Selamat Datang Di Kota Ambarawa!

Selamat datang di Ambarawa! Kota Ambarawa adalah ibukota dari Kabupaten Semarang. Beberapa referensi yang saya temukan menyebutkan, ibukota Kabupaten Semarang adalah Ungaran. Saya nggak tahu juga mana yang bener. Hehehe. Ada apa sich di Kota Ambarawa ini? Yuk, ikut saya.
Ambarawa adalah kota yang terletak di dasar lereng gunung, mirip dengan sebuah cekungan. Ambarawa dikelilingi oleh pegunungan. Pemandangan yang bisa anda lihat di segala arah adalah gunung dan gunung saja. Di utara, ada Gunung Ungaran. Di selatan, ada Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sayang, walaupun bergunung-gunung, namun Ambarawa berupa dataran. Saya tidak merasa hawa dingin di tempat ini. Ambarawa sendiri merupakan kota perlintasan. Jalur utama Semarang – Magelang - Yogyakarta akan melalui tempat ini. Pusat keramaian kota ini berpusat di Pasar Projo yang terletak di jalan utama kota, Jalan Jenderal Sudirman. Sepanjang jalan, anda akan menjumpai banyak sekali toko-toko yang menjual berbagai jenis perlengkapan rumah tangga, sayur mayur, makanan dan banyak hal.
Hal yang paling dikenal dari Ambarawa adalah statusnya. Ambarawa terkenal sebagai Kota Pahlawan, hampir serupa dengan Surabaya. Banyak peninggalan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang masih terawat dan menjadi ikon dari kota ini. Sebut saja Monumen Palagan Ambarawa, Museum Kereta Api, dan Benteng Williem II. Semua peninggalan sejarah tersebut dalam kondisi terawat dan menjadi lambang dari Kota Ambarawa ini. Masih di Ambarawa, ada Gua Maria Kerep yang menjadi tempat ziarah umat Katolik yang cukup terkenal. Tidak jauh dari Ambarawa, di Kecamatan Banyu Biru (10 KM dari Ambarawa) di Kabupaten Semarang, ada Danau Rawa Pening yang sangat terkenal. Walau terletak di Kabupaten Semarang, namun Danau Rawa Pening sangat identik dengan Ambarawa. Ambarawa menjadi titik asal para pelancong yang akan berkunjung ke Danau Rawa Pening ini. Walau bukan kota resort yang terletak di pegunungan, namun dengan berjalan tidak terlalu jauh, anda akan bertemu banyak tempat yang menawarkan tempat wisata pegunungan, misalnya di utara ada Bandungan, di barat ada Pringsurat, di timur ada Tuntang, dan di selatan ada Kopeng.
Satu hal lagi yang menjadi ciri khas Ambarawa adalah kulinernya. Walau tidak sepopuler Serabi Notosuman di Solo, namun Ambarawa memiliki Serabi khasnya sendiri. Masih di perpanjangan Jalan Jenderal Sudirman, rute Semarang menuju Yogyakarta sebelum mencapai Bedono, masih di pinggir Ambarawa, ada deretan panjang penjual serabi yang berjejer di pinggir jalan. Uniknya, kios-kios tersebut berukuran tidak terlalu besar, maksimal sekitar 2x2 meter saja. Deretan kios-kios tersebut memanjang hampir sekitar 1 kilometer jauhnya. Penjual serabi tersebut memasak dengan cara tradisional, lengkap dengan tungku kecil-kecil di depan kios mereka. Walaupun berdempet-dempetan, jualan mereka serupa : serabi. Walaupun umumnya dibawa pulang, anda bisa mencoba menikmati serabi di beberapa kios yang memilikio bale-bale. Kehidupan dan denyut Ambarawa umumnya melambat selepas terbenamnya matahari. Sekitar pukul 8 malam, toko-toko di sepanjang deretan Pasar Projo mulai menutup usahanya. Namun tidak demikian dengan kios-kios serabi yang masih setia menunggu pembeli. Hingga malam, walaupun kondisi di kanan dan kiri jalan cukup sepi, namun pembeli masih berdatangan satu dua orang. Keramaian yang ada di ruas ini hanyalah dari bus-bus malam Semarang – Yogyakarta yang melintas plus kendaraan-kendaraan lain. Kalau mampir dan melintasi penjual serabi Ambarawa ini, cobalah untuk menepikan mobil dan merasakan citarasa Ambarawa yach.

4 komentar:

  1. Ambarawa itu nama kecamatan ko..
    Nice share! jadi kangen :)

    ReplyDelete
  2. Hai!

    Iyah, Ambarawa tuh nama kecamatan. Kota Kecamatan maksudnya kan? Ambarawa sering direfer sbg Ibukota Kabupaten Semarang alih-alih Ungaran. Status sebagai kota sudah cukup bukan? :D

    Iya, kangan sama ademnya Ambarawa ^^

    ReplyDelete
  3. Kangen sama temen-teman era 80an sama kotanya yg dingin

    ReplyDelete