Souvenir Toraja Khas Lemo

Ada satu hal yang nggak boleh terlupa kalau anda mengunjungi tempat wisata di Tana Toraja. Sudah umum khan, biasanya tempat wisata tuh dipenuhi dengan pedagang aksesoris dan souvenir? Nah, nggak beda jauh dengan tempat wisata di Tana Toraja, tempat wisata rata-rata memiliki satu atau banyak tempat penjualan souvenir. Lemo pun tak lepas dari kenyataan ini. Bahkan menurut saya, Lemo adalah salah satu tempat wisata yang memiliki stand penjualan souvenir terbaik, terlengkap dan terapih diantara tempat-tempat wisata lainnya di Tana Toraja.
Untuk menuju Kubur Batu Lemo, mau nggak mau anda harus melewati deretan toko souvenir dahulu. Deretan toko souvenir ini cukup panjang dan buat saya, ini bisa menjadi suatu objek wisata tersendiri selain kubur batu. Souvenir yang dijual beraneka macam dan unik-unik. Hampir semuanya menjual benda ragam khas Tana Toraja mulai dari yang ‘biasa’ banget seperti kaus dengan tulisan Toraja, hingga Sarung Toraja, Tenun Ikat Toraja, tas dengan motif Toraja, baju perang, Tau-Tau ukuran telapak tangan hingga yang sebesar manusia dengan mimik yang sangat real, kalung dan aksesori, ukir-ukiran hingga miniatur Tongkonan dan topeng-topeng yang agak menyeramkan buat saya serta patung-patung yang entah masih masuk dalam kategori Tau-Tau atau tidak. Dijamin, semua koleksi yang dijual disini tidak akan dapat dengan mudah anda temukan di tempat lain (maksudnya di luar Tana Toraja). Biar nggak menyesal, mendingan beli kalau perlu sekalian borong dech disini.
Tau adalah manusia yang hidup, yakni kita-kita ini. Sementara itu, Tau-Tau yang saya sebut tadi adalah boneka yang merupakan representasi orang yang meninggal. Tau-Tau berbahan dasar kayu pohon nangka. Umumnya, Tau-Tau dibuat dalam rupa yang enigmatik, seadanya, berwajah kosong, tatapan lurus ke dapan, dengan tangan menekuk keras ke depan. Namun, ke belakang, Tau-Tau banyak yang dibuat dalam berbagai versi, mulai dari yang kecil sebesar telapak tangan (umumnya berpasangan antara patung kakek dan nenek) hingga berukuran besar, sebesar manusia nyata itu sendiri pada waktu hidup. Tau-Tau yang ini dibuat bahkan hingga mengikuti rupa manusia tersebut pada waktu masih hidup, termasuk gurat wajah dan senyumannya sehingga kadang-kadang saya sampai takut sendiri menatap wajah Tau-Tau yang memiliki berbagai macam ekspresi. Ada lagi jenis Tau-Tau yang lain. Ini jenis yang saya tidak terlalu yakin apakah masih bernama Tau-Tau atau tidak. Jenis Tau-Tau yang ini berbentuk sangat jauh dari rupa manusia. Bahkan, untuk yang sering menonton film alien dan makhluk angkasa luar, rupa Tau-Tau ini mirip dengan makhluk luar angkasa tersebut. Dengan mata besar tanpa pupil, telinga lancip, tubuh gilig, dan bentuk badan yang tidak proporsional, rupa Tau-Tau ini mirip dengan alien yang kita kenal. Model Tau-Tau lainnya lagi mirip dengan patung-patung besar yang ada di Lembah Bada, Napu dan Besoa di dataran Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Beberapa lainnya malah mirip dengan ukiran representasi manusia di dinding Menhir di Waingapu, Pulau Sumba. Mungkin juga ini model representasi manusia jaman purba dalam bentuk ukir-ukiran kali yach?
Souvenir unik lainnya yang khas Sulawesi Selatan dan Tana Toraja adalah miniatur Tongkonan. Hebatnya (saya sangat salut!) mereka mampu membuat miniatur Tongkonan dengan sangat nyata bahkan hingga ke susunan atapnya. Untuk membuat Tongkonan yang besar mungkin tidak terlalu masalah bagi warga Tana Toraja, namun Tongkonan kecil pastinya membutuhkan kemampuan khusus untuk merakitnya. Saya sendiri tidak sampai membelinya karena yakin akan repot membawanya agar tidak hancur berantakan. Oh yah, Tongkonan itu adalah rumah adat Tana Toraja dengan atap melengkung seperti kapal. Oleh-oleh serupa dengan Tongkonan adalah ukiran Toraja dalam bentuk pigura yang dapat dipajang langsung tanpa harus membeli piguranya lagi. Ukir-ukiran ini hadir dalam berbagai bentuk misalnya di kulit toples, kotak kopi, tempat tisu hingga kotak penyimpanan yang berukuran besar. Namun, ukir-ukiran ini umumnya digunakan untuk menghias permukaan Tongkonan. Jenis ukir-ukiran ada puluhan macam dan warnanya kebanyakan hitam, putih, kuning dan merah. Beberapa diantaranya adalah Pa’ erong yang menggambarkan peti mati dan Pa’ tedong yang merepresentasikan kerbau.
Terakhir, adalah jenis souvenir yang paling gampang dibawa yakni kain-kainan. Kain disini termasuk baju kaos yang bergambar Toraja. Kaosnya murah-murah, sekitar Rp. 35.000 hingga Rp. 50.000 sudah bisa dapat satu potong. Saya sendiri lebih tertarik akan sarung Toraja dan Tenun Ikat Toraja. Sarung Toraja banyak digunakan warga setempat untuk menghalau dingin. Sarungnya padahal tipis, gak tebel-tebel amat loch, tapi ampuh dalam mengusir hawa dingin. Sementara itu, Tenun Ikat Toraja adalah benda yang sangat autentik Toraja karena umumnya dipakai dalam acara adat dan tari-tarian. Harga sarungnya Rp. 30.000 dan tenun ikatnya Rp. 60.000. Kalau ingin memberi hadiah yang berkesan mahal dan berkelas, kain tampaknya menjadi pilihan yang paling tepat.
Yang menyenangkan dari tempat wisata Lemo adalah para pedagangnya tidak terlalu memaksa. Saya bahkan dipersilahkan untuk bolak-balik kesana kemari melihat-lihat. Mereka (para mbak-mbak ini) duduk-duduk santai di depan toko ataupun bergerombol dekat sebuah Tongkonan besar yang ada di tengah-tengah pelataran toko souvenir sambil mengobrol. Cueknya para mbak-mbak ini memang menyenangkan, kita bisa masuk toko mereka, melihat dan memegang barang-barang yang dipajang tanpa diikuti kesana kemari. Kalau tertarik untuk menawar, baru dech panggil si mbak untuk memulai transaksi. Dalam usaha membantu pengrajin kecil dan menengah, sangat direkomendasikan loh untuk berbelanja di toko-toko ini agar ‘mereka’ tetap hidup.

1 komentar:

  1. sungguh indah yahh
    yang mau sovenir lain berupa parang toraja boleh kunjungi blog kami di http://souvenirtoraja.blogspot.com/2012/10/parang-toraja.html

    ReplyDelete