Lagi-Lagi, Borong Salak Sangeran, Enrekang


Sekitar pukul setengah sepuluh (saya sampai tidak berani melihat jam lagi), setelah mengetem setengah jam di depo bus Makale, bus berjalan ke selatan, meninggalkan Makale dan Tana Toraja. Akhirnya! Selamat tinggal Tana Toraja, sampai jumpa kali lain! Bus bergerak dengan kecepatan yang lumayan menyusuri jalan Trans-Sulawesi. Berhubung bus yang saya naiki adalah bus non-AC (bus AC berangkat pada pukul 9 pagi –terlalu siang untuk saya-), sengatan matahari mulai terasa panas menyelimuti. Saya pun tertidur di ruas Makale – Enrekang dan baru terbangun ketika bus berhenti untuk berbelanja oleh-oleh Salak khas Enrekang. Sentra berbelanja salak di Enrekang ada banyak. Umumnya mereka tersebar di kecamatan Alla dan Anggeraja. Bus yang kami tumpangi berhenti di Salak Yoko, Sangeran, Desa Mampu, Anggeraja. Hampir serupa dengan kios-kios salak lainnya, kios ini nggak hanya menyediakan oleh-oleh utama berupa salak, kios ini menyediakan aneka penganan kecil lainnya. Namun sudah pasti, Salak Enrekang ini menjadi sesuatu yang primadona untuk dijadikan oleh-oleh. Hampir setiap penumpang yang saya amati, berbelanja salak ini. Salak ini dijual dengan harga RP. 5.000 per kilonya. Saya sendiri sangsi akan berat timbangan ibu penjual salak ini. Kayaknya timbangan si ibu ngaco dech. Saya diberikan salak beberapa belas buah. Apa iya, salak sekilo sampai sebanyak ini? Banyak betul!? Salak Enrekang memiliki rasa yang khas yakni agak sepat namun citarasa manisnya tetap ada. Unik. Saya bisa menghabiskan satu kilo salak ini sendiri saja saking ketagihannya. Selain salak, anda bisa membeli berbagai produk seperti kue merah, lapis legit, wajik dan aneka cemilan kering. Namun jujur, aneka cemilan kering tersebut tidak menggugah selera saya. Saya tertarik sekali dengan salak yang baunya harum ini. Perhentian ini dilakukan kurang lebih selama setengah jam saja. Ayo, borong-borong buat orang rumah!

6 komentar:

  1. waduh kalo salak buat oleh2 mah berat bawanya.. tapi bener tuh rasanya enak? nggak kayak salak bali kan yang bisa nyangkut di leher karena susah nelennya?

    kalo dibandingin salah pondoh dari sleman enak mana ya kira2?

    ReplyDelete
  2. ahahahahaha

    makanya, dibawa dari Enrekang, pas sampai Makassar, tinggal kulitnya saja. Isinya sudah di perut....hahahahaha...salak ini, walaupun agak masam, namun enak banged loch. saya sendiri bisa ngabisin sekilo sendiri...hehehe

    ReplyDelete
  3. tapi memang cukup murah kalo 5.000 per kilo. dan itu packingnya bagus juga pake daun kelapa atau daun salaknya? ..

    ReplyDelete
  4. errr....kayaknya sih bukan daun kelapa yah...hehehe...daun apa itu yach? Apakah salak? :D

    ReplyDelete
  5. itu pake daun salak bungkusnya..he..he, kebetulan saya asli kalosi tempat salak itu..:D

    ReplyDelete
  6. Thanks yah Ta buat infonya...hehehe....saya belinya yang di dalam plastik aja nih, bukan yang masih terikat daun salak seperti itu. hehehehe

    ReplyDelete