Tedong-Tedong Sariayo Yang Berusia Ratusan Tahun

Ya, kembali saya melalui rute yang membuat alas duduk saya menjadi mati rasa. Tapi entah kenapa, selalu, perjalanan pulang terasa lebih singkat dibanding perjalanan pergi. Mungkin karena kita sudah bisa memprediksi waktu tempuh dan jarak sehingga perjalanan terasa lebih singkat kali yach? Beda dengan saat kedatangan ketika saya nggak bisa memprediksi jarak tempuh dan dimana persisnya lokasi desa ini berada. Pada saat pulang, saya sudah bisa memprediksi kurang lebihnya jarak perjalanan saya. Ya, saya kembali menempuh jalur Desa Balla Peu – Kecamatan Balla Barat yang kondisi jalannya hancur-hancuran. Saya kembali terpontang-panting dan terombang-ambing dalam kondisi jalan yang sedemikian. Tak lama, jalanan menurun menukik tajam dan sampailah saya di PLTMH Sariayo, lokasi pekuburan Tedong-Tedong yang mencuat di atas tebing diantara sawah-sawah. Setting pekuburan ini jelas dramatis. Terletak di tengah-tengah hutan, diantara sawah-sawah, dilatari pegunungan, dan sebuah rumah berbentuk Banua bertengger di atas sebuah bukit. Bapak penjaga kompleks Tedong-Tedong ini tidak berada di tempat namun ada di rumah di dekat kompleks ini. Bapak ojek yang saya sewa sampai harus mendatangi rumahnya untuk meminta beliau membukakan kunci.
Kurangnya kunjungan turis menjadikan bapak ini sering kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Agak berbeda dengan objek wisata lain di Mamasa, Tedong-Tedong ini sudah cukup umum dijadikan tempat wisata (walau dengan papan petunjuk informasi seadanya dan kondisi jalan yang cukup buruk, sebenarnya). Tedong-Tedong ini memiliki pintu pagar yang dikunci, bapak penjaga, dan buku tamu. Sudah pantaslah Tedong-Tedong ini disebut sebagai objek wisata. Dalam buku tamu tersebut, saya melihat, terkadang terdapat sejumlah kunjungan wisatawan (didominasi oleh wisatawan asing dan anak sekolah) yang berkunjung ke tempat ini. Beberapa nama pejabat daerah (misalnya : Bapak Obed Nego) juga sempat mengunjungi tempat ini. Semua terlihat di buku tamu yang disediakan.
Bangunan rumah Tedong-Tedong ini mengadopsi bentuk Banua Longkarrin, bentuk Banua yang bagian dasarnya berupa alas bambu yang langsung menyentuh tanah. Hanya saja, bagian tengah kompleks Tedong-Tedong ini tidak tertutup dinding. Isi dalamnya bisa terlihat jelas. Dari gapura masuk Tedong-Tedong ini, rangkaian peti mati berbentuk tedong (kerbau) tampak jelas terlihat dijejerkan di dalam kolong Banua. Beberapa tedong berukuran sangat besar dan beberapa lainnya berukuran standard. Beberapa peti mati lainnya tidak berbentuk tedong namun gilig saja, tanpa kepala. Sekujur bagian Tedong-Tedong ini diukir dengan ukiran yang mirip dengan ukiran yang terdapat di dinding Banua, hanya tidak diwarnai.

Usia Tedong-Tedong ini dipastikan sudah ratusan tahun namun tidak ada yang bisa memastikan persis usianya. Sang kakek penjaga berkata bahwa Kakek buyut sang kakek penjaga pernah mengatakan bahwa Tedong-Tedong ini sudah ada ketika kakek buyutnya masih muda. Artinya, Tedong-Tedong ini sudah ada semenjak ratusan tahun lalu. Kalau dipikir secara logis, wajar saja Tedong-Tedong ini berasal dari ratusan tahun lampau. Bahan baku pembuatan satu buah Tedong-Tedong adalah satu buah Pohon Uru yang berukuran besar (Diameter beberapa meter). Pohon Uru tersebut dibolongi dengan teknologi pada masa itu dan diisi dengan mayat-mayat manusia. Pohon ini biasanya didapatkan jauh di tengah hutan. Wajar jika ukurannya sangat besar. Masa kini, sangat sukar ditemukan Pohon Uru yang sebesar ini. Satu Tedong-Tedong sendiri biasanya diisi oleh beberapa mayat yang masih satu keluarga. Jadi, wajar sekali apabila saat kita membuka tutup Tedong-Tedong, ratusan tengkorak dan tulang belulang akan bergelimpangan di dalamnya. Saat ini, hampir tidak ada lagi masyarakat yang menguburkan mayat keluarganya dengan cara ini. Oleh karena itu, tidak tercium bau busuk atau amis di lokasi Tedong-Tedong ini lantaran tidak ada mayat baru dalam waktu dekat. Bagian atas tutup Tedong-Tedong pun sudah hancur beberapa bagiannya. Tampak sejumlah tengkorak mengintip dengan tatapan kosong dari dalam lubang yang menganga tersebut. Supir ojek yang membawa saya bahkan nekad membuka tutup Tedong-Tedong dan mengeluarkan salah satu tengkorak untuk diperlihatkan kepada saya. Entah diperbolehkan atau tidak tapi bahkan bapak penjaga mempersilahkan hal itu. Jujur saja, saya sich nggak berani sampai melakukan itu. Takut kualat! Hehehe...



Saya bahkan melihat sejumlah rokok dan daun sirih diletakkan di bagian belakang Tedong-Tedong tersebut. Hmm...kalau Tedong-Tedong ini sudah berusia ratusan tahun, mengapa masih memberikan sesajian untuk para mayat ini? Artinya, Tedong-Tedong ini masih bertuah donk? Waduh, saya nggak sempat menanyakan hal itu karena teringat akan supir ojek yang membuka-buka tutup Tedong-Tedong tersebut. Seram! Terletak di ketinggian, kompleks Tedong-Tedong ini sangat terbuka dari angin dan berbagai serangga liar. Saya banyak menemukan laba-laba unik, serangga ranting dan kaki seribu ukuran ekstra besar di tempat ini. Beberapa Tedong-Tedong juga tampak ditumbuhi jamur pada bagian pangkalnya. Jelas, secara keseluruhan, kompleks ini tidak begitu terawat. Sayang sekali. Hiasan kepala Tedong pada bagian belakang dan depan Banua tampak dililit oleh jaring laba-laba yang cukup tebal. Tidak ada objek lain yang bisa dinikmati selain deretan Tedong-Tedong dan cerita di bapak penjaga itu. Seandainya semuanya diasjikan dalam satu papan informasi yang ditempatkan di sekeliling situs, haruslah lebih menarik lagi yach? Saya segera menyudahi kunjungan di Tedong-Tedong ini lantaran sudah cukup siang. Walaupun tidak ada loket tiket, saya membayar a la kadarnya untuk bapak penjaga Tedong-Tedong, sesuai dengan amanat bapak supir ojek. Syukur saya berharap, ini bisa memotivasi bapak penjaga ini untuk menjaga, merawat, dan melakukan yang terbaik bagi Tedong-Tedong, peninggalan kebudayaan Mamasa yang masih bertahan ini. Saya banyak berterima kasih kepada bapak ini karena beliau banyak memberikan informasi dan bisa menjawab ketika ditanya. Tak lupa, saya menyematkan nama saya di buku tamu sebagai tanda saya pernah berkunjung ke tempat ini. kalau anda berkunjung ke Tedong-Tedong Sariayo ini, siapa tahu anda bertemu dengan tandatangan saya disitu. Telah bersertifikasi Indahnesia. Hahahaha. Segera, saya menuruni tangga Tedong-Tedong dan menuju ke motor. Saya berjumpa dengan segerombolan warga lokal yang mengamati saya dengan ajaib. Lagi-lagi, tampaknya kehadiran turis adalah sesuatu yang tidak lazim terjadi di tempat ini. Tidak mau berpusing dengan hal tersebut, saya berpamitan kepada sang bapak penjaga dan melaju kembali ke jalan raya.

0 komentar:

Post a Comment