Nyasar Di Pasar Klojen

Sebenarnya, saya kesini atas suatu kesalahan. Niat pertamanya adalah mencari oleh-oleh khas Malang yang kita semua sudah tahu yakni keripik dan sebangsanya. Berdasarkan informasi dari orang Hotel Helios, di dekat hotel (wilayah Klojen) ada sebuah pasar yang menjual berbagai macam produk makanan termasuk salah satunya adalah keripik. Pasar ini bernama Pasar Klojen. Letaknya memang tidak jauh dari hotel. Dengan berjalan kaki santai, bahkan tidak sampai 5 menit sudah sampai di pasar ini. Pasar ini ada di sebuah perempatan besar Klojen dimana banyak orang berjualan pisang. Kalau anda melihat banyak pisang digantung-gantung dan banyak orang melakukan aktifitas sarapan pagi di angkringan pinggir jalan, selamat, anda sudah di jalur yang benar. Nah, Pasar Klojen ini hanya sepelemparan batu dari tempat orang menjual pisang tadi (sebenernya wilayah orang menjual pisang tersebut sudah merupakan Pasar Klojen sich).
Mulai dech pencarian saya akan keripik-keripik khas Malang. Saya menyusuri jalan dan bertemu dengan deretan bapak-bapak penarik becak yang sedang mangkal. Sambil melewati bapak-bapak tersebut, saya menjumpai plang besar yang bertuliskan Pasar Klojen. Tentu, urusan keripik bisa dikesampingkan donk. Foto foto dulu aja dech..hahaha. Setelah puas berfoto, saya masuk menyusuri pasar tersebut. Masuk punya masuk dan usut punya usut, koq sama sekali nggak ada orang yang berjualan keripik yach? Adanya malahan penjual buah-buahan segar (termasuk apel pastinya) dan penjual kue-kue basah dengan aneka ragam jenis dan bentuk (kalau saya nggak ingat mau makan di Und Corner sebagai sarapan pagi, pasti saya kalap dech beli kue-kue basah ini seperti risoles, cucur, apem, bika, dsb). Kedua jenis komoditi ini mendominasi barang jualan di pasar ini. Dan satu hal yang pasti, tidak ada yang menjual keripik sama sekali. Salahkah informasi yang diberikan?
saya mencoba menyebrang ke sisi depan pasar. Ada sejumlah toko yang berjualan pula di sisi sebelah sini. Tapi, alih-alih keripik, mereka menjual cemilan ringan sampai makanan berat dan industri mikro rumahan seperti stempel atau tailor. Penasaran akhirnya membawa saya pada keadaan dimana saya harus bertanya pada salah seorang penjual apakah ada yang menjual keripik di dekat sini. Sayangnya, jawaban tidak keluar dari mulut pedagang tersebut. Tidak ada yang menjual keripik di dekat-dekat sini. Oh-oh…saya membuang-buang waktu.
Nah, waktu keluar dari Pasar Klojen, saya masih agak sedikit penasaran, masak iya nggak ada sama sekali yang menjual keripik di dekat sini. Maka saya menelusuri jalan agak ke dalam area pasar menuju kompleks yang lebih sepi. Kemudian, ada sesuatu di bagian ujung jalan tersebut yang menarik minat saya. Saya mendekati benda tersebut dan ternyata bangunan tersebut adalah sebuah sekolah berarsitektur tua. Kolese Santo Jusup terpampang dengan jelas di pucuk bangunan inti sekolah tersebut. Bangunan yang berisi anak-anak sekolah TK, SD, dan SMP tersebut hanya bisa saya lihat dari luar saja. Saya nggak segitu nekadnya coba-coba masuk karena para siswa sedang berdatangan dari luar menuju ke dalam sekolah. Para penjemput menunggu di luar batas wilayah pagar. Sementara itu, bagian atas pagar ditutupi oleh kawat duri. Tipikal sekolah Katolik yang ketat. Saya hanya berniat berfoto dengan latar sekolah tersebut yang mengesankan usia tua saja. Sambil berfoto-foto, saya juga menemukan bahwa ada sejumlah bangunan tua yang tampaknya seumuran dengan sekolah tersebut di kompleks tersebut. Ya sudah, nggak dapat keripik tapi kan dapat foto-foto bangunan bergaya kolonialisme. Ya toh?

0 komentar:

Post a Comment