Tidur Hemat Di Bira Bersama Nini's Guest House

Sebenarnya, saya tadinya masih ragu, mau menginap di Tanjung Bira atau tidak. Pada awalnya, saya malah berniat sesampainya di Tanjung Bira, saya bermain sebentar kemudian langsung pulang. Sayangnya, niat saya nggak berjalan mulus. Saya tiba di Tanjung Bira pada pukul 5 sore. Jelas, nggak mungkin lagi ada kendaraan yang akan mengangkut saya kembali ke Bulukumba sesore itu. Masak iya saya nekad balik lagi ke kota setelah semua perjuangan yang saya alami untuk mencapai Bira? Akhirnya, saya memutuskan untuk menginap saja di Tanjung Bira. Pertimbangan lain mengapa saya tidak memutuskan untuk menginap di Bira adalah tidak adanya refrensi akomodasi sama sekali. Ada sejumlah penginapan yang direferensikan berikut nomor teleponnya, tapi anehnya semuanya tidak dapat dihubungi sama sekali. Bahkan ada satu nomor yang saya hubungi malah diangkat oleh seseorang di Bulukumba. Entah, mungkin sambungan telepon tidak sampai di tempat ini kali yach? Walau demikian, penginapan di Tanjung Bira berserakan sepanjang pantai. Menurut info yang saya dapat, tidak susah mencari penginapan di tempat ini. Ya sudah, saya coba nekad saja dech mencari penginapan.
Pencarian saya mulai dari penginapan yang paling gampang, posisinya paling dekat pantai. Sayangnya, bungalow yang berada di tepi pantai harganya tidak masuk dengan anggaran saya, Rp. 300.000 satu malam! Hahaha...saya nyari yang harganya bersahabat untuk satu orang, yang penting bisa tidur dech. Pencarian saya menuai hasil ketika bertanya dimana lokasi penginapan yang murah berada. Kata seorang mbak di sebuah warung, ada penginapan murah yang terletak agak masuk sebuah gang. Nggak terlalu jauh dari sisi pantai (sekitar 200 meteran dech), saya menemukan Nini’s Guest House, penginapan dengan arsitektur panggung dan terletak di atas bukit. Bangunan bercat kuning ini bahkan satu-satunya penginapan yang terletak di atas bukit di Tanjung Bira. Ngga ada lagi penginapan yang lebih tinggi daripada Nini’s Guest House. Sayangnya, perjalanan menuju atas juga nggak mudah. Lumayan juga kalau bolak balik terus-terusan, bikin ngos-ngosan. Parahnya kalau malam hari, jalanan masuk menuju Guest House sama sekali nggak ada penerangan, gelap. Nekad aja jalan cepet-cepet kalau mau ke depan, tanpa melihat kanan kiri. Gelap banget soalnya. Haha...Sore itu, saya disambut oleh seorang pelayan rumah tangga, seorang bapak yang sedang merawat bebungaan di halaman Nini’s Guest House. Bapak tersebut segera memanggilkan pemilik penginapan yang, terkejutnya saya, seorang perempuan, muda dan bergaya modern lengkap dengan kaus you-can-see dan hot pants. Wow. Perempuan muda ini tampaknya sedang online di notebooknya, membuka facebook dan mendengarkan ipod. Keren juga pemilik penginapannya. Hehe..Dialah Nini, pemilik penginapan ini. Nini menawarkan sebuah kamar seharga Rp. 85.000 yang segera saya terima dengan fasilitas tempat tidur twin, kamar mandi luar, kipas angin, dan sarapan pagi. Kamarnya sendiri adalah kamar yang total terbuat dari kayu, bukan sekedar parquette saja loch. Mungkin karena wilayah pantai yang berpasir kali yach? Biar gampang ngebersihinnya, pakai kayu saja gitu kali yach? Kamarnya sendiri cukup nyaman. Walaupun ngga ada AC tapi saya masih bisa tidur dengan nyenyak di kamar itu.
Nini’s Guest House hanya berisi sekitar 6 kamar saja kalau saya nggak salah hitung yach. Kamarnya itu terletak di bagian atas panggung rumah di atas bukit tersebut. Untuk menuju kamar, kita harus naik tangga satu tingkat. Ada tiga buah kamar di kiri dan 3 buah kamar di deret kanan. Di ujung lorong, ada dua buah kamar mandi. Penghuni kamar-kamar tersebut kebanyakan adalah turis asing, saya berpapasan dengan mereka beberapa kali saat keluar/masuk kamar. Rasanya, hanya saya saja tamu lokal yang ada di penginapan ini. Di depan lorong, ada dua buah bangku bale-bale yang bisa digunakan untuk bersantai. Bangku bale-bale ini diberi banyak sekali bantal-bantal berimpel. Pemandangan Pua Janggo dan Pantai Tanjung Bira terlihat cukup jelas dari kursi bale-bale tempat duduk ini. Bagian bawah kamar berupa ruang makan dan kantor resepsionis yang juga merupakan tempat tinggal Nini. Sarapan pagi dilakukan di tempat ini dengan menu cukup komplit menurut saya, dua buah roti panggang, satu telur mata sapi, semangka besar dan pilihan kopi atau teh. Penawaran yang menyenangkan untuk harga Rp. 85.000.
Sayangnya, saya baru mengetahui belakangan bahwa Nini bisa membantu saya mencarikan kijang yang akan membawa saya kembali ke Makassar. Saya bisa digabungkan dengan rombongan turis lain yang akan pulang ke Makassar pagi itu, sekitar pukul 9 pagi. Sayangnya, saya keburu heboh duluan dengan mencari angkot yang akan membawa saya ke Tanaberru pagi-pagi sekali. Akhirnya, saya harus naik angkot ke Tanaberru dan baru berganti kijang disana. Memang, banyak pete-pete menunggu penumpang di Bira pagi-pagi sekali, anda bisa memilih mereka kalau anda tidak terburu-buru dalam perjalanan.
Oh yah, untuk anda yang beberapa tahun lalu pernah berkunjung ke Tanjung Bira, pasti mengingat tempat ini dengan nama Riswan Guest House. Kini, Riswan Guest House sudah berpindah sekitar seratus meter menjauhi arah pantai dari Nini’s Guest House. Penginapan ini sudah berpindah tangan dari Riswan ke Nini beberapa tahun lalu. Banyak hal menyenangkan terjadi di Nini’s Guest House, sebenarnya. Harga murah, sarapan pagi dan keramahan staffnya menjadi salah satu yang membuat saya terkenang. Selain itu, ada bagian dinding dari lorong kamar yang dicat dengan warna-warni dan bercorak festival Afrika atau Brazil. Unik. Bagi anda yang berkunjung ke Tanjung Bira dan berminat untuk menginap, boleh banget mencoba Nini’s Guest House. Untuk memastikan agar anda mendapatkan kamar di musim kunjungan, coba dech telepon dahulu Nini di 081355415379 atau ninibone@hotmail.com.

5 komentar:

  1. Sebagai orang Bulukumba, saya sangat gembira mendapati tulisan dan foto2 anda di blog ini. Maafkan dan izinkan saya memuat ulang ke blog saya dgn alamat http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/2010/12/tidur-hemat-di-bira-bersama-ninis-guest.html, trims

    ReplyDelete
  2. Terima Kasih atas pemuatan ulang tulisan saya. Kiranya berkenan dalam mempromosikan keindahan Bulukumba :)

    ReplyDelete
  3. si nini itu bisa nyewain perahu untuk ke spot snorkling gak ka?
    disana ada tempat sewa snorkling juga kan yah??

    terima kasih :)

    ReplyDelete
  4. si nini itu bisa nyewain perahu untuk ke spot snorkling gak ka?
    disana ada tempat sewa snorkling juga kan yah??

    terima kasih :)

    ReplyDelete
  5. kayaknya kalau mau snorkeling harus ke Lihukan Betang kali yach...sekitar Bira sih bagus, tapi dangkal, jadi nggak bisa snorkel ya...

    terima kasih kembali :)

    ReplyDelete