Tidak Ada Angkutan Umum Ke Tuk-Tuk Siadong

Begitu kami menjejakkan kaki kami di Pulau Samosir, sejenak saya baru tersadar : hari sudah malam, akankah ada angkutan dari Tomok menuju Tuk-Tuk Siadong tempat kami melewatkan malam? Sejumlah turis nampak naik mobil carteran yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Para inang menaiki angkutan yang sudah menunggu di tepi pelabuhan. Duh, saya baru tersadar kebodohan saya. Kenapa saya nggak riset dulu yach untuk rute Tomok – Tuk Tuk Siadong? Nggak berapa lama, datanglah sesuatu yang mengaku bernama solusi. Seorang pria muda datang menghampiri kami dan menawarkan jasa pengantaran. Sebelumnya ia bertanya terlebih dahulu kemanakah kami akan berangkat. Kami menjawab, “Tuk-Tuk Siadong” atau dalam bahasa setempat kerap disebut “Tuktuk” saja. Pria tersebut menawarkan mobil yang sudah ia persiapkan di pinggir pelabuhan dan menyebutkan harga Rp. 60.000 untuk sekali pengantaran ke Tuk-Tuk Siadong untuk dua orang. Artinya, satu orang akan dikenakan harga Rp. 30.000. Mata saya melotot saat itu. Tampaknya, saya sudah masuk ke dalam sisi komersil dari dunia pariwisata Danau Toba. Saya kembali mengingat-ingat dan akhirnya saya nekad memberanikan diri untuk menawar, dengan keyakinan bahwa Tomok – Tuk-Tuk Siadong cukup dekat, hanya sekitar 2 kilometer saja.
Saya menawar Rp. 5.000 per orang. Ya, saya tahu apa yang anda pikirkan. Mungkin saya nawarnya keterlaluan. Namun buat saya, untuk jarak 2 Kilometer, mereka yang menawarkan harga Rp. 30.000/orang jauh lebih keterlaluan. Toh, saya nggak minta naik mobil. Naik motor juga jadi, yang penting sampai. 2 KM sih nggak terlalu masalah untuk sebuah motor kan? Seperti yang sudah saya duga, mereka tidak mau menurunkan harga penawarannya. Baiklah, saya akhirnya mengeluarkan senjata pamungkas. Saya mengajak teman saya untuk berjalan kaki. Toh, berjalan 2 KM tidak akan membunuh saya. Tampaknya ancaman tersebut berhasil, ia menurunkan harganya menjadi Rp. 50.000/2 orang. Saya tetap tidak tertarik dan saya kembali melangkahkan kaki. Dalam benak saya. Separah-parahnya, untuk jarak sedekat itu, harga yang wajar adalah Rp. 10.000/orang. Itu saja menurut saya sudah merupakan suatu pemerasan.
Akhirnya, dengan tekad yang kuat, saya nekad berjalan kaki menyusuri Jalan Lintas Samosir untuk mencapai Tuk-Tuk Siadong yang berjarak sekitar 2 KM dari Tomok. Pemuda tadi nggak mau kalah. Ia tetap mendampingi kami sambil mengatakan kata-kata “jauh, bensin mahal, dsb”. Sayangnya, saya sudah terlanjur antipati duluan. Alih-alih kebutuhan, ini lebih kepada perang urat syaraf dan tekad buat saya. Hahaha. Sampai harganya diturunkan menjadi harga yang saya inginkan, saya rasa saya tidak tertarik untuk naik kendaraan mereka. Namun, serangan tidak berhenti disitu saja. Beberapa tukang ojek juga memepet dan menawarkan jasanya pada kami yang berjalan kaki. Apabila siang hari, tampaknya ini bukan sesuatu hal yang aneh. Namun, kami berjalan kaki pada malam hari di keremangan malam Samosir dan dalam suasana sepi. Mau tak mau para supir ojek dan kendaraan akan berlomba-lomba untuk merebut hati kami. Hahahaha. Sekedar informasi, tidak ada angkutan publik dari Tomok ke Tuk-Tuk Siadong yang hanya berjarak 2 KM saja. Pilihannya hanya berjalan kaki, atau anda naik angkot lintas Samosir yang melayani rute Tomok - Pangururan, turun di Simpang Tuk-Tuk Siadong dan berjalan kaki sejauh 1 KM lagi. Kalau anda terburu-buru dan punya dana lebih, mungkin anda tertarik untuk menyewa ojek atau carter mobil (perkiraan biaya Rp. 20.000/orang untuk motor dan Rp. 30.000/orang untuk mobil). Sayangnya, saya nggak tertarik. Hohoho.

2 komentar:

  1. lhoo ternyata cuma 2 km tho antara tomok ke tuk tuk.. lha itu tulisan di petunjuk jalan kok sampe 10 km? menyesatkan yak..

    ReplyDelete
  2. iyah...sudah dibuktikan dengan uji klinis, viskositas, velositi dan uji empiris lainnya. wkwkwkwkw.... kalau 10 KM, kaki saya mungkin sudah segede tales, dan sisa perjalanan akan saya habiskan di hotel aja Mas :p

    nyampenya juga baru 3 jam kemudian. hahahaha

    ReplyDelete