Kota Bukittinggi

Inilah kota resort, tempat peristirahatan yang sudah terkenal sejak masa kolonialisme Belanda di negeri ini. Kalau diumpamakan, kota ini bisa disejajarkan dengan Puncak-nya Jakarta, Brastagi-nya Medan, Ungaran-nya Semarang, Trawas-nya Surabaya atau Batu-nya Malang dan Malino-nya Makassar. Selalu ada kota resort yang sejuk yang menjadi favorit orang-orang untuk berwisata, sebagai tempat pelarian dari rutinitas dan kesibukan kota.
Dalam perjalanannya, kota ini adalah kota yang penuh dengan sejarah. Tercatat, tahun 1825, Belanda telah menjadikan kota ini sebagai tempat basis pertahanannya. Hal ini terbukti dengan adanya benteng Fort De Kock di wilayah ini. Kota Bukittinggi juga menjadi tempat asal dan kelahiran proklamator Indonesia, Bung Hatta. Dalam sejarah pula, Kota Bukittinggi pernah menjadi pusat pemerintahan Negara Indonesia. Mungkin sejenis Ibukota Negara pada jaman dahulu yach.
Kota Bukittinggi ini memang berhawa sejuk karena terletak di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut. Konon, pada jaman dahulu, ketika malam hari, penduduk sini nggak berani mandi dan ketika berbicara, hawa dingin keluar dari mulut. Dingin banget! Sayangnya, saya tidak merasakan hawa dingin yang sama ketika saya berkunjung ke kota ini. Entah sudah terlalu banyak orangnya atau sudah semakin penuhnya pemukiman disini. Kalau ditelaah, ya sebenarnya wajar-wajar saja mengingat Sumatera Barat adalah 5 besar daerah tujuan wisata di Indonesia. Hampir semua paket tur dan perjalanan yang ‘menjual’ Sumatera Barat akan menyertakan Bukittinggi dalam itinerary perjalanan. Sudah sangat terkenal banged yach kota ini?
Kota Bukittinggi seringkali juga dicirikan sebagai identitas Sumatera Barat secara keseluruhan, dan bahkan mencirikan kebudayaan Minang. Jam Gadang yang terletak persis di tengah-tengah jantung kota menjadi salah satu ikon kota dan sekaligus ikon Sumatera Barat. Kata orang, nggak afdol kalau ke Sumatera Barat tapi gak datang dan berfoto bersama jam besar ini. Bukittinggi juga surganya makanan asal tanah Sumatera Barat. Hampir mayoritas makanan asal Sumatera Barat yang terkenal dan mampu melanglang jauh hingga ke daerah lain, ternyata berasal dari sini. Sebut saja Nasi Kapau, Bubur Kampiun dan Teh Talua. Segudang makanan lain juga banyak di kota ini misalnya Lapek Bugih, Lamang Tapai dan Bika Simaryana. Jangan lupa Gulai Pakis dan lewatilah tempat orang berjualan Karipiak Sanjai sebagai oleh-oleh bahwa anda dari kota ini. Buat informasi saja, Nasi Kapau adalah nasi khas Bukittinggi yang berbeda dengan Nasi Padang. Perbedaannya terletak pada cita rasanya yang lebih kuat rasa bumbunya dibanding daerah pesisir. Bubur Kampiun adalah bubur dengan isi beragam bisa berupa kolak pisang, ketan hitam, kacang hijau, dan sumsum. Teh Talua adalah teh yang dicampur dengan telur dan dikocok tangan dengan kecepatan tinggi. Jadilah teh dengan warna mirip seperti kopi. Rasanya sich agak mirip dengan Cappucino kalau kata orang-orang. Namun, buat anda yang tidak suka yang agak amis, sebaiknya hindari minuman ini. Namun, buat anda yang eksperimental, wajib hukumnya untuk mencobai minuman satu ini. Nggak dua kali anda bisa datang jauh-jauh sampai ke Bukittinggi! Siapa tahu anda malah ketagihan. Lapek Bugih adalah makanan ringan sejenis Bugis, terbuat dari tepung beras ketan dan berisi gula merah atau gula pasir dan ditabur dengan parutan kelapa. Temannya, Lamang Tapai mungkin bisa diibaratkan sejenis Tape Uli. Lamang yang terbuat dari ketan dimakan bersama dengan Tapai yang kita kenal sebagai Uli hitam. Doyan Tape Uli donk? Kalau Bika Simaryana, mirip dengan Surabi Bandung. Bedanya, Bika ini hanya ada di Bukittinggi saja. Gulai Pakis mungkin bisa dicoba di saat makan siang. Gulai ini memanfaatkan pucuk-pucuk daun pakis yang masih muda. Empuk rasanya. Sekali lagi, hanya ada di Bukittinggi saja. Kalau penasaran yah silahkan dicoba. Untuk oleh-oleh, Kalau anda melewati jalan akses Bukittinggi arah Padang Panjang, tepatnya di Jalan Kapas Panji, berhentilah di salah satu deretan toko penjual Karipiak Sanjai (Sanjai artinya Singkong) dalam berbagai varian rasa dan bentuk. Disini, anda bebas memanjakan mata melihat berbagai bentuk macam keripik dan penganan kecil dari Bukittinggi dan daerah sekitarnya. Mau beli karipiak hingga gelamai, semua ada disini.Julukan Kota Wisata juga ternyata melekat kuat pada kota dengan kontur naik turun sepanjang wajah kota. Tercatat, ada beberapa objek wisata yang dapat dinikmati selama anda berada di dalam kota ini saja. Sebut saja, Jam Gadang, Benteng Fort De Kock, Kebun Binatang Kinantan, Ngarai Sianouk, Lubang Jepang dan Pasar Wisata. Jumlah hotel di tempat ini tidak terhitung lagi. Mulai dari hotel bintang berbintang, hingga hotel melati dan hotel tanpa status pun banyak sekali di kota ini. Pemandangan kota ini luar biasa indah, apalagi kalau anda menaiki Jembatan Limpapeh dan menikmati kota dari ketinggian. Ada 3 gunung yang langsung menyambut anda sebagai pemanis wujud kota ini, Gunung Singgalang, Gunung Marapi dan Gunung Sago dimana ketiganya pada umumnya selalu tertutup awan dan kabut pada puncaknya. Gunung yang memiliki ketinggian hampir 3000 meteran ini berwarna biru tua. Rancak Bana! Pemandangan gunung yang agak berbeda dari yang biasa kita lihat di Jawa.
Kalau memang ternyata memiliki waktu agak berlebih, boleh dech mencoba jalan-jalan hingga malam dan menginap di kota ini. Kehidupan malam di kota ini juga gak kalah menarik dibanding siangnya. Jam Gadang dan warna kota yang berkelap-kelip dengan cahaya lampu bisa jadi pengalaman unik kan?
Beberapa hotel yang mungkin bisa anda pertimbangkan kalau anda ternyata jadi menginap di Bukittinggi :
• Hotel Orchid, Jalan Teuku Umar 11. Tel (0752) 32634
o Rp. 100.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air dingin, sarapan pagi
o Rp. 150.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air panas, sarapan pagi, televisi
• Hotel Kartini, Jalan Teuku Umar 6. Tel (0752) 22885
o Rp. 150.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air panas, sarapan pagi, televisi
• Hotel Gallery, Jalan Agus Salim 25. Tel (0752) 23515
o Rp. 150.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air dingin, sarapan pagi, televisi
• Hotel Asia, Jalan Kesehatan 38. Tel (0752) 625277
o Rp. 100.000 (2 orang) kamar mandi luar, air panas, sarapan pagi, televisi
• Hotel Parai Bukittinggi, Jalan Raya Bukittinggi KM 7. Tel (0752) 628808 / 22444
o Rp. 314.600 (2 orang) standard bintang 3
• Villa 97, Jalan Batang Masang 97. Tel (0752) 22076
o Rp. 190.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air panas, sarapan pagi, televisi
• Hotel Singgalang, Jalan Achmad Yani 130. Tel (0752) 628709
o Rp. 120.000 (2 orang) kamar mandi dalam, air panas, sarapan pagi, televisi
o Rp. 150.000 (3 orang) kamar mandi dalam, air panas, sarapan pagi, televisi
o Amenities seperti handuk dan sabun tersedia
Mungkin anda bertanya-tanya, kenapa kebanyakan dari hotel ini menawarkan fasilitas air panas? Di pagi hari nanti, anda akan menyadarinya mengapa setiap hotel memasukkan fitur air panas ke dalam paket kamarnya. Kalau anda memang tidak butuh, yah, bagus sekali.
Selalu tanyakan fitur deposit di tempat ini. Berhubung mereka hotel wisata dan mindsetnya seperti itu, tak jarang mereka selalu mensyaratkan deposit kalau misalnya anda mau melakukan reservasi. Pada beberapa hotel, free-deposit diberlakukan untuk tamu yang tiba di hotel sebelum pukul 2 siang. Tentu, ini bentuk antisipasi dari mereka agar tidak mencadangkan kamar kosong yang tidak akan terjual. Mungkin mereka selalu ramai dan memiliki okupansi tinggi, berhubung Bukittinggi adalah daerah wisata. Tidak lucu kalau reservasi anda dibatalkan karena turis yang menginap sangat banyak di kota ini (terlebih pada akhir minggu). Bisa-bisa ngamuklah si Uda dan Uni kalau anda nekad membatalkan reservasi pada akhir minggu. Hehe...

3 komentar:

  1. Baru2 ini seorg sahara mengirimkan kripik sanjay pd saya,dan krn bentar Lagi lebaran...butuh stok Lagi,jd Kayaknya nunggu kiriman yg punya blog aja deh...Hehe... Ah,sumatra barat...kenangan masa kecil yg sdh terendap lumpur di bottom of my mind... :) dulu saya pernah ke bukit tinggi nih,waktu saya itsy bitsy winny,keciiil bgd,jd gak ingat apa2 Kecuali ingatnya ama mak adang, nenek dr pihak ibu saya :) (Henny)

    ReplyDelete
  2. ooooo....ternyata Mbak Hen ada darah Minang jugo? Mak Adangnyo masih ado disano? biasanya yang namanya Mak itu, usaha sate loh disana dan laku keras, sebut aja nich : Mak Syukur dari Padang Pandjang...wuih...terkenal banged satenya...:D

    anyway, karipiak sanjainya sudah menguap di perut saya...:P kan perginya udah berbulan yang lalu...hihihi...kalau gt, saya nunggu opor dan ketupat yg lagi lebaran aja dech :D

    ReplyDelete
  3. Ulasan yang sangat menarik...salut! Boleh gabung ngetrip?

    ReplyDelete