Merasakan Kebesaran Tuhan YME di Taman Panorama Bukittinggi

Pernah denger Ngarai Sianouk? Wuih, kalau anda pencinta travel wilayah Indonesia, pastinya pernah mendengar wilayah ini. Lokasi ini adalah salah satu lokasi wisata andalan Bukittinggi, Sumatera Barat. Apabila anda berkunjung ke wilayah ini dan tidak mengunjungi Ngarai ini, selain jam gadang, maka dapat dikatakan anda belum ke Bukittinggi. Begitu mungkin tag yang ada.

Menurut info dari salah seorang rekan kami, Hendra, Ngarai ini dapat dinikmati lewat dua cara yakni lewat atas atau lewat bawah. Lewat bawah, tidak begitu banyak pemandangan yang dapat dilihat karena justru menariknya Ngarai ini berada pada bagian atasnya. Nah, di bagian atas Ngarai ini terdapat salah satu objek wisata dimana kita dapat melihat Ngarai ini secara keseluruhan dengan lebih leluasa. Taman Panorama namanya. Terletak di ketinggian Bukittinggi, dekat dengan area medikal di wilayah ini, taman ini memungkinkan kita untuk menyaksikan kebesaran Tuhan Yang Maha esa dalam membangun muka bumi ini.

Sayangnya, siang itu Bukittinggi sedang dilanda hujan deras. Hujan pun turun lebih deras lagi ketika kami sampai di Taman Panorama ini. Terlebih karena hujan, kabut pun menutupi wilayah ini, sehingga kami mendapat dua efek sekaligus : Ngarai tidak dapat terlihat dengan jelas (hanya sebagian saja) dan kami merasakan dingin yang sangat dingin sekali (gue pikir bakalan panas karena Padang adalah salah satu kota di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa).

Alhasil, untuk menutupi kekecewaan kami, sambil menunggu hujan berhenti, kami memasuki Lobang jepang, salah satu objek wisata andalan di Taman ini selain pemandangan Ngarai Sihanouk tersebut. Setelah berteduh cukup lama di gazebo-gazebo yang menghiasi taman ini, kami memasuki Lobang jepang yang sudah tertata cukup rapi di tengah-tengah taman ini. Untung saja, sistem drainase Lobang jepang ini cukup baik sehingga air hujan tidak masuk ke Lobang Jepang dan menggenangi dasar lubang, namun terbuang ke dalam saluran drainase yang ada.

Lobang jepang sendiri adalah lokasi penyimpanan senjata rahasia Jepang ketika masa pendudukan Jepang 1942 – 1945 dahulu. Seperti pada umumnya gua yang berfungsi sebagai bunker, lobang jepang ini memiliki banyak sekali lorong dan lokasi persembunyian. Beberapa tempat pernah dijadikan penjara dan lokasi penyekapan para romusha dan tahanan perang Jepang. Beberapa bagian goa masih memiliki rel kereta bekas lori (kereta tambang) dan celah untuk meletakkan obor (jaman dahulu belum ada listrik).

Jalan masuk wilayah ini berupa tangga yang terus menurun ke bawah sebanyak 133 anak tangga (konon, anak tangga turun dan naik tidak sama ketika dihitung-anak tangga naik ada 132 buah). Lokasi di dalam cukup kedap suara sehingga air hujan dan keramaian di atas tidak sampai terdengar masuk ke dalam goa. Penerangan di goa ini pun sudah dibuat cukup baik sehingga pengunjung tidak akan merasa terlalu takut untuk masuk ke dalam goa ini.

Pernah ke Goa Jepang di Maribaya, Dago Pakar, Bandung? Jangan bandingkan lokasi ini dengan goa itu, walaupun sama-sama Goa Jepang, namun lokasi ini tampaknya lebih tertata dengan baik. Hal ini terlihat dengan beragam fasilitas yang sudah menghiasi goa ini, mulai dari pengecoran dinding goa, direnovasinya beberapa sudut goa, pembangunan teater mini, diorama, bahkan kafe! Sayangnya pula, pembangunan ini apabila dilihat dari sudut yang lain akan menghilangkan keautentikan goa Jepang ini.

Goa ini dahulu digunakan sebagai lokasi persembunyian Jepang dan tempat memasok senjata. Beberapa lokasi penjara yang ada digunakan untuk menampung para budak jajahan dan para penyuplai bahan makanan dan senjata. Konon, para romusha dipekerjakan di tempat ini dan tempat kediamannnya dibiarkan bersesak-sesakan pada satu lubang. Ketika ada Romusha yang tidak sanggup lagi bekerja, maka mereka akn diseret ke dapur, bukan untuk dijadikan koki, namun untuk dibantai atau dibakar dan kemudian sisanya akan dibuang ke sebuah lubang yang langsung menuju Ngarai dengan kedalaman sejauh 70 m. Hal serupa juga terjadi pada para petani yang hasil buminya dirampas untuk dijadikan bahan makanan karena lokasi ini dikategorikan sebagai lokasi rahasia persembunyian Jepang. Begitupun dengan para pengantar pesan atau pembawa senjata. Demi menjaga kerahasiaan lokasi ini, semua orang-orang tersebut dibantai setelah tugas mereka dijalankan. Hal serupa juga terjadi pada tentara-tentara Jepang yang tidak tahan melihat kekalahan jepang. Mereka semua melakukan bunuh diri massal pada pertengahan 1945, ketiak mengetahui bahwa Jepang kalah dalam perang. Itulah katika lokasi ini dibuka pada tahun 1980-an, banyak ditemukan berbagai benda peninggalan penjajahan yang disimpan dengan rapih di museum di atas Taman Panorama ini, termasuk terkorak-tengkorak Romusha dan Tentara Jepang. Bukan tempat yang menyenangkan sebenarnya apabila kita mengunjungi lokasi ini seorang diri. Menyeramkan.

Bebrapa lokasi sudah ditutup untuk umum seperti lobang pelolosan diri, dan penjara ujung karena tidak adanya sirkulasi udara atau karena adanya gas beracun yang keluar dari wilayah tersebut. Longsor pun menjadi ancaman untuk beberapa wilayah yang tidak dapat dikunjungi tersebut. Seperti biasa, pada goa umumnya, cerita mistik pun tak luput menghiasi lokasi ini. Lokasi ini pernah dijadikan ajang uji nyali pada acara Dunia Lain yang ditayangkan di TransTV. Beberapa penampakan dan kejadian aneh pun banyak ditemukan di wilayah ini. Sekali lagi saya bilang, ini bukan tempat yang baik untuk dikunjungi, buat anda yang sendiri atau hanya segerombolan orang. Akan lebih baik untuk anda yang mengunjungi tempat ini beramai-ramai dengan rekan –rekan yang pemberani.

Seusai dari goa Jepang, hujan pun telah berhenti dan alam menampilkan keindahan Ngarai Sianouk yang sebenarnya. Ngarai Sianouk benar-benar indah. Gue saat itu juga menyadari, Indonesia harusnya bersyukur dibekali dengan alam yang sedemikian indahnya. Terjepit diantara Ngarai-Ngarai tersebut, terdapatlah sebuah sungai yang mengalir di tengah-tengahnya. Sayangnya, menurut teman-temanku yang orang Padang, agak mustahil untuk menyusuri wilayah bawah Ngarai karena tidak lazim untuk disusuri.

Selepas kunjungan ke Lobang Jepang dan melihat indahnya panorama Ngarai, anda bisa melanjutkan perjalanan ke Monumen 17 Agustus. Walaupun hanya menoumen kecil, yang jelas, anda bisa berfoto-foto ria di lokasi ini dan melihat isi dari naskah proklamasi yang disematkan persis di bawah menara tersebut.

Seperti lokasi wisata pada umumnya, lokasi ini juga memiliki sederetan kios penjualan souvenir, mulai dari gantungan kunci, baju, l;ukisan, hingga kerajinan tangan aneka macam. Lokasi ini patut dipertimbangakn sebagai sentar penjualan barang-barang kerajinan karena variasi produk yang ditawarkan cukup banyak dan bervariasi. Bener-bener authentic Bukittinggi dech!

Lebih lanjut lagi, ke arah deretan kios-kios tersebut, anda akan menemui satu lokasi pengamatan Ngarai yang lebih dekat lagi dengan posisi Ngarai. Sayangnya, lokasi ini merupakan tempat hidup sejumlah kera. Akibatnya, kami tidak berani mendekati wilayah ini, hanya bisa memandang dari kejauhan saja karena agak takut dengan kera-kera tersebut (apalagi, ada satu buah kera yang besarrr bangeddd dan berusaha berjalan mendekati kita). Sangat disayangkan, namun apa boleh buat, walaupun tidak sebanyak kera di Alas Kedaton atau Sangeh di Bali, kera dengan jumlah seperti itu sudah membuat kami takut duluan.

Itulah lima poin penting yang bisa didapat dengan anda berjalan-jalan ke Taman Panorama di Bukittinggi. Pokoknya, kalau belum ke Ngarai Sianouk, anda tidak bisa mengatakan bahwa anda sudah pernah ke Bukittinggi. Tempat yang wajib kunjung untuk Bukittinggi, Sumatera Barat!


0 komentar:

Post a Comment