Mengikuti Misa Di Gereja Hati Kudus Yesus Kayutangan Malang

Postingan ini melanjutkan postingan sebelumnya tentang Gereja Hati Kudus Yesus yang berada di Malang. Postingan sebelumnya bisa dibaca disini.
Kali ini, saya kembali mengunjungi Gereja Hati Kudus Yesus yang berada di dekat Alun Alun Kayutangan, Malang. Kali ini, saya berniat untuk mengikuti misa di gereja ini. Saya mengikuti misa sore jam 18.30 pada hari sabtu. Gereja dengan gaya Neo Gotik ini memiliki berbagai prasasti yang ditulis dalam bahasa Belanda. Saya sendiri nggak bisa bahasa Belanda dan nggak bisa mengira-ngira terjemahannya seperti apa. Tapi dari prasasti ini, saya mendapat informasi bahwa tahun 1905 dan 1906 adalah tahun penting bagi gereja ini. Menurut info dari Mbah Google, Gereja Hati Kudus Yesus ini didirikan pada tahun 1905. Jadi, kemungkinan 1906 adalah tahun penyelesaian bangunan gereja ini. Untuk menara gereja, baru selesai dibangun pada 1930. Umur gereja ini sudah 100 tahun lebih yach jadinya. Gaya arsitektur gereja ini tetap dipertahankan hingga saat ini, seperti layaknya Gereja Maria Bunda Karmel atau yang lebih dikenal dengan Gereja Ijen.
Memasuki ruangan gereja, ada sebuah tangga menuju ke atas. Upsss...anda nggak usah nekad naik karena tangga itu khusus bagi para paduan suara. Di atas, tidak ada bangku duduk untuk umat. Jadi, pilihlah tempat di bagian bawah saja. Seperti khasnya gereja jaman Neo-Gotik, kubah atap tinggi menjadi ciri khas gereja ini. Bangku kayu panjang dengan ukiran di beberapa tempat serta kaca patri warna warni berpola menghiasi interior gereja ini. Tulisan Belanda hanya tampak di depan, di prasasti pendirian gereja ini saja. Sisanya, tulisan dalam Bahasa Indonesia, terutama ejaan lama memenuhi sudut-sudut gereja tepat seperti yang tampak di bawah 12 lukisan besar yang kerap digunakan untuk prosesi Jalan Salib. 6 lukisan berada di sebelah kiri dan 6 lukisan berada di sebelah kanan. Salah satu tulisan yang tampak di bawah lukisan adalah “T. Jesus Ditanggali Pakaiannja”. Perhatikan imbuhan ‘Di-i’ pada kata tanggal dan keterangan milik ‘nja’ pada kata pakaian. Jelas, tulisan ini dipasang sesudah jaman kemerdekaan dan pada masa ejaan Soewandi masih dipergunakan.
Gereja ini berada di bawah Keuskupan Agung Malang. Sebelum masuk dan mengikuti misa, ekspektasi saya ialah misa dilangsungkan dalam bahasa Jawa-Malang. Ternyata saya keliru, misa dilangsungkan dalam bahasa Indonesia dan buku pujian yang digunakan adalah Puji Syukur, bukan Madah Bakti yang merupakan buku lama. Urutan dan proses berlangsungnya misa pun tidak jauh berbeda dengan yang di Jakarta. Bangku gereja tidak sepenuhnya terisi penuh pada malam itu dan suhu di dalam gereja agak panas walaupun jendela-jendela tinggi di sisi gereja dibuka. Gereja ini belum mengadopsi penyejuk udara seperti banyak gereja modern. Untuk rekan-rekan, kalau ada kesempatan datang ke Malang, mainlah ke gereja-gereja berarsitektur Neo-Gotik ini. Untuk rekan yang beragama Katolik, sembari melihat-lihat, sempatkanlah mengikuti misa sembari melihat kecantikan arsitektur interior gereja ini.

1 komentar:

  1. Kelihatannya cantik. Sayang fotonya kurang banyak :)

    Eh bro, gue ganti alamat blog. Status Ambon Kaart mau gue ganti aja dgn "indobrad" karena pengen lebih profesional. Please ganti link-mu dgn nama & URL baru ya. Hehehe. Thanks

    ReplyDelete