Benteng Rotterdam Si Benteng Ujung Pandang

Sebuah patung berwarna putih, seekor kuda yang ditunggangi oleh seorang pria : Sultan Hasanuddin tampak di sebuah taman di pintu masuk benteng ini. Sama seperti kota-kota lain yang terletak di tepi laut atau sungai, Makassar adalah salah satu diantara kota-kota tersebut yang memiliki benteng atau Fort. Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam adalah salah satu dari benteng-benteng di Indonesia yang masih dalam kondisi baik dan terjaga perawatannya. Tidak percaya? Mari kita lihat benteng ini.
Setelah menjumpai patung pahlawan nasional dari Sulawesi Selatan, Sultan Hasanuddin dari Gowa-Tallo, kita akan dihadapkan pada sebuah prasati logam modern yang bertuliskan “Fort Rotterdam” dan di bawahnya terdapat tulisan “Benteng Ujung Pandang”. Disinilah pintu masuk Benteng Ujung Pandang ini berada. Kompleks benteng ini memiliki 5 sisi sehingga berbentuk menyerupai penyu laut yang mengarah ke laut, semodel dengan Fort Marlborough di Bengkulu, hanya saja Rotterdam berukuran lebih kecil. Di ujung dari tiap sisi tersebut terdapat sebuah bastion atau yang mungkin biasa kita kenal dengan sebutan menara pengintai. Kalau anda masuk ke dalam benteng, pasti akan melihat beberapa bastion yang dilengkapi plang nama seperti misalnya “Bastion Bone”.
Benteng ini dibuka mulai pukul 07.30 pagi hingga 18.00 sore. Ada tulisan yang menyatakan waktu pembukaan benteng di gerbang masuk. Gerbang masuk benteng ini sendiri adalah sebuah gapura besar terbuat dari batu dan bercat putih. Sebuah pintu kayu berbintik-bintik yang besar dan berat menghiasi gerbang masuk benteng ini. Sebuah pintu kecil dapat dibuka dari pintu yang besar tersebut, mungkin jalan masuk orang kalau terjadi penyerangan kali yach?
Walaupun tampak dalam kondisi yang cukup baik, namun beberapa bangunan di dalam benteng dan beberapa bastion sudah tampak rusak dan hancur. Yang masih tersisa dengan indah adalah bangunan-bangunan inti di dalam benteng seperti Museum La Galigo dan Gedung Pertunjukkan Seni dan Museum di tengah areal benteng. Dibilang indah, pun, catnya sudah banyak yang mengelupas dan beberapa bagian tampak menghitam karena jamur. Mungkin kalau nggak jamuran maka nggak bernuansa jadul kali yach? Sehingga terasa sebagai bangunan baru? Hehehe…
Waktu itu, sekitar pukul 9 pagi namun benteng ini sudah didatangi oleh cukup banyak wisatawan lokal. Ada sepasang pengantin khas Makassar atau Bugis yang datang menaiki becak dan bersama rombongannya masuk ke benteng ini. Tampaknya mereka akan mengadakan foto pre-wedding di dalam benteng. Museum La Galigo yang menyajikan informasi seputar Sulawesi Selatan baik literatur maupun benda-benda peninggalan sejarah terdapat di dalam benteng ini. Di sekitar benteng, banyak terdapat toko-toko souvenir yang menjual benda-benda kerajinan tangan terutama yang terbuat dari kerang-kerangan. Sekumpulan orang berkumpul di pelataran tengah taman yang tertata indah sambil membawa kamera DSLR dan tripod. Sementara itu, Dinas Kesenian Makassar yang berlokasi di salah satu bangunan di dalam areal benteng sedang mengadakan kulaih sinematografi dan teater. Nggak heran, benteng ini begitu ramai walau di pagi hari.
Benteng yang tidak begitu luas ini ternyata menarik juga kalau dieksplorasi semuanya. Ada banyak sudut-sudut yang menyimpan benda-benda unik seperti misalnya Kapal Phinisi, Prasati bergambar singa hingga meriam. Saya menyusuri sudut-sudut benteng hingga ke bagian bastion yang sepi dan terletak agak ujung. Saya baru menyadari, kondisi tiap bastion tidak selalu sama. Bastion yang saya kunjungi tampak masih terawat rapih, terbukti dengan jalan masuknya yang berupa lorong menyempit menanjak dan pintu keluarnya terletak di salah satu sudut puncak benteng. Sementara itu, bastion yang terletak lebih depan, dekat pantai, kondisinya cukup parah. Jalan masuk lorong yang menyempit itu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanya berupa tangga tidak jelas dan bangunan yang sebagian besar dihancurkan atau hancur termakan usia. Bentuk puncak bastionnya pun agak abstrak menurut saya, berbeda dengan bastion yang berada lebih dalam. Saking masih rapihnya bastion yang terletak di belakang, saya sampai ngeri sendiri. Kenapa saya nekad sampai naik ke bastion ini seorang diri dan berfoto-foto yah? Terlebih, ada sebuah ruangan di kanan kiri lorong dengan akses hanya berupa jendela kecil saja. Ketika saya melihat ke dalamnya, saya hanya melihat kegelapan saja. Mungkinkah ruangan dengan jendela kecil tersebut adalah tempat menyimpan tahanan? Saya ngeri memikirkannya dan segera berlalu dari pemandangan tersebut. Pemandangan mencengangkan menyambut saya begitu saya mencapai puncak bastion. Begitu saya melongok keluar, yang tampak adalah rumah-rumah penduduk, bahkan beberapa diantaranya sudah lebih tinggi daripada bastion. Jalan yang terletak di belakang bastion yang saya naiki tampaknya merupakan jalan kampung. Banyak warga berjalan lalu lalang dan melakukan aktfitas pagi termasuk diantaranya mencuci pakaian. Buyarlah sudah impresi saya akan peristiwa masa lalu Fort Rotterdam.
Kalau anda tidak tertarik peristiwa sejarah dan bangunannya, anda bisa bermain-main di seputaran taman di dalam kompleks benteng yang menurut saya, masih tertata dengan baik dan rapih. Pohon-pohon pakis dan palem ala padang stepa menghiasi beberapa sudut halaman. Banyak tempat yang bisa diekplorasi sebenernya di tempat ini, termasuk diantaranya adalah pintu-pintu besi yang memberikan efek menyeramkan dan tangga-tangga panjat yang banyak terdapat di sekeliling benteng. Banyak bangunan inti benteng yang hanya bisa diakses melalui tangga panjat, bukan tangga daki. Mungkin menarik kalau melakukan eksplorasi ke tempat-tempat itu. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa tempat yang saya kunjungi tidak dilarang, aman atau justru malah berbahaya?
Memang, saya melihat ada beberapa usaha untuk memperbaiki benteng ini. Misalnya di dekat Bastion Bone, ada sebuah ruangan yang tampaknya sudah hancur atapnya namun direnovasi dengan cat putih pada seluruh bagian dalamnya. Beberapa pilar-pilar besar yang rapuh juga tampak sedang dalam kondisi peremajaan. Beberapa ruangan benteng malah justru menjadi gudang penyimpanan barang-barang warung yang bisa ditemukan di sekitar benteng. Bisa jadi, mereka turut menjaga dan merawat kondisi benteng dengan menjadikan ruangan tak terpakai sebagai gudang penyimpanan stok barang mereka. Hehehe…matahari semakin tinggi, sudah tidak terlalu nyaman berada di dalam benteng lama – lama karena kurangnya pohon besar peneduh di tengah areal. Sebaiknya saya segera menuju Bantimurung.

1 komentar:

  1. Woooow, kereen banget blog nya Gan, seluruh Indonesia mau ditapaki...luar biasa. Lebih2 lagi untuk di-share melalui blog ini.
    Salut !!

    ReplyDelete