Bandara Juanda Sidoarjo-Surabaya Gerbang di Timur

Nggak banyak yang bisa saya ceritakan tentang Bandara Juanda. Begitu mendarat di Juanda, saya tidak merasakan sesuatu yang spesial seperti halnya ketika saya mendarat di kota-kota lain di Indonesia. Bandaranya sendiri memang diklaim megah dan modern. Banyak yang bilang, Juanda bahkan lebih bagus daripada Soekarno-Hatta. Namun, deretan bentuk rumah-rumah Joglo yang sudah tersamar dengan bangunan modern tidak membuat saya tergugah atau ada perasaan spesial bahwa saya telah tiba di Surabaya. Dari waktu mendarat, pemandangan yang saya lihat memang hanya mampu membuat saya berkata dalam hati “Oh, ini Surabaya”. Tulisan “Bandara Juanda” yang harusnya ada di puncak gedung utama pun tidak tampak ada sama sekali di bandara ini. Dikaitkan dengan bentuk bandaranya yang cenderung modern daripada menampilkan corak khas Jawa Timur, saya semakin merasa biasa saja terhadap bandara ini.
Memang, dari segi ukuran, Bandara Juanda cukup lebar. Dari titik kedatangan penumpang, saya dan penumpang-penumpang lainnya dijemput dengan shuttle bus untuk mencapai terminal kedatangan penumpang. Jaraknya lumayan kalau misalnya anda nekad untuk berjalan kaki di sisi bandara. Yang jelas, kegiatan tersebut ditabukan oleh para petugas bandara. Anda mungkin akan kena sanksi kalau nekad melakukannya. So, saran saya, sabar sajalah, tunggu shuttle busnya datang.
Masuk terminal kedatangan, saya tetap merasa ‘tidak ada yang spesial’ karena memang bandara ini tidak seperti bandara lain di Indonesia. Pengalaman saya yang sudah-sudah, setiap bandara berusaha menampilkan ciri khas kedaerahannya dengan menampilkan nama bandara besar-besar. Sebenarnya, yang paling penting buat saya adalah tulisan “Selamat datang di Kalimantan Selatan” atau “Selamat datang di Sumatera Barat” atau “Selamat datang di bandara El Tari Kupang” dan seterusnya. Namun, saya tidak menjumpai satu tulisan pun yang bernada seperti itu di Juanda. Bukan saya kurang memperhatikan, tapi tulisan tersebut benar-benar saya cari dan saya tidak menemukannya sama sekali. Tidak jadi dech, berfoto dengan tulisan Juanda di bandara ini.
Bandaranya memang besar. Ruang kedatangannya sangat megah dan besar. Bahkan ada tangga yang menuju lantai atas yang saya tidak tahu dipergunakan untuk apa. Ban berjalan tempat bagasi berdatangan saja ada beberapa buah. Pilar-pilar besar di bagian atas berhiaskan ukir-ukiran entah mungkin khas Jawa Timur? Dengan warna dominasi kuning dan emas, hiasan tersebut memenuhi pilar bagian atas. Di plafon, terdapat sejumlah plafon berukir hias serupa dengan pilar yang kemudian digantungi ornamen berwarna kuning keemasan. Ornamen-ornamen tersebut rasanya pernah saya lihat di rumah gaya Keraton atau Joglo. Sudah. Selesai. Stand-stand yang biasanya kaya akan brosur ataupun promosi pariwisata pun tidak saya temukan sama sekali. Nihil. Tangan saya kosong, hampa saat keluar dari terminal kedatangan. Sayang sekali, kesempatan ini tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pemda Jawa Timur dan pemkot Surabaya dan Sidoarjo untuk mempromosikan wilayah mereka. Apakah anggapan orang datang ke Jawa Timur hanya untuk berbisnis masih berlaku? Kalau begitu sayang sekali, banyak wisatawan potensial tidak terjaring disini lantaran kurangnya akses informasi yang didapat begitu mendarat di bandara.
Keluar dari Bandara Juanda tidak terlalu sulit. Walaupun jaraknya cukup jauh dari pusat kota (sekitar 20 KM) namun bandara ini terhubung dengan berbagai macam moda angkutan walau yang paling bisa diandalkan adalah taksi. Untuk keluar dari bandara, saya menggunakan Bus Damri seharga Rp. 15.000 per orang (tiket bisa dibeli di depan terminal kedatangan) untuk mencapai terminal Bungurasih (Purabaya) dan pusat Kota Surabaya. Seperti umumnya bandara-bandara di Indonesia, calo mobil sewaan sudah siap memangsa anda begitu anda keluar dari bandara. Apabila anda sudah tahu yang harus dilakukan, cukup tolak mereka dengan tegas saja.
Terletak di Sidoarjo, perjalanan dari bandara ke Terminal Bungurasih yang berada di pinggiran Surabaya membutuhkan sedikit waktu. Setidaknya setengah jam dibutuhkan untuk mencapai terminal dari bandara. Tambahan setengah jam lagi untuk mencapai pusat kota. Ada kejadian agak nyentrik dan membuat urat saya sedikit tertarik saat naik Damri di Surabaya. Ada seorang mbak-mbak dengan tampang nyinyir meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya. Saat itu, Damri sudah penuh, maka saya malas berurusan dengan orang macam begitu dan meletakkan tas saya di depan dan duduk di pinggiran tiang rak tas. Sebelumnya, saya sudah sempat bertanya kepada si mbak tersebut, “Kosong mbak?” dengan senyum dan keramahan. Jawabannya datar dan bikin males, “ada orangnya” sambil menunjuk kursi kosong yang diisi tas tersebut. Ya sudah, saya juga gak masalah. Ke terminal bungurasih sich setengah jam juga cukup. Ga duduk juga gak masalah. Namun, ketika saya duduk di depan dan mulai pemeriksaan karcis, saya diminta oleh bapak kenek untuk duduk di tempat yang kosong. Dengan santai saya menjawab “sudah penuh pak, saya nggak papa koq disini”. Sang bapak kayaknya nggak puas dan menunjuk kursi di sebelah mbak tersebut, “tuh kosong, disana saja” katanya dengan ramah. Dengan santai saya menjawab “Kata si mbak, ada orangnya, Pak” balas saya dengan ramah tapi tidak melupakan intonasi tegas dalam suara saya. Bapak tersebut langsung menghampiri si mbak dan meminta mbak tersebut untuk memangku tas tangannya dan mempersilahkan saya duduk di tempat tersebut. Entah apa yang dikedumelkan mbak tersebut, namun tampaknya dia sangat tidak senang diperlakukan demikian. Saya akhirnya duduk di sebelah mbak tersebut dengan waspada. Kondisi saat itu adalah bus sudah berjalan, jadi, siapa yang sebenernya ditunggu oleh mbak tersebut? Mengerikan. Oh yah, akhirnya mbak tersebut turun untuk berganti bus sekitar setengah perjalanan sebelum mencapai Bungurasih. Saya sama sekali tidak melihat bahwa ada seseorang untuk duduk di tempat yang tadi dijaganya, Sekali lagi, mengerikan.

3 komentar:

  1. gw pernah hampir ketinggalan pesawat di juanda ini...gara2 keasikan jalan2 di Sby...hihi...btw foto pertama itu, kok dl gw gak liat yak..

    ReplyDelete
  2. hehehe....mana Bandaranya jauh banged y Nas...bisa2 sejam kali baru sampe dari pusat kota....
    foto pertama tuh di puncak plafon gt sih...unik yah? :D

    ReplyDelete
  3. This strategy is nothing new to most UGG Classic Tall workers or industrial hygienists. However, 1 component of protective equipment Classic Tall uggs is frequently overlooked. Industrial apparel complements all ugg 5815 kinds of protective equipment and is frequently the difference between an injury Classic Tall Boots and a near miss. Careful examination of the clothing that workers wear will reveal further opportunities to provide better protection and avoid accidents.The first guideline of efficient industrial apparel is fit. Industrial gear with moving components has the possible to snag loose apparel and pull a worker's arm or whole body into a machine.

    ReplyDelete