiri, bukan berada di bawah etnis Batak. Sementara itu, untuk istilah “Batak”, mereka mengarahkannya sebagai “Batak Toba”.
Pada awal mulanya, Orang Batak menganut agama tradisional mereka yang disebut Pelebegu. Kepercayaan Pelebegu ini merupakan kepercayaan Animisme dan Dinamisme yang mempercayai adanya kekuatan di atas manusia dalam manifestasi roh di bebatuan, pohon dan lainnya. Seiring dengan perjalanan waktu, termasuk ketika pedagang Tamil mulai berdagang di pantai barat Sumatera dan Misionaris Belanda dan Jerman memasuki Sumatera, masuklah agama Islam, dan Kristen ke Tanah Batak. Agama Malim yang berpusat di Huta Tinggi pun sebenarnya merupakan bentuk modern dari Pelebegu, karena sudah memiliki pengaruh Katolik dan Islam. Pada kepercayaan masyarakat tradisional Batak, terdapat pula praktek kanibalisme yang terutama ditujukan kepada lawan atau penjahat di dalam masyarakat. Untungnya, praktek semacam ini semenjak abad 20 sudah ditiadakan berkat masuknya agama Islam dan Kristen ke Tanah Batak. Kini, agama Kristen merupakan agama dominan yang dianut oleh penduduk di seputaran Danau Toba. Saya percaya tidak perlu pembuktian empiris mengenai hal ini, namun cermati saja jumlah gereja besar dan kecil yang tersebar di sepanjang perjalanan. Sementara itu, agama Islam lebih banyak dianut oleh penduduk yang bermukim di pesisir baik barat maupun timur. Mayoritas muslim di pesisir barat berada di Kabupaten Mandailing Natal. Sementara itu, mayoritas muslim di timur kebanyakan adalah orang-orang Melayu yang memang kental dengan kebudayaan Deli serta banyak mendapat pengaruh Riau, Aceh dan Malaysia. Di luar dari itu, Pelebegu dan Malim tetap berkembang di masyarakat tradisional Batak.
Yah, terlepas dari sub-etnis aatau agama apapun yang orang Batak anut, namun satu hal yang saya percayai, mereka memiliki kebudayaan yang tinggi, cita rasa yang menarik dan suara yang bagus. Rumah adat, ulos, tarian daerah, lagu-lagu berbahasa Batak, ukir-ukiran di sekeliling rumah adat, system kemasyarakatan pada suatu huta (=kampung), dan aksara Batak, menjadi pertanda bahwa bangsa ini adalah bangsa yang memiliki sejarah panjang dan menarik untuk dieksplorasi. Sambil berjalan menelusuri kecantikan alam Sumatera Utara, kita belajar untuk mengenal lebih jauh kebudayaan Orang Batak yang unik ini yach!

5 komentar:

  1. wow cocok jadi guru sejarah nih om Lomar :)

    eh Rajagukguk ketinggalan :D
    satu suku, subnya aja masih beragam ya

    ReplyDelete
  2. wah masih banyak koq yang emang nggak disebut. Sianturi, Sitohang, Sihotang, Lumban Tobing, Ginting, Siregar, Hasibuan, dan banyak lagi. hohoho. Rajagukguk salah satunya.

    iya, satu suku namun sub sukunya beragam, walau sampai sekarang masih menjadi kontroversi sich, seperti yang telah saya utarakan di atas :)

    sebenernya kalau mau dilihat, Bugis di Sulawesi Selatan juga memiliki subetnis yang lumayan banyak, misalnya Bugis Bone dan Bugis Sinjai. atau Suku Jawa yang memiliki sub etnis Osing dan Tengger.

    ReplyDelete
  3. nambahin satu lagi mas, Sijabat (si jawa batak).. hohoho.. *yang ngajarin orang batak*

    ReplyDelete
  4. kepercayaan batak asli bukan si pele beegu.. tetapi ugamo malim.. Tuhannya adalaah Oppu mula jadi na bolon pencipta langit dan bumi beserta isinya.. memang ada beberapa yg menganut animisme dn dinaamisme yg menyembah benda2.. tapi itu saangat kecil sekali.. rao,pesisir sibolga,pesisir riau.. belum bisa dikatakan batak.. tettapi tidak bisa dipungkiri nenek moyang mereka ada yg dari suku batak..

    ReplyDelete
  5. kepercayaan batak asli bukan si pele beegu.. tetapi ugamo malim.. Tuhannya adalaah Oppu mula jadi na bolon pencipta langit dan bumi beserta isinya.. memang ada beberapa yg menganut animisme dn dinaamisme yg menyembah benda2.. tapi itu saangat kecil sekali.. rao,pesisir sibolga,pesisir riau.. belum bisa dikatakan batak.. tettapi tidak bisa dipungkiri nenek moyang mereka ada yg dari suku batak..

    ReplyDelete