Yang Tidak Menyenangkan Selama Perjalanan

Selama berpetualang, saya tidak selalu mendapatkan hal-hal yang indah dan menakjubkan untuk diceritakan saja. Ada beberapa hal yang kurang baik juga, mengesalkan, menjengkelkan, hingga yah...menakutkan. Untuk yang terakhir ini, saya baru mengalaminya baru-baru ini. Kisahnya sendiri terjadi di perbatasan Magelang-Purworejo-Wonosobo, Jawa Tengah. Saya berharap, kisah ini bisa menjadi ‘rem’ bagi siapapun yang gemar melakukan petualangan. Menjadi seorang petualang itu bukan berarti harus berani dalam menghadapi setiap tantangan, namun harus pintar menjaga diri dan menjauhi hal-hal yang berbahaya. Tidak ada gunanya sama sekali menantang bahaya.
Saat itu waktu sudah sore hari saat saya baru saja keluar dari candi Borobudur. Niat saya sejak awal, saya akan bermalam di Wonosobo agar esok paginya bisa berkunjung ke Dieng. Salahnya saya, waktu pada sore itu sudah menunjukkan pukul 5 saat saya sudah mencapai terminal Borobudur. Saya tahu, saya harus kembali ke Magelang untuk mencapai Wonosobo. Maklum, pikiran yang selalu saya tanamkan dalam diri saya adalah hanya ibukota kabupaten yang memiliki terminal cukup bagus dan memiliki jaringan transportasi yang variatif (dalam arti, banyak pilihan transport). Menjelang keluar dari candi, iseng-iseng saya bertanya kepada salah seorang bapak penjaga kantor penitipan barang. Beliau menyarankan agar saya tidak kembali ke Magelang karena artinya saya harus memutar. Memang, di peta terlihat Magelang justru menjauhi Wonosobo dari arah Borobudur, tempat saya berdiri. Beliau menyarankan agar saya naik angkot satu kali menuju Salaman. Dari Salaman, saya bisa naik angkot menuju Wonosobo. Sayangnya, bapak tersebut tidak bisa memastikan apakah angkot masih ada pada waktu sesore itu. Sudah cukup kita ketahui bersama, angkot di daerah umumnya akan menurun frekuensinya menjelang sore dan hilang begitu malam menjelang. Pilihan lebih aman memang jatuh kepada Magelang dengan asumsi kota besar yang memiliki banyak pilihan bus umum. Namun, menuju Magelang pun butuh usaha tersendiri. Bisa-bisa, saya sampai di Magelang pada saat malam hari. Singkat kata, saya memilih bus menuju Salaman.
Dalam perjalanan menuju Salaman, saya bertanya kepada supir dan kondektur tentang bus menuju Wonosobo. Pertama, mereka merasa aneh karena saya akan berangkat ke Wonosobo sesore itu. Mereka tidak yakin masih ada angkot lagi pada waktu sesore itu yang akan membawa saya ke Wonosobo. Duh, saya sudah mulai jiper sebenarnya. Mereka menyarankan agar saya ke Maron, terminal di perbatasan Purworejo-Wonosobo. Kata mereka, masih ada bus yang akan membawa saya dari Maron menuju Wonosobo. Paling malam, bus akan berangkat pukul 7 malam. Ya sudah, saya percaya saja dan mau mengikuti saran mereka. Kemudian, sang supir berkata lagi, saya sebaiknya hati-hati dalam perjalanan dari Maron ke Wonosobo. Hati-hati dengan barang berharga, kalau perlu diumpetin sekalian. Dalam perjalanan, kata sang supir, saya akan melewati dua wilayah kecamatan S****** dan K*****. Saya sangat diminta untuk berhati-hati melewati dua wilayah tersebut. Ia hanya menyebutkan tentang hal-hal kurang baik namun tidak merinci lebih detail tentang apa yang dimaksud. Beliau kembali bertanya, “mengapa saya baru berjalan sesore itu?”. Ia akhirnya mengatakan bahwa, di wilayah perbatasan ini, dua wilayah tersebut sudah terkenal akan orang-orangnya yang ‘kurang baik’. Ia bahkan menyebut istilah p******* untuk orang-orang di wilayah tersebut. Ia hanya takut saya akan ‘dikerjai’ kalau melewati tempat tersebut selepas gelap.
Kenek bus tersebut juga mengatakan hal serupa tentang kedua wilayah tersebut. Bahkan, beberapa ibu-ibu mulai memberikan pendapatnya mereka masing-masing akan akses jalan menuju Wonosobo dan kondisi dua tempat yang disebut tadi. Saran amannya memang sebaiknya saya mencarter mobil. Namun ini bukan solusi karena harga sewanya tentu mahal. Pertimbangan lain adalah ojek namun tetap tidak disarankan karena waktu tempuh dengan ojek akan mengakibatkan saya terjebak malam di tengah jalan. Bukan hal yang baik juga. Pak supir tersebut mengatakan agar saya tidak percaya orang sama sekali ketika sampai di tempat tersebut, nah loh! Beliau juga mengatakan kalau sampai saya diturunkan di tengah jalan dengan alasan bus tidak sampai Wonosobo, mintalah agar saya ikut terus sampai ujung dimana bus tersebut akan berhenti, jangan mau diturunkan di tengah jalan. Kalau misalnya bus tersebut hanya sampai S******, ikutlah terus sampai kesana. Jangan mau diturunkan di tengah jalan! Sampai ada seorang bapak-bapak yang katanya mengaku asli Purworejo dan berniat membantu saya mencarikan angkutan. Saya akhirnya, atas saran dari pak supir, turun bersama dengan bapak tersebut di pertigaan Salaman untuk menunggu bus arah Maron. Ia tidak menyarankan saya menaiki bus 3/4 karena dapat dipastikan saya akan diturunkan di tengah jalan dan tidak akan mencapai terminal. Ia mengatakan bahwa ia seorang petualang juga dan tidak berniat pulang ke rumah karena ada masalah di rumahnya. Dari penampilannya, ia hanya mengenakan kaus biasa, celana pendek dan satu buah kantong plastik besar yang katanya adalah perlengkapan petualangannya dia. Saya masih tidak berpikiran yang tidak-tidak sampai kemudian ia bertanya-tanya detail tentang rencana perjalanan saya, titik terakhir saya menginap, rute yang saya lalui, teman yang mengetahui keberadaan saya, hingga apakah saya bisa berolahraga beladiri atau tidak. Waduh, pertanyaan terakhir itu sudah merupakan tanda ketidak beresan tampaknya. Untuk apa ia bertanya hal-hal semacam itu? Terpaksalah saya mengarang-ngarang cerita bahwa saya memiliki saudara di beberapa tempat di wilayah tersebut yang baru saja saya kunjungi. Oh ya, saya juga berbohong bahwa saya bisa melakukan beladiri. Tahu nggak, pikiran saya langsung tertuju ke Human Trafficking. Bisa jadi, ia ingin agar tidak ada yang mengetahui jejak terakhir lokasi saya karena ia memang berniat jelek. Cukup lama saya menunggu bus bersama dia dan tidak menemukan alasan untuk berpaling darinya. Ia bahkan mengatakan bahwa tukang ojek, yang menghampiri saya untuk menawarkan ojek, masuk dalam kategori berbahaya. Pertama, memang ia bertanya, apakah saya terburu-buru atau tidak. Saya jawab tidak karena saya memang santai saja. Namun, kelamaan menunggu bersama dengan bapak ini membuat saya jadi takut sendiri dan pikiran-pikiran aneh berkecamuk. Akhirnya, sekitar pukul setengah enam sore (daritadi, memang jarang sekali bus besar yang melewati tempat ini, hanya bus kecil 3/4 non AC arah Purworejo yang sedari tadi melintas, itu pun agak jarang) saya memutuskan untuk kembali ke Magelang saja. Daripada terjebak bersama dengan orang yang tidak jelas di tempat yang tidak jelas pula, lebih baik kemalaman di kota besar, begitu pikir saya. Setidaknya saya harus melakukan aksi dan tidak menunggu sampai malam di tempat ini. Ternyata, maksud bapak itu cukup jelas. Ia meminta uang yang konon katanya untuk membantu ia melanjutkan aksi pengembaraannya. Ia meminta dengan baik-baik dan apabila saya tidak keberatan. Memang, akhirnya saya memberikan uang sebesar Rp. 20.000 kepadanya dengan dasar asumsi bahwa ia tidak meminta yang jauh lebih buruk daripada itu. Ya sudah, mungkin uang sebesar itu bisa berguna baik di bapak tersebut. Seandainya ia memang berniat buruk, saya hanya akan menganggap bahwa uang itu sebagai hal untuk membuang sial saja. Tak lama, bus besar jurusan Semarang-Purwokerto via Magelang melewati pertigaan tersebut. Kata sang kenek, bus ini melewati Purworejo. Saya segera naik dan merasa aneh karena bapak tersebut tidak ikut naik bersama dengan saya. Padahal, katanya ia mau pulang ke Purworejo kan? Ia malah mengatakan bahwa ia akan naik bus yang lain saja. Dasar aneh. Ya sudah, saya tidak mau ambil pusing dan tidak mau mengambil resiko juga. Sebaiknya saya melakukan semuanya sendiri daripada percaya dengan orang yang tidak jelas seperti itu.
Di bus besar tersebut, saya bertanya kepada sang kenek, tentang tujuan Wonosobo. Jawaban serupa saya dapatkan, ia menyarankan saya agar saya turun di Maron dengan asumsi masih ada bus terakhir yang akan membawa saya ke Wonosobo. Namun kemudian, ia pun bertanya hal yang semakin membuat saya jiper, “Ngapain kamu malam-malam begini ke Wonosobo?”
Jalanan yang saya lalui naik turun berkelok-kelok melewati desa dan pegunungan. Di luar sana, matahari sudah terbenam namun langit masih menampakkan sedikit cahaya. Saya benar-benar melihat desa-desa yang terletak diantara pegunungan. Sangat desa. Tak lama, setengah jam kemudian sekitar pukul enam sore kurang, di saat langit sudah berwarna lembayung. Sang kenek mengatakan “Maron” yang artinya saya harus turun. Saya melihat terminalnya, Terminal Maron ada di sebelah kanan jalan. Saya kembali bertanya lagi agar saya tidak salah langkah. Saya ingin memastikan bahwa bus Wonosobo masih ada dan saya tidak ditinggal sendiri di tengah-tengah gunung seperti ini. Sang supir memeriksa lewat kaca dan mengatakan, terminal sudah kosong. Duh...semakin lemas rasanya dengkul ini. Sang kenek kembali bertanya , “ngapain kamu ke Wonosobo malam-malam begini? Sudah lah, lebih baik kamu ke Purwokerto saja”. Saya nggak berpikir lama, langsung saya mengiyakan pertanyaan tersebut. Purwokerto harusnya merupakan kota besar dengan akses jaringan transportasi yang sangat baik donk? Lebih baik saya kemalaman di Purwokerto daripada menunggu bus tidak jelas di Terminal Maron. Menunggu yang belum tentu ada. Selepas saya mengiyakan pertanyaan sang kenek, bus pun melaju lagi dan dia langsung memberi saran bahwa tidak baik kalau mau ke Wonosobo malam-malam begini. Ia pun menyebutkan dua nama tempat yang serupa dengan yang disebut tadi. Ia berkata, apapun bisa terjadi di tengah-tengah jalanan saat malam-malam begini. Lebih baik saya mencari aman saja. Yah, saya akhirnya kembali ke tempat duduk saya dan sedikit banyak merasa lega walaupun masih merasa semua kejadian ini penuh dengan misteri.
Ternyata, di depan saya, ada seorang ibu yang daritadi mengetahui kejadian yang saya alami. Ia sudah berada di bus yang membawa kami semua dari Borobudur ke Salaman. Tadi ia ingin memberikan saran namun berhubung sudah banyak yang memberikan saran, ia urung memberikan sarannya. Ia bahkan bertanya-tanya tentang bapak-bapak tadi yang katanya, sangat dicurigai olehnya. Ia bahkan sudah mengendus ketidak beresan dengan bapak tersebut dan meminta saya bercerita detail untuk menguatkan pendapatnya tersebut. Di ujung cerita saya, ia akhirnya mengatakan bahwa orang seperti bapak tersebut yang perlu saya waspadai. Karena saya kebingungan arah, makanya saya jadi sasaran empuk bapak tersebut. Kemudian, ia bercerita tentang jalanan super berkelok yang akan saya tempuh kalau saya nekad menuju Wonosobo. Jalanan yang akan saya lalui bertepi jurang di kanan dan kiri jalan. “Apapun bisa terjadi di tengah jalan”, begitu katanya. Ia pun bercerita tentang sejumlah kasus kriminal yang terjadi di tempat itu. Ia mengatakan bahwa saya bijaksana tidak melanjutkan perjalanan kesana pada malam seperti ini. Ibu itu akhirnya bercerita bahwa dia orang Kebumen dan setiap hari dia bolak-balik Borobudur-Kebumen untuk berdagang. Sehingga, sedikit banyak ia cukup tahu berita-berita, info apapun di tempat itu, termasuk salah satunya dua tempat yang berbahaya tersebut. Ia bahkan bercerita tentang perampokan ganas yang pernah terjadi di tempat tersebut. Sang korban digorok lehernya hingga nyaris putus. Gimana saya nggak mau jiper dengan semua berita ini?
Yang jelas, peristiwa ini sedikit banyak memberi pelajaran bagi saya :
1. Selalu rencanakan perjalanan dengan matang dan disiplin waktu. Saya tidak memiliki informasi apapun tentang Magelang karena tidak berpikir akan terjebak malam di sana. Kenyataannya, saya sangat dekat akan hal tersebut!
2. Jangan mudah percaya orang lain. Sang ibu malah menyarankan, kalau bingung, tanya polisi, jangan tanya sembarang orang. Percayalah dengan orang yang layak dipercayai.
3. Jangan pernah terjebak malam di wilayah non-kota, kecuali memang tempat tersebut adalah lokasi wisata.
4. Buku-buku wisata sama sekali tidak memberikan informasi mengenai hal ini. Berita seperti ini justru banyak didapat dari warga lokal.
5. Jauhi bahaya. Menjadi petualang bukan soal berani menantang maut dan kuat namun lebih kepada cerdas dalam memecahkan masalah dan menjauhi marabahaya.
Tidak terbayang sama sekali apabila saya nekad berkunjung ke Wonosobo pada malam-malam seperti itu...hiii....
Mohon maaf sebesar-besarnya apabila ada pihak yang tersinggung akan tulisan ini. Saya juga tidak bermaksud memberikan stigma buruk kepada Maron, Purworejo, Borobudur, maupun Wonosobo dan Magelang. Kejahatan bisa terjadi dimana saja dan kebetulan, saya mengalaminya di tempat ini lantaran saya tidak berhati-hati. Tempat tersebut harusnya cukup aman pada saat siang hari. Tulisan ini hanya bermaksud untuk memberikan gambaran akan wilayah tersebut dan membantu para petualang lainnya guna menghindari bahaya yang mungkin akan terjadi.

18 komentar:

  1. fiuh, menegangkan sekali ceritanya. untung kamu gapapa. thanks buat tipsnya. duly noted

    ReplyDelete
  2. nama tempatnya yang disensor itu apa sih? jadi penasirun saya.. itu jalur yang dari borobudur ke arah purworejo ya? bukannya itu jalanannya sepi, kanan kiri cuma hutan, jalan berkelok-kelok? dulu pernah beberapa kali soalnya lewat sana dan nggak tau kalo ada beginian..

    ReplyDelete
  3. @Brad : hahaha...saya sempat kepikiran akan berakhir seperti film Taken, ended somewhere in Slovakia or Albania, being male hustler, drug addict, can't remember any, or way home T_T. seram.

    @Tri : Yup, anda benar. Jalur tersebut benar-benar sepi. jarang banged ada kendaraan lewat tempat ini. rumah aja jarang di tengah-tengah gunung seperti itu. Beberapa tempat seperti Maron sich sudah ada kehidupan dan terminal (tapi sepiiii banget). nggak banged dech lewat tempat ini malam-malam lagi. Tempat yang disensor itu...hmm...saya nggak enak nyebutnya, takut ada orang tersungging. hahaha. coba aja cek di peta, ada nggak tempat yang ciri-cirinya seperti saya sebutkan itu. Kalau nyerah, PM saya saja, ntar tak kasih tahu...hehehe

    anyway, kayaknya sih saya salah jalan. Kalau mau ke Wonosobo, baiknya lewat Purbalingga atau Kledung Pass di Temanggung. Nah, ini saya nyari gampangnya aja, lewat selatan Purworejo, jalan yang nggak populer dilewati orang. Jadinya begini dech ceritanya. :(

    ReplyDelete
  4. ya itu makanya saya juga heran, kenapa mau ke wonosobo lewatnya ke arah purworejo.. soalnya dulu saya juga pernah ke wonosobo sekitar tahun 2006 kalo nggak salah dan lewatnya itu magelang, lalu belok kiri ke arah temanggung.

    tebak-tebak berhadiah deh, nama tempatnya kemiri dan sapuran.. :D

    ReplyDelete
  5. Yup...itu rute utama ke Wonosobo, via Kledung Pass. kalau lewat rute itu, nggak nyampe Magelang dech, soalnya dari Pringsurat, langsung masuk ke Temanggung.
    Saya kan dari Borobudur. Berhubung saya lagi males dan udah kemalaman, jadinya nekad nyari jalan pintas. ujung2nya malah begini ceritanya....hahahhaa *kemalasan berbuah petaka* wekekekek

    untuk tebakannya, nilainya 50 dari 100. Salah satu...hehehe

    ReplyDelete
  6. serem banget cerita lo bro....
    gw sepertinya dulu pernah lewat situ dach malam2..jaman gw dulu gawe disekitaran jateng..thn 2005an

    ReplyDelete
  7. entah yah, apa gue lagi sial atau gmn. tapi ada sejumlah orang yang bercerita akan hal yg sama tentang perbatasan tersebut. koq kalau jamak gini, mau gak mau kita jadi percaya yach....

    wilayahnya ini hutan dan tebing di kanan kiri, Nno...kalau malam gelap banged >.<

    ReplyDelete
  8. lumayan serem ceritanya....salam kenal mas lomar

    ReplyDelete
  9. Salam kenal untuk Mas Laros :)
    tetap hati-hati sepanjang perjalanan wisata sekalipun yach :)

    ReplyDelete
  10. owhh jadi kertek ya? saya baru inget tentang postingan ini.. haha.. menurut teman saya yang orang wonosobo memang ada jalur dari borobudur ke wonosobo tapi dia tidak menyebutkan adanya sapuran disana. rutenya salaman-kajoran-kalikajar-kertek-wonosobo.. bedanya dengan lewat secang, kalo lewat secang kita berada di utara gunung sumbing sedangkan kalo rute itu kita di selatan gunung sumbing..

    mas saya nggak tau maron itu letaknya dimana, apa sudah dekat dengan purworejo? kalo iya, ya memang sudah seharusnya dari maron lewat sapuran dan nanti tembus kertek. semua rute ke wonosobo baik lewat secang, maupun rute yang saya sebutkan diatas bakal tembus di kertek..

    kalo membayangkan tempat gelap, hutan, perbukitan, dan sepi saya jadi teringat perjalanan saya dari trenggalek ke pacitan kemaren. bedanya jalan yang saya lewati itu benar-benar hancur dan saya tidak tau apa2 tentang tempat yang saya lewati jadi ya nggak berpikir aneh2..

    ReplyDelete
  11. hihihi....iyah Mas...anda benar dua! nilainya seratus setelah hampir setahun menebak. lol. hahaha

    yah, sejujurnya, kalau warga setempat nggak bilang apa-apa ke saya, saya mungkin juga ga akan berpikiran aneh aneh sich. hahahaha.... sayangnya, saya mendengar semua itu, dan bersyukurnya, saya mendengar semua itu sehingga saya masih disini dan masih bisa ngepost tentang Indahnya Indonesia...hihihi

    ReplyDelete
  12. kesimpulan: lebih aman nanya ke ibu2 loh

    ReplyDelete
  13. hihihihi..

    ga jaminan juga Cie. intinya, baik boleh, ramah oke. tapi jangan terlalu percaya sama orang kali yach :D

    ReplyDelete
  14. Kebetulan kemarin pagi saya bersama rombongan melewati jalan dari Maron hingga Sapuran dan Kertek. Tujuannya sih mau ke Banjarnegara tapi males lewat Secang dan Purwokerto (menghindari kepadatan lalu lintas). Dan tadinya sih rencananya mau cari jalan dari arah Krasak sampai Kertek saja, tapi ternyata keblasuk sampai Maron. Kira-kira perjalannya seperti ini: http://g.co/maps/8egw

    Anyway, dari pengamatan di pagi hari, memang jalannya menanjak naik dan berkelok-kelok layaknya jalan menaiki bukit (ala jalan Nagrek, atau jalan antara Jogja - Wonosari, atau jalan menuju Kopeng, etc), sebelah timur jalan rata-rata jurang sementara barat jalan rata-rata dinding tebing. Tempatnya juga sepi, tapi karena pagi hari jadinya cukup menyenangkan. Kondisi jalan cukup baik, jarang berlubang karena mungkin jarang dilewati kendaraan berat seperti truk. Soal kondisi penduduk, kurang bisa kasih gambaran karena kami menggunakan kendaraan pribadi. Tapi soal Kertek, kami beberapa kali melewati Kertek melalui Temanggung di malam hari dan baik-baik saja (tidak ada yang aneh2).

    Saya cukup penasaran dengan jalur Salaman - Kertek sehingga ingin mencoba saran mas Tri Setyo dari Krasak sampai Kalikajar, tapi dari saran Google Maps, kok sepertinya cukup mendaki ya karena mendekati kaki gunung di daerah Rimpak (http://g.co/maps/z2jn). Apa benar melewati jalur itu? Bisa jadi google map gak bener kasih arah jalannya :).

    Jalur satu lagi yang ingin dicoba adalah dari Krasak - Ketosari - Sapuran - Kertek (http://g.co/maps/jbyz).. ini jalan sisi timur dari jalan Maron - Sapuran :). Kalo ada pengalaman melewati salah satu atau kedua jalur tersebut, minta infonya mas :)

    thanks

    ReplyDelete
  15. woww...makasih ya Mas untuk saran dan informasinya. Ya, saya sih tertarik untuk melewati jalur ini, tapi mungkin siang hari kali yach? hehehe. buat saya, info lokal itu paling akurat, apalagi kalau sudah lebih dari 2-3 orang mengatakan hal yang sama. Kalau siang hari dan beramai-ramai, mungkin jalur tsb adalah jalur yang menyenangkan :D

    ReplyDelete
  16. baru sempet buka blog nya lolz..

    -Marvel-

    ReplyDelete
  17. hahaha...
    6. informasikan posisi ke kerabat dekat (gps mode on)
    7. modus operandi di ubah siang hari
    8. belajar bela diri (yang kbanyakan pake tangan)
    9. berdoa (PENTING SKALI, cuma sering lupa hehehehe)
    10. "kejahatan tidak hanya terjadi karena ada kesempatan, tapi juga karena ada niat pelakunya... was was lah was was lahhh"

    ReplyDelete
  18. Mantap sharingnya bro. Tapi itu dua kota apa sih namanya? Perlu diinfo biar kepalanya sadar dan melakukan perubahan shg tempat itu jadi lebih rame turis, kan sangat menguntungkan lokal. Jangan sampai malah cuma preman nya yang untung.

    ReplyDelete