Menatap Tau-Tau Di Lemo

Ini dia salah satu dari sekian tempat wisata yang paling terkenal di Tana Toraja. Dinamakan Lemo karena memang kuburan yang menjadi objek wisata ini terletak di Desa Lemo. Lemo ini diklaim sebagai salah satu tempat wisata yang paling rapih dan kuburan yang paling terawat di seluruh wilayah Tana Toraja. Lokasi Lemo cenderung mudah dicapai, terletak di ruas Makale – Rantepao. Dari Makale, Lemo dapat dicapai dalam waktu sekitar 10-15 menit saja. Lemo terletak di sebelah kanan ruas jalan. Papan petunjuk bertuliskan “Lemo” pun terpampang jelas di pinggir jalan, seharusnya anda tidak melewatkannya. Kalau pertama kali datang ke Tana Toraja, Lemo adalah sesuatu yang wajib anda kunjungi. Disinilah anda akan melihat kuburan di dinding batu cadas yang masih rapih terawat.
Di Lemo sendiri, terdapat dua objek wisata unggulan, kuburan batu dan rumah adat Toraja. Dari mulut gang (saya menyebutnya gang), Lemo berjarak kurang lebih 800 meter masuk ke dalam. Jalanan kecil ini sebenarnya bisa dimasuki mobil (mungkin bus juga bisa kali yach?), sayangnya, kondisinya rusak parah. Hampir seluruh bagian jalanan terdiri atas batu dan bebatuan kasar. Saya sampai takut kalau-kalau motor yang saya kendarai kenapa-napa lantaran menerjang bebatuan ini. Uniknya, rusaknya jalanan di Lemo tidak terlalu parah dibandingkan Tiilanga’ dan Londa (yang notabene jauh lebih parah). Anda nggak perlu heran kalau lokasi masuk objek wisata Lemo ini berupa gang yang berada diantara rumah penduduk. Memang, disinilah pintu masuknya. Setelah 800 meteran, anda akan menjumpai sebuah lapangan yang cukup besar diantara rumah adat Toraja yang bisa digunakan untuk parkir kendaraan (hingga bus berukuran sedang).
Siang itu, waktu kedatangan saya, Lemo sangat sepi. Tidak tampak adanya pengunjung lain selain saya. Serem juga sich. Tapi di kios-kios souvenir yang berjejer, tampak serombongan mbak-mbak sedang mengobrol. Saya disambut oleh kios penjualan tiket yang terbangun seadanya dan tampak kosong. Berhubung kosong, mau bagaimana lagi? Ya saya lewatkan saja kios tiket tersebut. Saya masuk ke lapangan parkir yang dipenuhi dengan sejumlah rumah adat Toraja, Tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat Toraja dengan bentuk atap melengkung serta bagian tubuh dipenuhi corak ukir Toraja. Tongkonan di Lemo ini bentuknya tampak agak ‘berat’ dibandingkan Tongkonan lain yang sebelumnya saya lihat. Walaupun tampak sebagai rumah tinggal, namun saya tidak melihat seorang pun tinggal disana. Beberapa bagian dari Tongkonan tersebut sudah lapuk dan rusak termakan cuaca dan usia. Bagian atapnya sendiri sudah dipenuhi oleh ilalang. Mungkin bahan pembentuk atap Tongkonan adalah sejenis tanah atau bagaimana yach sehingga bisa dijadikan media bertumbuh tanaman-tanaman tersebut? Tak jauh dari deretan Tongkonan tersebut, ada sejumlah tanduk kerbau yang sedang dijemur dan diterbangi lalat. Maaf saja, baunya bukan main. Tampaknya ini adalah kegiatan pengeringan tanduk yang nanti ke depannya akan dipasang di tiang utama rumah. Makin banyak jumlah tanduk kerbau, semakin tinggilah status keluarga tersebut, begitu pandangan Orang Toraja. Maklum, kerbau adalah hewan yang sangat bernilai ekonomis dan berstatus tinggi dalam kebudayaan Toraja.
Melewati Tongkonan dan deretan toko souvenir yang memanggil-manggil saya, saya akhirnya menyaksikan Kuburan Lemo. Nun (tidak terlalu) jauh disana, diantara sawah-sawah dan menempel di bebatuan dinding cadas. Kalau anda pernah melihat foto-foto Tana Toraja mungkin salah satunya adalah pemandangan dari Desa Lemo ini. Nggak heran, kompleks pekuburannya diklaim masih tertata dengan baik membuat Lemo sering nampang dimana-mana, termasuk mungkin kartu pos yang anda kirim ke rekan saudara anda. Untuk menuju Kuburan Lemo, anda harus berjalan menyusuri jalanan berbatu yang menghubungkan toko-toko souvenir dengan kuburan batu tersebut. Ya, dari jarak sejauh ini, saya masih melihat kompleks pekuburan tersebut masih tertata dengan rapih.
Yang unik dari Lemo adalah kuburan batu yang ditanam ke dalam dinding batu cadas. Tentu, kuburan tersebut telah terisi mayat orang yang meninggal. Pintu-pintu yang berukir ukiran khas atau bolong biasa merupakan lokasi penanaman mayat. Sebagai representatif orang yang meninggal tersebut, dibuatlah Tau-Tau dari pohon nangka atau boneka kayu yang berdiri di balkon dan memandang ke arah desa, kediaman generasi penerus dengan maksud memandangi dan melindungi anak dan cucuNya. Jumlah Tau-Tau tersebut cukup banyak, merepresentasikan jumlah mayat yang sudah terkubur di dalam dinding batu. Mayat orang yang meninggal pun dimasukkan ke dalam dinding batu tersebut dengan keterampilan khusus. Apabila upacara kematian digelar, tangga pun disusun di pinggir dinding untuk memasukkan mayat ke dalam dinding batu yang terletak cukup tinggi. Selain merupakan penghormatan bagi yang meninggal, peletakkan mayat dalam lokasi yang cukup tinggi tersebut berguna agar mayat tidak dijarah. Penjarahan kuburan di Toraja pernah ramai beberapa waktu yang lalu sehubungan dengan kebiasaan Orang toraja meletakkan benda-benda berharga milik yang meninggal ke dalam kuburan batunya. Benda-benda yang ikut ditaruh antara lain cincin, gelang, kalung yang umumnya terbuat dari emas dan memiliki nilai ekonomis. Nggak heran, pencurian menjadi marak. Akibatnya, sejumlah kuburan disegel atau perhiasan-perhiasan tersebut diamankan oleh pihak keluarga. Hingga kini, masih banyak keturunan dari keluarga yang sudah biasa memakamkan keluarganya di Lemo, menggunakan area ini sebagai pekuburan keluarga. Pada saat kunjungan, masih banyak sejumlah bebungaan maupun baliho bunga yang masih segar terpampang di tempat ini. Mungkin upacara kematian berlangsung tidak terlalu lama sebelumnya.
Upacara kematian di Toraja memang tidak bisa dikatakan murah dan mudah. Apabila tidak memungkinkan, upacara bisa saja digelar bertahun-tahun kemudian ketika sang generasi penerus telah memiliki dana yang memadai untuk membayar biaya upacara kematian. Kini, secara umum tidak semua warga Toraja melakukan tradisi ini. Umumnya, kalangan berpunyalah yang masih meneruskan aktifitas ini hingga sekarang. Wajar saja, mengingat upacara membutuhkan penyembelihan kerbau dan lain-lainnya seperti melakukan kenduri, tidak semua orang mampu untuk melakukannya.
Memang, sepinya tempat ini sedikit banyak bisa menimbulkan suasana kurang menyenangkan. Apalagi saya terpikir bahwa saya sedang berada di pekuburan. Walau berstatus objek wisata, namun secara hakiki, lokasi ini adalah pekuburan. Cukup membuat jiper nyali saya juga sich. Untungnya, nggak beberapa lama kemudian, datanglah segerombolan wisatawan asing berkamera DSLR yang memenuhi bagian bawah dinding batu untuk berfoto-foto. Suasana menjadi ramai dan tidak terlalu menyeramkan seperti saat sebelumnya.

2 komentar:

  1. Salam kenal juga bro! tterima kasih sudah menyempatkan waktu berkunjung :D

    ReplyDelete