Pagoda Avalokitesvara dan Vihara Buddhagaya di Watu Gong, Ungaran

Salah satu objek wisata yang terkenal dan wajib kunjung di Semarang adalah Pagoda Avalokitesvara. Pagoda ini terletak di wilayah Watu Gong, Jalan Perintis Kemerdekaan, wilayah Ungaran. Pagoda ini menyatu dengan kompleks Vihara Buddhagaya. Bangunan pagoda ini menjadi unik adanya lantaran tidak semua vihara di Indonesia memilikinya. Tercatat, hanya sejumlah vihara di Indonesia yang memiliki bangunan pagoda (Kediri, Palembang, Singkawang, dll). Salah satu yang cukup terkenal ya di Semarang ini. Kota Semarang di Jawa Tengah memang cukup terkenal karena kebudayaan China peranakan yang menempel erat pada kota ini. Objek-objek seperti Pagoda Avalokitesvara atau Gedung Batu (Kuil Sam Poo Kong) menjadi objek wisata yang cukup mengharumkan nama Semarang. Wajar banget donk, kalau pagoda ini harus dan wajib kunjung buat anda yang bermain-main ke Semarang.
Vihara Buddhagaya dan Pagoda Avalokitesvara ini berada di bawah binaan Sangha Theravada Indonesia. Jadi, vihara ini beraliran Buddha Theravada, aliran Agama Buddha yang banyak mendominasi India, Sri Lanka, Myanmar, Thailand, Laos, dan Kamboja. Nggak heran, bentuk bangunan viharanya menyerupai vihara-vihara di daerah sana, dengan kubahnya yang bulat dan ujung atap yang agak melengkung. Namun demikian, saya agak heran juga. Bangunan pagoda kan bukan endemik wilayah Asia Tenggara atau Asia Selatan? Apakah ini akulturasi kebudayaan yang berjalan dengan harmonis? Hehehe... Sebagai informasi, aliran agama Buddha yang cukup besar ada 3 : Theravada, Tantrayana, dan Mahayana. Theravada adalah aliran agama Buddha yang banyak ditemukan di Asia Selatan dan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Aliran ini dikenal dengan nama Hinayana. Tantrayana adalah aliran agama Buddha yang mendominasi wilayah Tibet. Aliran ini bercampur dengan agama Hindu Tantra dan kepercayaan magis lokal berupa mantra-mantra. Sedangkan Mahayana adalah Agama Buddha yang mendominasi wilayah Asia Timur, terutama Republik Rakyat China, Jepang, Mongolia dan Korea. Yak, cukup tentang pelajaran singkat Agama Buddha-nya. Maaf, saya bukan pakar Agama Buddha. Pertanyaan lain tentang Agama Buddha bisa ditanyakan ke ahli-ahlinya, atau kalau perlu, datang donk ke Vihara Buddhagaya! Hehehe.
Perjalanan dari Ambarawa ke Vihara Buddhagaya ditempuh dalam waktu sekitar 50 menit. Saya menaiki bus jurusan Semarang (Terboyo) dan mengatakan pada kenek untuk berhenti di Watu Gong. Saya membayar Rp. 5.000. Di wilayah Bawen, saya sempat tertidur sejenak dan terbangun ketika sudah memasuki Kota Semarang. Bus sudah sangat penuh dan padat, dipenuhi oleh karyawan, karyawati dan buruh pabrik yang pulang kerja. Waduh, bagaimana saya turun yach nantinya? Saya terjepit diantara puluhan orang di tengah-tengah bus (padahal, bus ini tadinya cukup kosong loh ketika masih di Ambarawa). Di tengah-tengah kebingungan tersebut, tiba-tiba saya melihat Pagoda Avalokitesvara mencuat tinggi di sebelah kanan jalan. Saya panik. Tidak ada tanda-tanda bus akan berhenti sama sekali. Bus justru semakin mempercepat laju kendaraannya di Jalan Perintis kemerdekaan yang ramai lancar dan lebar ini. Saya Panik. Saya semakin panik. Tanpa berpinggir panjang, saya menggedor-gedorkan koin ke jendela terdekat sambil berteriak “Kiri Pakkkkkkkkk”. Puluhan pasang mata memandang saya dengan aneh. Supir dan kenek tampak heran namun tidak ada tanda-tanda dari mereka untuk memberhentikan bus tersebut. Saya semakin kalap. Semakin kencang pula saya menggedor-gedorkan telapak tangan ke jendela dan berteriak minta turun. Hahahaha. Akhirnya, roda bus pun berdecit dan bus segera menepi ke kiri jalan. Kenek dan supir tampak marah dan saya ditatap aneh oleh sekian pasang mata. Entah yach, dari apa yang mereka gumamkan, kayaknya saya salah kalau berhenti di jalan ini. Salahnya dimana donk? Tadi kan waktu naik saya bilang “Watu Gong”. Harusnya si kenek kasih tahu donk kalau saya harus turun di tempat ini? Jadi siapa yang salah? *nggak mau kalah MODE : ON*
Begitu saya diturunkan dari bus dengan terburu-buru, bus pun segera ngacir. Saya semakin yakin, kayaknya nggak ada kendaraan normal yang mau menurunkan penumpang di tempat ini. Jalan Perintis Kemerdekaan ini sangat besar dan lebar, tempatnya kendaraan-kendaraan berlalu lalang dangan ramai lancar. Kendaraan yang melalui tempat ini menderu dengan kencang, nggak berhenti-berhenti. Di setiap arah manapun saya melihat, saya nggak menemukan adanya bus atau kendaraan apapun berhenti untuk menurunkan/menaikkan penumpang. Apa karena nggak ada pemukiman di dekat sini atau karena ini kompleks militer yach? Yach, sambil tidak terlalu memikirkan pertanyaan tersebut, saya menyebrang dengan susah payah. Kendaraan yang melintas sukar sekali diberhentikan. Jembatan penyebrangan pun letaknya cukup jauh. Hihihi...Maaf yach Pak Polisi, saya maunya yang instan dulu dech kali ini. Hihihi.
Saya disambut oleh Vihara Buddhagaya ini di keremangan senja. Ya, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Saya melewati pos satpam yang tidak dijaga (harusnya masuk vihara nggak butuh registrasi atau apapun kan?). Dan langsung menuju ke Pagoda Avalokitesvara yang ada di puncak bukit kecil. Jalan masuknya lumayan nyaman karena sudah terkonblok dan dinaungi oleh pepohonan rindang. Pagoda ini terdiri atas 7 lantai, dimana lantai dasar merupakan lantai utama tempat altar berada. Pada lantai-lantai di atasnya, arca Sang Buddha Gautama menghiasi setiap jendela pagoda. Sayang, pada saat kunjungan tampaknya sedang ada persiapan untuk acara tertentu sehingga saya nggak nekad untuk masuk karena takut mengganggu persiapan jelang acara tersebut. Pagoda ini seperti sama seperti yang saya bayangkan. Pagoda ini unik, meriah, cantik, dan fotogenik. Rerimbunan pepohonan di depan pagoda membuat tampilannya fotogenik.
Tidak jauh dari pagoda, di sebelah kirinya terdapat bangunan Vihara Buddhagaya yang bergaya Asia Tenggara (tapi atapnya menggunakan genteng dan ada kecenderungan mengadopsi bentuk Joglo). Dengan didominasi warna merah tua dan gelap, vihara ini tampak tidak semeriah pagoda yang sedang berhias. Vihara ini malah sepi dan tidak ada aktifitas apapun di dalamnya. Menjelang malam tiba, hampir tidak ada pencahayaan khusus yang didedikasikan untuk vihara maupun pagoda ini. Apabila kita melihat pagoda ini dari jalan raya (vihara tidak terlihat dari jalan raya karena agak dalam letaknya) pada saat malam hari, mungkin kita tidak akan menyadari keberadaannya lantaran gelap. Pagoda tersebut tidak berhiaskan lampu yang bisa membuat orang menyadari keberadaannya. Sayang sekali.

8 komentar:

  1. wahh, pagodanya bagus. jadi pengen ke sana. thanks for sharing ya :)

    ReplyDelete
  2. perasaan dulu kalo ke semarang sering lewat pagoda ini tapi nggak ada kepikiran buat mampir.. nyesel setalah baca postingan ini apalagi sekarang udah nggak pernah ke semarang lagi :D

    ReplyDelete
  3. @Brad : Hohoho...terima kasih telah mampir :D. Pagodanya bagus, gampang diakses pula. Tapi kalau boleh saran, Pagoda yang lebih tinggi lagi ada di Palembang, Pulo Kemaro :D

    @Tri : Semarang kan deket atuh...tinggal naik kereta apa aja juga ada. Atau naik motor seru juga tuh ke Semarang. Hehehe.

    eh, ada updatean dari Mas Bambang, temanku, blogger MP yang berdomisili di Semarang. Kata beliau, Pagoda ini masuk dalam wilayah Banyumanik, Kota Semarang, bukan Ungaran, Kabupaten Semarang seperti yang saya tuliskan. Dengan demikian kesalahan telah diperbaiki yach. :D

    ReplyDelete
  4. Wah bagus dan keren. Saya juga pernah kesana. Sayang nggak boleh foto foto sampai dalam ya .. :D

    ReplyDelete
  5. hehehee....iyah, saya kebetulan nggak menyempatkan diri untuk masuk ke dalam juga :D

    ReplyDelete
  6. gw orang semarang juga belum pernah ke pagoda itu :))
    tapi ceritanya bikin ngakak deh

    keep writing :bravo:

    ReplyDelete
  7. Sekarang ada lampunya kok, saya aja taunya pas perjalanan malam ke Yogya, eh tapi bertepatan pas imlek, apa event khusus aja ya *loh*
    salam kenal mas ^^

    ReplyDelete
  8. @Wara : hihihihi....makasih udah mampir :p itu jalur kayaknya di markas besar tentara atau apa gt deh, sejenis jalan tol juga. rasanya sih jarang ada yg berhenti begitu saja. mungkin saya salahnya disitu kali yah

    @Fiction : wah, belum tau tuh kalau itu. mungkin skrg ada fasilitas tambahan dalam rangka Imlek kali yah? Makasih infonya yach ^^

    ReplyDelete